Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 31 Maret 2009

Asal-usul Pasar-pasar di Solo

Pasar Kuno di Solo

Dongeng pasar di Solo sangat unik. Keunikan itu kini hanya ditemukan di Pasar Legi Solo. Bakul-bakul atau pedagang mbok-mbok dari desa, membawa dagangannya dari desa ke Pasar Legi. Jika sekarang semuanya diangkut dengan mobil, andong atau motor, dulu sangat unik.

Mbok-embok itu diiringi beberapa lelaki, berjalan beriring-iringan menggendong hasil buminya. Selalu ada iringan yang membawa obor, sebab mereka berangkat dari desa jam 2 malam. Sehingga dari jauh sudah tampak barisan obor yang berjalan sambil ceriwis, apalagi simbok-simbok ikut ke pasar, biasanya mulut mereka tak bisa diam menambah barisan bakul pagi ini.

Mereka berjalan berbaris satu persatu, tidak ada yang berjejer apalagi bergandengan, meski itu antara suami isteri anak dengan anak-anaknya. Mereka pergi ke pasar dengan baju kebaya seadanya dan kain bawah jaritan. Ada yang menggendong dagangannya, ada yang menjijing dengan keranjang tas, ada pula yang disunggi di atas kepala mereka.

Cara berjalannya pun urut aturan, tidak boleh saling mendahului. Jadi seperti barisan semut, beriringan satu persatu. Jika ada si embok yang kebelet pipis, barisan di belakang menunggu hingga si dia selesai pips. Pipisnya pun juga di sembarang tempat. Caranya hanya menarik jaritnya sedikit ke siku kaki lalu ‘thuuuurr’ tanpa jongkok alias kencing berdiri. Rupanya kebiasaan kencing berdiri ini sudah menjadi keahlian tersendiri para bakul, sehingga kain jarik mereka tidak sampai basah. Hingga sekitar tahun 1980-an, bakul-bakul yang menjajakan dagangannya keliling kampung di daerah kota, masih melakukan kebiasaan ‘kencing berdiri di sembarang tempat’. Keunbikan macam itu kini sudah tidak ada lagi. Simbok bakul juga sudah pada malu kencing berdiri. Hihihihi…

1. Pasar Legi

Saat kerajaan Kartasura pindah ke desa Solo, waktu itu belum ada pasar. Sejalan kian ramai desa Solo sebagai ibukota kerajaan, maka pasar-pasar tradisionalpun berdiri. Pasar yang paling mendapat perhatrian adalah Pasar Gede Harjodaksino. Sebenarnya pasar-pasar sebelumnya sudah ada. Bahkan dulu ada pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Kliwon, Pasar Pahing dan Pasar Legi. Hingga kini pasar Legi, Pasar Kliwon, Psaar Pon masih ada. Menegnng cerita pasar di kota Solo, mari kita simak pasar-pasar tradisional di Solo.

Pasar Legi berada di selatan Mangkunegaran, tepatnya di jalan S Parman. Hingga kini pasar Legi masih menjadi pasar grosir paling murah. Arealnyapun terus meluas. Jika pagi, pedaganganya sudah menggelar hasil bumi sejak pukul 02.00 dinihari hingga di emper-emper jalan sekitar pasar. Pasar Legi juga melayani penjualan hingga 24 jam.

Mengapa disebut Pasar Legi? Selain pasar ini pertama kalinya digelar pada pasaran Legi 5 hari sekali, pasar inipun lebih banyak menggelar dagangan yang bersifat legi atau manis. Misalnya gula jawa, jagung manis, gula aren, gula batu, gula aren hingga minuman legen. Pasar Legi menjadi pust grosir dagangan tradisional dan hasil bumi. Hampir semua hasil bumi dari daerah Surakarta dan sekitarnya masuk di Pasar Legi.


Pasar yang cukup besar di Solo yang masih berada di Kecamatan Banjarsari adalah Pasar Nusukan. Pasar ini pernah terbakar di jaman walikota Slamet Suryanto, lalu langsung dibangun tahun 2004. Tempatnya di kampong Nusukan. Disebut Nusukan karena dulunya banyak pedagang sate yang pekerjaannya menusuk-nusukkan daging untuk disate.


2. Pasar Kadipiro
Pasar Kadipiro juga di dekat Pasar Nusukan. Daerahnya dekat dengan perlimaan Joglo, dekat dengan makam Bonoloyo. Pasar ini berada di kampung Kadipiro. Daerah ini dinamakan Kadipiro karena daerahnya kering, banyak alang-alang berduri. Ketika dibasmi, gatal-gatal di tubuh sangat sakit amat sangat, tak terkira-kira, yang dalam bahasa Jawa ‘koyo dipiloro ra piro-piro’, sehingga daerah ini disebut Kadipiro.


3. Pasar Ngemplak
Pasar di Banjarsari ini tepatnya berada di jalan Achmad Yani dan jalan Panjaitan. Lebih tepat lagi berada di pinggir tanggul Kalianyar. Suasana pasar masih sangat tradisonal. Pasar ini disebut Pasar Ngemplak karena di daerah ini sangt kering. Tanaman juga hanya alang-alang dan tanaman kurang berguna lainnya sehingga sangat panas. Apalagi jika musim kemarau, lahan disini pana luar biasa hingga disebut orang jawa ‘panase ngenthak-enthak emplak. Maka daerah ini disebut Ngemplak dan pasarnya disebut Pasar Ngemplak.


4. Pasar Nggilingan
Pasar ini masih di Kecamatan Banjarsari, teaptnya di jalan Setyabudi dan jalan S Parman. Pasar tradisional ini cukup lengkap. Disebut pasar Gilingan (lebih akrab disebut Pasar ngGilingan) karena berada di kampung Gilingan. Nama kampong Gilingan diambil akrena di daerah itu dulu ada penggilingan beras.


5. Pasar Widuran
Pasar ini berada di jalan Sutanb Syahrir dan jalan Arifin. Pasar ini hanya berjualan burung dan perlengkapan peliharaan burung. Sejak tahun 1985-an Pasar ini dipindah ke Depok. Pasar burung Widuran pindahn dari Pasar burung di Slompretan Klewer. Meski sudah dipindah, tetapi hingga kini masih banyak pedagang yang berjualan bermacam-macam burung dan perlengkapannya. Nama Pasar Widuran diambil dearah itu yang bernama Widuran. Sebenarnya namanya dari bangsawan keraton Solo yang ngetop pada jamannya, Pangeran Widuro.


6. Pasar Kandang Sapi
Di depan Rumah Sakit dr Oen Jebres, tepatnya di jalan Katamso dan jalan Tentara Pelajar, disini ada Pasar yang murah sekali dagangannya. Masih sangat tradisional dengan jajanan kuno. Pasarnya tidak begitu besar, cukup untuk konsumsi penduduk setempat. Disebut pasar Kandang Sapi karena berada di daerah yang bernama Kandang Sapi. Di daerah ini dulunya banyak penduduk yang beternak sapi segala macam. Ada sapi perah, sapi pedaging, susu sapi hingga makanan sapi.


7. Pasar Ledhoksari
Di dekat pasar Kandang Sapi juga ada pasar yang lumayan besar, meski hanya cukup untuk kebutuhan penduduk setempat. Berada di Kecamatan Jebres tepatnya di jalan Urip Sumoharjo, namanya Pasar Ledhoksari. Karena tergusur oleh gedung-gedung tinggi di jalan abesar itu, pasarnya minggu ke kampong di jalan Johanes dan menjadi Pasar Jebres. Jebres berasal dari seorang Belanda bernama Van der Jeep Reic yang bermukim di daerah Jebres dan karena lidah Jawa menjadi Jebres.


8. Pasar Gede
Ini pasar paling besar di Solo. Disebut juga Pasar Gede. Pasar ini didirikan di jaman PB X. Saat awal, para bakulnya masih memakai kebaya dan kain jarit, sedangkan pedagang prianya mengen akan busana Jawa dan blangkon. Setiap hari keraton akan menarik pajak. Pasar ini dibangun oleh arsitek terkenal dari Eropa yang juga membangun Pasar Semarang dan gedung-gedung indah di Bandung. Pasar Gede disebut juga Paar Harjonegara, maksudnya untuk mengenang bangsawan Harjonegara yang memulai mendirikan Pasar Gede. Awalnya Pasar Gede dibangun di tanah titipan yang dihuni Babah China b erpangkat Mayor yang terkenal Babah Mayor. Ia mendirikan warung-warung kecil yang berjejer hingga Warung Miri (kelompok penjual bumbu pawon) dan Warung Pelem (kelompok penjual buah utamanya mangga). Namun setelah dibangun gedung Pasar, warung-warung diminta masuk Pasar Gede hingga sekarang. Pasar Besar ini pernah terbakar habis sekitar tahun 2000 dan kini sudah dibangun lebih megah lagi.


9. Pasar Singosaren
Dulu di Matahari Singosaren ada pasar tradisional bernama Pasar Singosaren. Setelah bakul-bakulnya dialihkan ke Pasar Kadipolo, pasar Singosaren menjadi pertokoan mewah. Berada di jalan Rajiman dan jalan Diponegoro, kini daerah itu merupakan daerah pertokoan paling ramai di Solo. Nama Singosaren diambil dari nama menantu PB X yang bernama Pangeran Singosari.


10. Pasar Kembang
Mungkin hanya ada di kota Solo suatu Pasar yang hanya menjual bunga-bunga setaman. Dalam perkembangannya, pasar ini akhirnya juga menjual kebutuhan pokok dan dapur. Tetpi pasar yang terletak di Jalan Rajimn ini memang khusus menjadi pasar kembang. DUlunya pedagangnya lebih suka berjualan dengan cara berhamburan di sepanjang pinggir jalan Honggowongso. Maklum pembelinya hanya membeli bunga setaman, sehingga malas parkir dan masuk pasar. Rupanya pembangunan gedung pasar tidak sukses karena penjual bunga merasa sepi pembeli. Pasar ini ramai ketika musim sadranan atau nyekar pada bulan Ruwah, Syawal, Sura dan bulan-bulan dimana banyak orang mantu.


11. Pasar Kadipolo
Rasanya pasar Kadipolo berhubungan erat dengan Pasar Kembang. Maklum hanya selangkah di depannya. Pasar Kadipolo dulunya kecil, tetapi sejak bakul-bakul pasar Singosaen dipindah ke pasar Kadipolo, pasar ini mendadak ramai. Sayangnya lahannya teramat sempit. Beberapa tahun bakulnya berhamburan di sepanajang jalan Rajiman. Kini sudah cukup tertip masuk di pasar Kadipolo dan Pasar Kembang. Nama Kadipolo diambil dari perasaan merasa disakiti amat sangat, dimana orang Jawa menyebut ‘koyo dipiloro dipolo’ sehingga menjadi Kadipolo. Kesakitan ini karena penduduk diminta memberi upeti berupa tanah di Kadipiro untuk pembangunan keraton Surakarta. Tanah ini sebelum disebut Kadipolo bernama tanah Talangwangi. Maklum tanah disini berbau wangi sehingga dipilih PB II untuk mengurug rawa-rawa desa Solo yang akan dibangun keraton Solo.


12. Pasar Penumping
Kea rah bvarat dari Pasar Kadipolo, ada Pasar Penumping. Pasarnya tidak begitu besar, cukup untuk kebutuhan penduduk daerah Penumping dan Baron. Nama Penumping diambil dari abdi dalem kerajaan yang berpangkat Nayaka Penumping, sehingga daerah ini disebut Penumping.


13. Pasar Purwosari
Ini pasar yang berda di sebalik jalan Slamet Riyadi, tepatnya di belakang resto Sari. Pasarnya gede banget, ramai banget, tetapi tidak teratur. Pinggir jalan kampong dipenuhi bakul-bakul. Masuk pasar juga sempit, apalagi jika masuk dari pintu jalan Slamet Riyadi. Di dalam pasar lebih sepi dibandingkan yang di luar pasar di sekujur belakang pasar atau di jalan kampung.


14. Pasar Sangkrah
Berada di kampung Sangkrah, tepatnya di jalan Sambas. Pasar ini sangat ramai di pagi hari. Dekat dengan stasiun Sangkrah. Pasar ini hanya cukup untuk melayani penduduk sekitar. Disebut Pasar Sangkrah karena berada di Kalurahan Sangkrah. Nama Sangkrah tidak lepas dari penemuan mayat yang menyangkut (nyangkrah-Jw) di dahan-dahan pohon bamboo di pinggir sungai. Mayat itu oleh Kyai Solo diketahui sebagai Pangeran Pabelan, putera Tumenggung Mayang yang memacari Puteri Sultan Hadiwijaya jaman tahun 1578-an. Meski pasar ini kecil tetapi cukup komplit plit.


15. Pasar Kliwon
Pasar ini berada jalan Mulyadi. Kini jualannya komplit untuk segala kebutuhan dapur dan rumah tangga. Padahal awalnya, pasar ini hanya menjadi trasitnya pedagang kambing. Setiap pasaran Kliwon, pasar ini sangat ramai, sehingga disebut Pasar Kliwon. Nama Pasar Kliwon menjadi nama Kalurahan dan sekaligus nama kecamatan. Adapun pasar kambing dialihkan ke Silir, bersamaan dengan pasar ayam dan bebek.


16. Pasar Gadhing
Berada di jalan Veteran, pasarnya cukup ramai. Para bakul suka berjualan disini karena mengharapkan dagangannya dimakan Kebo Bule Kyai Slamet milik araja. Jika dagangannya dimakan Kyai Slamet alamat akan mendapat rejeki. Pasar ini berada di kampung Gadhing. Nama Gadhing bukan berasal dari gading gajah, tetapi dari abdi dalem raja yang pekerjaannya gadhingan, yakni orang suci demi kejayaan keratin, utamanya tugas-tugas di saat ada raja yang wafat.


17. Pasar Harjadaksino di Gemblegan
Nama Pasar secara resmi Pasar Harjodaksino, berada di jalan Yos Sudarso dan jalan Dewi Sartika, Danukusuma. Tetapi karena berada di dekat perempatan Gemblegan, lebih popular disebut pasar Gemblegan. Asal nama Gemblegan dari daerah yang ditempati abdi dalem kerajaan yang bertugas kuningan pembuat bokor, tempat kinang atau barang-barang yang berasal dari kuningan. Profesi itu dalam bahasa Jawa disebut Tukang Gemblak, maka daerah itu disebut Gemblegan. Jika ingin mencari makanan kuno makuno yang sangat tradisional, cari di pasar ini, pasti ketemu.


18. Pasar Klewer
Ini pasar kain dan sudah ngetop menjadi pasar Mangga Duanya Solo. Semula merupakan Pasar burung di Slompretan. Nama Slompretan berasal dari plesetan Pakretan, dari asal kata kreta. Dulu banyak kereta yang parkir di Nglorengan ini Karen penumpangnya akan menghadap sang raja. Karena banyak kereta yang parkir, daerah ini lalu disebut Pakretan yang di plesetkan menjadi Slompretan. Nama Nglorengan sendiri berasal dari sinyo Belanda bernama Lourens yang dalam lidah Jawa menjadi Loreng hingga menjadi Nglorengan.
Pasar Klewer kini penuh dengan kain batik Disebut Pasar Klewer diawali banyaknya penjual kain yang tidak punya kios yang dompleng jualan di pasar burung. Maklum pasar burungnya ramai. Simbok pedagang kain jarit, lendang dan kebaya hanya ditaruh di pundak, padahal dagangannya dibuka lembaran. Tak heran dagangannya menjuntai-juntai keleweran di tubuhnya. Si embok penjual kain ini mengejar pembeli agar dagangannya dibeli. Lebih baik beli baju daripada beli burung, kan bapaknya sudah punya burung, kata mereka. Kian hari pedagang kain kelewran ini kian banyak, malah lebih banyak dari pada penjual burungnya, sehingga pedagang burung dpindah ke Pasar Widuran. Akhirnya pedagang keleweran ini dibuatkan gedung pasar dan diberi nama Pasar Klewer sesaui dengan sejarahnya yang kainnya keleweran di pun dak si bakul.


19. Pasar Nangka
Meski namanya Pasar Nangka, tetapi yang menjual nangka hanya sedikit. Maklum disebut pasar Nangka karena dulunya di daerah itu banyak tanaman nangkanya. Kini tidak ada satupun. Meski begitu, dulunya pasar ini memangh special menjual nagka, gori dan kluwih. Pasar ini berada di jalan RM Said komplit dan murah, tetapi pasarnya kecil. Pasar ini kian ramai karena di depan pasar juga ada pasar tanaman hias.


20. Pasar Coyudan
Ini bukan pasar tradisional, tetapi merupakan pertokoan barang-barang kebutuhan sekunder seperti kain, tas, sepatu dll. Sekarang merupakan daerah pertokoan paling ramai di Solo, tepat di jalan Rajiman dan jalan Yos Sudarso. Disebut Pasar Coyudan berasal dari Pangeran Secoyuda yang bermukim di daerah ini.


21. Pasar Triwindu
Pasar ini berada di depan Pasar Pon tepat di jalan Diponegoro. Barang jualannya berupa benda antik. Pasarnya telah direnovasi menjadi salah satu asset pasar paling yahut di Solo. Dulunya bernama Pasar Ya’ik. Berubah menjadi Pasar Triwindu karena menjadi arena peringatan 3 windu jumenenganya Mangkunegoro VII. Akhirnya disebut Pasar Triwindu.



Meski masih ada beberapa pasar lagi, tetapi kecil saja.
Adapun pasar-pasar yang tergusur dan tampil dengan wajah baru adalah sbb:

22. Pasar Dhawung
DUlu berada di kampong Dhawung, tetapi kini sudah menjadi pertokoan yang cukup besar. Disebut pasar Dhawung karena dulu ada penjual jamu dan bahan jamu yang berjualan di bawah pohon dhawung. B akulnya manis, jamunya manjur sehingga banyak pembelinya. Karena kian ramai, banyak bakul yang ikut berjualan disini sehingga akhirnya disebut Pasar Dhawung.

23. Pasar Pon
Disebut Pasar Pon karena ramainya ketika pasaran Pon. Pasarnya sudah hilang, tetapi nama Psar Pon menjadi nama perempatan Pasar Pon yang paling ramai di Solo. Letaknya di perempatan jalan Slamet Riyadi, jalan Diponegoro dan jalan Gatot Subroto.

24. Pasar mBeling
Ini adalah pasarnya barang-barang pecah belah di Solo. Tepatnya berada di sewkitar perempatan jalan Supomo depan SMU Muhammadiyah.

25. Pasar Ngapeman
Dulu banyak yang jualan apem, tepatnya di jalan Slamet Riyadi dan jalan Gajah Mada. Disini juga menjadi pasar sepeda bekas. Kini menjadi hotel Novotel.

26. Pasar Senggol
Di Purwosari, jika malam tiba, jalan Purwosari sederetan dengan Resto Sari selalu penuh oleh penjual kaki lima. Pengunjung buanyak, pasarnya sempit karena berada di pinggir jalan. Maka selalu terjadi senggol-senggolan, sehingga disebut Pasar Senggol.

Masih ada lagi? Tentu masih banyak seiring denagn perkembangan jaman. Siapa yang mau nambah atau merevisi boleh doang. (noni)

Orang Jawa Suka Angka 7

Orang Jawa Angka 7, China 9


Mengapa orang Jawa suka angka 7 daripada angka 9. Ada banyak alasan yang mendasarinya.
1. Dimulai dari bakal orok, walau masih usia 7 bulan dalam kandungan, tetapi sudah dibancaki (diselamati) dalam acara Mitoni atau tingkeban.

2. Usia 7 lapan (35 hari x 7 = 245 hari atau 8 bulan 5 hari) byi disambut dengan upacara tedhak siten.

3. Manusia punya 7 lubang dalam tubuhnya (coba cari dari lubang mana saja)

4. Bidadari turun dari khayangan selalu berjumlah 7 bidadari (Arjunawiwaha dan Bengawan Ciptaning)

5. Kepercayaan bahwa langit ada 7 sap

6. Kepercayaan bahwa surga juga sap 7

7. Daya hidup manusia ada 7 macam akni: rupa, jiwa, kepribadian, hawa nafsu, budi, nafas dan manas.

8. Ada 7 lubang manusia, lubang hidung, lubang mulut, lubang telinga, lubang dubur, lubang pipis, lubang pusar dan lubang pori-pori

(alasan lain dibacutke sesuk....)

Eh, nanya dulu, mengapa orang China suka no 9 atau ci-ciu? Silajkan siapa yang mau ngisi hayooo…

Pengetahuan Populer 2

Ilmu Pengetahuan Populer (2)


Kalender Tertua
- Kalender tertua dibuat tahun 4245 SM di jaman Mesir kuno. Tahun 3529 SM raja Numa Pompilius dari Romawi membuat tanggalan model baru yang menjadi acuan kalender hingga kini.

Rotasi Bumi
- Ukuran perhitungan waktu dihitung berdasarkan perputaran bulan, bumi dan matahari. Dalam 1 hari bumi beredar 360 derajad pada sumbunya. Bulan mengelilingi bumi dalam 30 hari dan bumi mengelilingi matahari dalm 365 hari. Dalam 1 jam bumi beredar pada sumbunya hanya 15 derajad.

Arti Mahatma
- Mohandas Gandhi (1869-1948) pejuang India, baru berjuang untuk negaranya tahun 1915. Sebelumnya ia berjuang bagi persamaan hak di Afrika. Senjata utamanya adalah Trias Politika. Ini mengantar India merdeka dari Inggris. Ia mendpat gelar Mahatma yang berarti Pemimpin yang arif dan suci.

Tower of London
- Bangunan kuno di Inggris yang merupakan benteng dan istana raja, bentuknya menara-menara, dikelilingi oleh tembok tinggi dan parit. William Sang Penakluk adalah pemulai pembangunan gedung-gedung ini. Satu bangunan termegah menyimpan mahkota raja-raja Inggris bernama Tower of London.

Presiden AS Pindah Ibukota
- Presiden AS Goerge Washington adalah presiden yang memindahkan ibukota AS dari Philadelphia ke Washington. Arsitek pembangunan kota Washington adalah pria kulit hitam bernama Benyamin Benneker.

Monalisa Disimpan
- Di Perancis, ada suatu museum piramide kaca yang diarsiteksi orang orang Amerika keturunan China, IP Pei. Namanya piramide kaca itu adalah Pyramide Louvre. Pei mengubahkan bangunan istana kuno yang sudah berdiri 8 abad sebelumnya. Di museum inilah lukisan terkenal Monalisa karya Leonardo da Vinci disimpan.

Monumen Korban Perang Vietnam
- Banyak serdadu Amerika yang tewas ketika perang melawan Vietnam, sehingga dibuatlah sebuah monument peringatan di Washigton DC. Di monument itu tertulis 58.156 orng serdadu AS korban perang Vietnam terukir disana. Tugu ini juga karya arsitek wanita keturunan China Maya Ying Lin, dibuat tahun 1982 dan diberi nama Vietnam Veteran Memorial

Menara Miring Eropa Ada 2
- Kini ada dua (2) menara miring di Eropa. Yang satu menara Piza di Italia dan sebuah menara di Inggris bernama Big-Ben. Sebab utama miringnya menara ini karena pembangunan kereta api bawah tanah, Jubilee Line yang galiannya hanya berjarak 27 meter dari menara. Adapun keistimewaan menara ini adalah adanya 4 buah jam besar untuk waktu seluruh dunia.

Kremlin
- Istana Kremlin adalah symbol kekuasaan dan kekuatan Rusia. Bangunan ini dapat berfungsi sebagai benteng, museum, gereja, sanggar seni, pusat pemerintahan dan arena berpolitik. Dibangun abad 14 oleh Tsar Nicholas dipersembahkan untuk isteri tercintanya,, permaisuri Alexandra.

Air Murni
- Air yang direbus mendidih akan menguap. Jika uap ditampung, ia mengembun. Jika embun menetes dan ditampung lagi, maka air ini disebut air murni.

Minyak Tanah Kuda
- Kuda juga suka menggigit, padahal kuda suka dibelai. Agar tidak digigit kuda, orang perlu melumuri tangan dengan cairan minyak tanah yang baunya tidak disukai kuda.

Kabel Bawah Laut
- Banyak kabel yang melintang di jalanan di berbagai sudud kota dan desa. Kabel itu bernama Overhead Cables. Adapun kabel yang tahan terhadap air laut dan dipakai untuk lintas pulau sebagai kabel bawah laut disebut submarine cables.

Bahan Uang Kertas
- Uang kertas tidak mudah rusak meski dilipat berkali-kali, masuk keluar dompet, berpindah tangan bahkan tercuci. Bahannya terbuat dari kapas murni, diberi water merk ditambah benang pengaman. Menurut standart, uang kertas dapat dipakai sebagai uang kertas jika bisa dilipat hingga 3500 kali dan belum rusak.

Pulau Janggut
- Sebuah pulau di Karibia benama Pulau Barbados, terletak di selatan Suriname AS, terkenal dengan tari Limbonya. Pusat kotanya bernama Bridgeton. Dipandang dari laut, pohon-pohon di daratan pulau itu tampak mirip janggut di dagu, sehingga pulau itu disebut pulau janggut.

(Nyambung Sesuk Maneh yo)

Pengetahuan Populer

Ilmu Pengetahuan Populer (1)

Gunung Kinabalu
- Gunung Kinabalu setinggi 4101 m. Ini gunung tertinggi di pulau Kalimantan. Ada 3 negara di pulau ini, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam. Gunung Kinabalu masuk wilayah Malaysia.

Puncak Bersalju di Tropis
- Di daerah tropis, hanya dialah satu-satunya puncak gunung yang bersalju. Punak ini merupakan salah satu sati 7 puncak gunung yang paling terkenal didunia karena keindahannya dan sulit didaki. Puncak itu bernama Carsenzs Pyramide, berada di gunung Jayawijaya Negara Indonesia.

Pelangi
- Pelangi merupakan lengkungan warna spectrum di langit dimana matahari se arah dan berhadapan langsung dengan titik air yang sinarnya mebgenai titik itu secara tegak lurus. Hal ini merupakan pemantulan dan pembiasan sinar matahari.

Khyber
- Suatu lintasan terkenal yang emnghubungkan Afganistan, Pakistan dan kawasan Timur lainnya menjadi jalan padang pasir yang indah di ghunung SUlaiman dan gunung Khirtar. Dulu kawasan ini pernah dijelajahi para petualang beberapa abad yang lalu seperti bangsa Yunan I, Mongol, Tartar, Rusia dan IOnggris. Nama lintasan itu badalah Khyber.

Gewrhana Matahari Total
- Gerhana matahari total 11 Juni 1983 yang tampak di Indonesia merupakan sumber cahaya matahari yang terhadang sumber lain yang tak tembus cahaya (bulan). Daerah lintas yang hanya selama 7 menit, akan mengalami gerhana kembali setelah 269 tahun lagi.

25 Juta Ledakan Petir
- Setiap hari terjadi ledakan petir di seluruh dunia. Para peneliti mendapati bahwa dalam setahun terjadi 10 liliar ledakan petir. Jadi dalam 1 hari terjadi 25 juta kali ledakan petir. (PAdahal tiap hujan hanya terdengar 5 kali petir hehehe)

Cuaca
- Cuaca adalah kondisi atfosferik pada suatu tempat pada saat tertentu. Sedangkan angina adalah campuran gas yang menyelimuti bumi dan membentuk atmosfir bumi, terdiri atas 78% nitrogen dan 21 oksigen.

Titik Nadir dan Zenit
- Titik Nadir adalah titik terendah suatu tempat yang mulai bergerak menuju cakrawala. Adapu lawan titik Nadir adalah Titik Zenith.


Sungai Terpanjang
- Ada 3 sungai panjang di dunia yang melebihi 6200 km. Mereka adalah sungai Missisipi di Amerika, sungai Amazon di Amerika Utara dan sungai Nil di Afrika . Yang paling panjang adalah sungai Nil sepanjang 6692 km.

Teratai Lambang Cinta
- Teratai adalah bunga yang dalam kepercayaan Budha merupakan lambang cinta kasih. Bunga ini bersal dari India. Warnanya beraneka dan hidup di atas air.

Bentuk Tubuh S
- Bentuk tubuh seksi sangat menarik. Tetapi di awal XIX orang lebih suka pada bentuk tubuh dengan dada tegak dan pantat menonjol seperti gitar. Bentuk tubuh demikian disebut Bentuk S.

Patung Tampan Daud
- Patung Daud yang dibuat Michaelangelo di Italian ini pernah diserang sebanyak 2 kali oleh orang-orang yang berwajah buruk. Alasannya, patung Daud dibuat dengan menggunakan marmer ini berwajah sangat tampan dengan tonjolan-tonjolan sempurna.

Suku Kate Pigmi
- Di dunia ini ada banyak suka bertubuh cebol. Mereka merupakan suku Kate atau Pigmi. Tingginya rata-rata hanya 120 meter. Biasanya mereka hidup menggerombol di Amerika Latin dan Afrika. Di Afrika mereka hidup di daerah Negrillo dan Negrito, sedangkan di Amerika di Negara Kolombia.

Emas Putih Afrika
- Emas putih dari benua Afrika berupa gading gajah, sebab dari benua ini gading gajah berukuran lebih besar sehingga indah jika dihias dan diukir. Di aaaaAfrika gading gajah dianggap memiliki kekuatan dan dipakai dalam upacara ritual. Namun sejak bangsa Eropa mengkomersialkannya, bangsa Afrika menjadi budak pemburu gading gajah.

Patah Hati Bikin Kota
- Cintanya ditolak oleh sang ratu, maka pria ini lari dari Inggris dan bermukim ke Amerika. Untuk membuktikan cintanya kepada sang ratu, maka pria ini membangun kota yang di Amerika dan menamai kota ini Virginia, sesuai dengan nama sang ratu, Elizabeth Virgin.

Makanan Sampah Hamburger
- Hamburger sebenarnya termasuk junk food, makanan sampah. Bahan pokonya aberupa roti, selada, daging cacah dan dibentuk bulat berdiameter sekitar 4 cm. Makanan dari Jerman ini menjadia santapan paling kondang di Amerika.

Kaum Hispanik
- Kaum Hispanik merupakan salah satu mayoritas pendudu di AS. Mereka teridiri dari 3 negara yaitu Meksiko, Kuba dan Puerto Rico. Penduduk ini menduduki kelas 2 di AS karena ketidakmampuannya berbahasa Inggis. Kaum Hispanik ini merupakan ras keturunan Spanyol.

Renaissance
- Suatu decade dimana kebudayaan mengalami pembaharuan. Diawali di Perancis, decade ini sekali berubah hamper seluruh benua Eropa mengikuti, utamanya dalam penggunaan mesin-mesin industri. Dekade ini dinamai Renaissance.

Mobil Beetle
- Mobil VW adalah produksi maestro Ferdinan Porsche dibuat atas perintah Hittler untuk rakyat Jerman. Namun diminta menjadi mobil militer yang harus melintas gurun pasir dan hawa dingin Rusia untuk menyerang Negara itu. Pabriknya berada di kota Wolksburg, di Jerman nama VW dikenal sebagai Beetle.

Aba-aba Anjing
- Pelatih anjing menyuruh anjing latihnya dengan aba-aba. Jika anjing ddisuruh berdiri, perintahnya adalah ‘berhenti’. Aba-aba untuk melacak penjahat adalah ‘cari’.

Pedagogi
- Dulu, para budak Eropa mengantar, mengajari dan melindungi anak majikannya ke sekolah, sehingga mereka dijuluki ‘pemimpin anak-anak’. Sekarang cara jitu itu disebut ilmu pedagogi, yakni ilmu seni mengajar secara tersusun dengan arah tujuan atas azas dan metode yang diterapkan di sekolah-sekolah untuk tujuan pendidikan.

Era Puritan
- Pada masa Puritan beberapa abad lalu di Inggris, masa itu sempat membuat pola peperintahan maupun tata kehidupan di Inggris berubah. Banyak teather dan tempat pertunjukan ditutup akrena menurut kaum Puritan tempat itu adlah sumber kemaksiatan. Kaum Puritan adalah kelompok agama Katholi yang berjuang bagi kemurnian agamanya.

Negara Judi
- Jika di Eropa Negara Monaco terkenal sebagai Negara judi. Di Asia juga ada negara judi yakni Macao. Letaknya dekat Hongkong, 3 jam naik perahu. Penguasanya berpangkat gubernur. Negara ini merupakan koloni Portugal.

Organisasi Petualang
- Duke Edinburgh’s Award adalah organisasi di bidang social bagi remaja penggemar petualang. Digagas dan didirikan oleh Pangeran Phillip dari Inggris yang suami sang Ratu Inggris, oraganisasi ini punya 60 negara anggota.

Vini Vidi Vici
- Orang sering mendengar kata vini, vidi, vici. Saya dating, saya lihat, saya menang. Kata ini diciptakan oleh Julius Caesar yang karena kekuatannya, ia tidak memerlukan banyak keringat untuk menaklukkan daerah lain yang didatanginya.

Kota Liliput
- Di kota Hassloch di Jerman akan dijumpai kota liliput. Penduduknya berasal dari dari berbagai penjuru dunia. Mereka hanya punya badan setinggi 85 – 125 cm. Biasanya bekerja sebagai pemian sirkus atau bentuk hiburan lain seperti pelawak.

(bersambung … dibacutke sesuk maneh)

Sajian Sukerta yang Perlu Diruwat

RUWATAN

Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya. Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi pandangan hidup dan sikap hidup umumnya orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi direferensi nasehat-nasehat nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi isian jiwa seni dan budaya Jawa.

Wayang sebagai pertunjukan, merupakan ungkapan-ungkapan dan pengalaman religius yang merangkum bermacam-macam unsur lambang, bahasa gerak,suara, warna dan rupa. Dalam wayang terekam ungkapan pengalaman religius yang “kuno” seperti tampak bahwa pada tahap perkembangannya dewasa ini, masih berperan pula mitos dan ritus, misalkan pada lakon Ruwat atau Murwa Kala.

Secara tradisional, wayang merupakan intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang diwarisi secara turun temurun, tidak hanya sekedar tontonan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam kehidupannya, namun juga merupakan tatanan yang harus dititeni kanti titis. (merupakan hukum alam yang maha teratur yang harus diketahui dan disikapi secara bijaksana) untuk menuju kasunyatan serta mencapai kehidupan sejati. Bagi manusia jawa (manusia yang mengerti sejati) wayang merupakan pedoman hidup, bagaimana mereka bertingkah laku dengan sesama dan bagaimana menyadari hakekatnya sebagai manusia serta bagaimana dapat berhubungan dengan sang penciptanya.

Tradisi “upacara/ritual ruwatan” hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita “wayang” dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa (jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut “Kama salah kendang gumulung”. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi ,agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/ purwakala berasal dari kata purwa (asal muasal manusia), dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran: atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).

Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sbb: Alat musik jawa (Gamelan), Wayang kulit satu kotak (komplit), Kelir atau layar kain, dan Blencong atau lampu dari minyak. Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:

Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainnya.

Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.

Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

Bermacam-macam nasi antara lain: Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi wuduk dilengkapi dengan ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, dan kedele hitam. Nasi kuning dengan perlengkapan telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.

Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

Yang berupa sajen antara lain: rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.

Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.

Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.



Yang Perlu Atau Harus Di Ruwat

Menurut kepustakaan “Pakem Ruwatan Murwa Kala” Javanologi gabungan dari beberapa sumber, antara lain dari Serat Centhini (Sri Paku Buwana V), bahwa orang yang harus diruwat disebut anak atau orang “Sukerta” ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai berikut:

1.`Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal.

3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan.

4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki.

5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta).

6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan).

7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.

8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.

10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.

11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.

12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.

13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.

14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan.

15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam.

16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.

17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.

18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal.

19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.

20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus.

21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.

22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah.

23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.

24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”

25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam.

26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil.

27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.

28. Dengkak, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta.

29. Wujil, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.

30. Lawang Menga, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya “Candikala” yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan.

31. Made, yaitu anak yang lahir tanpa alas (tikar).

32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “Dandhang” (tempat menanak nasi).

33. Memecahkan “Pipisan” dan mematahkan “Gandik” (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).

34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada “tutup keyongnya”.

35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei (penutup kasur).

36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.

37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.

38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandhang - misalnya) tanpa ada tutupnya.

39. Orang yang membuat kutu masih hidup.

40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.

41. Orang yang duduk didepan (ambang) pintu.

42. Orang yang selalu bertopang dagu.

43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.

44. Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya dandhang diadu dengan dandhang).

45. Orang yang senang membakar rambut.

46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu (galar).

47. Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.

48. Orang yang senang membakar tulang.

49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.

50. Orang yang suka membuang garam.

51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.

52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah (dikolong) tempat tidur.

53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.

54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam (wayah surup).

55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang (wayah bedhug).

56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.

57. Orang yang menanak nasi, kemuadian ditinggal pergi ketetangga.

58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.

59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat penumbuk nasi).

60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran “wijen” (biji-bijian).

Demikianlah 60 jenis “Sukerta” yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan oleh Sang Hyang Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan atau makanannya, bahkan menurut Pustaka Raja Purwa (jilid I halaman 194) karya pujangga R. Ng. Ranggawarsito disebutkan ada 136 macam Sukerta. Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut di atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka (menjadi makanan Betara Kala) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan atau ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon ruwatan yang misalnya: Baratayuda, Sudamala, Kunjarakarna dll.

Selain Sukerta, terdapat juga “Ruwat Sengkala atau Sang Kala” yang artinya menjadi mangsa Sangkala yaitu jalan kehidupannya sudah terbelenggu serta penuh kesulitan, tidak bisa sejalan dengan alur hukum alam (ruang dan waktu) ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah lakunya pada masa lalu.

Sesaji Jenang-jenang

Sesaji Jenang-jenang atau bubur, bisa bermacam-macam. Biasanya orang tua memberikan sesaji berupa bubur 7 macam. Jika sulit menemukan bubur apa saja. Inilah macam-macamnya. Di lain waktu ntar ditulis resep membuat bubur-bubur tadi:

1. Jenang Sumsum
2. Jenang Abang
3. Jenang Putih
4. Jenang Abang Putih
5. Jenang Procotan
6. Jenang Manggul
7. Jenang Suran
8. Jenang Baro-baro
9. Jenang Ketan Ireng
10. Jenang Mutiara
11. Jenang Grendhol
12. Jenang Sangkala
13. Jenang Ketan Juruh
14. Jenang Mancawarna
15. Jenang Katul
16. Jenang Jagung
17. Jenang Telo
18. Jenang Sundhul Langit
19. Jenang Pliringan
20. Jenang Palang

Kamis, 05 Maret 2009

Sajian Ila-ila

Ila-ila

Ila-ila adalah kata yang baik-baik. Ila-ila, (mbacanya ilau-ilau). Maknanya adalah sebuah nasehat singkat yang berisi sesuatu yang bersifat tabu, pantangan dan larangan terselubung.

Biasanya orang Jawa dibilang munafik sebab ila-ilanya sulit dijangkau. Ada juga idiom yang dibilang salah, padahal maksudnya sangat terselubung.
Misalnya kalimat

- nrimo ing pandum bukan berarti terima nasib gitu thok lho
- mangan ra mangan angger kumpul bukan berarti asal ngumpul

Kata “cacah gawe bubrah - rukun gawe senantosa” menghendaki keserasian dan keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati. Jadi perlambang dan ungkapan-ungkapan halus yang mengandung pendidikan moral, adalah pola yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari

Ila-ila Jawa memang bersifat sama-samar, tidak langsung ke arti katanya, sehingga harus didalami maknanya. Banyak ila-ila bersifat sangat terselubung, tidak terbuka, tidak menggambarkan kata yang sesungguhnya. Ila-ila bisa berbentuk ‘piwulang, cangkringan, primbon, tontonan, parikan dan langgam tetembangan.
Ila-ila Jawa bisa disamakan dengan “Pandangan Hidup Wong Jawa”.


Ila-ila sudah berumur ribuan tahun. Didapatkan berdapat ilmu titen, sama seperti primbon. Ila-ila disampaikan secara lesan, menyebar gethuk tular sehingga maknanya bisa berbeda dari yang dituju. Ciri-ciri ila-ila sbb:
- berbentuk kalimat singkat dan sederhana, biasanya berisi pantangan atau larangan, yang apabila dilanggar menimbulkan tekanan bathin.
- Ila-ila dianggap nasehat nenek moyang yang bersifat punya kebenaran sehingga menurun ke anak cucu secara gethok tular dan gugon tuhon.
- Meski ila-ila merupakan nasehat bersifat pantangan, tetapi tidak bersifat mengancam dan menakuti, sekedar nasehat agar perbuatan orang tidak salah asuh.
- Meski banyak ila-ila yang tidak masuk akal, namun ada petunjuk terselubung yang bersifat bagi kelayakan dan kebaikan.
- Ila-ila harus diartikan maknanya, jika tidak mengandung pengertian yang salah.

Beberapa contoh ila-ila adalah sbb:

- Aja dumeh : jangan sok lah
- Kahanan ora langgeng, aja keladuk bungah lan aja nggrantes nandang kasusahan! Nasibselalu berubah, jangan berlebihan mengungkap kegembiraan dan jangan sedih dan putus asa jika mendapatkan musibah..
- Mangan ra mangan angger kumpul. : harus berani merantau,
- Aja adigang, adigung, adiguna. : yang kuat jangan mentang-mentang kuat dan menindas yang lemah, yang lemah seharusnya merasa membutuhkan perlindungan dari yang kuat dan bersikap mengayomi/melindung yang lemah
- Jalma tan kena kinira, jeroning segara bisa didepa, teka : Jangan minder, tapi jangan merasa superior pada siapa saja, suatu saat keadaan dapat berbalik.
- Bener-benere dewe, salah-salahe dewe: benar salah pendapat orang biarin aja nggak usah campur tangan
- Guyup Rukun : rukun sekali
- Aja gumunan nanging aja gampang maido: jangan cepat heran dan kagum, namun jangan keburu mencibir. Cari buktinya
- Cecengilan iku ngedohke rejeki : iri dengki menjauhkan rejeki
- Legi-legi wong ngemut gula : ambil peluang tetapi merugikan teman
- Mambu-mambu yen sega : kerabat yang kena aib jangan dikucilkan
- Luwih becik kalah uwang tinimbang kalah uwong: lebih baik kehilangan uang dari pada kehormatan.
- Kebak sundukan : sudah terlalu banyak perbuatan jahatnya
- Samubarang gawe pikiren dadine/akibate, supaya aja keduwung ing pemburine. Perbuatan harus diperhitungkan akibatnya agar tak sesal nanti.
- Urip iki mung mampir ngombe : hidup hanya mampir minum (ini gue gak cocok…)
- urip mung sakdermo : hidup hanya segitu aja, pasrah (gue kian gak jelas)
- Mumpung urip bisa nglumpukke bondo, kuwoso lan ngumbar hawa napsu.. (aji mumpung bisa hidup berpeluang mengunpulkan harta benda dan mengumbar nafsu
- Akeh wong pinter, langka sing temen lan tememen. Banyak orang pandai, tetapi jarang yang disertai kejujuran dan etos kerja tinggi.
- Ila-ila ujare wong tua : lakukan perbuatan baik walau itu hanya sepele
- Kacang ninggalke lanjaran: sifat anak tak jauh beda dengan orang tuanya, Atau tidak lupa daratan, tak lupa sanak kadang.
- Madu bisa marakake mendem : memberi/menerima yang tidak tepat jadi racun
- Jembar segarane : berlapang dada, sabar seluas lautan
- Jer basuki mawa bea : mau selamat ya harus ada beaya berupa pengorbanan atau tak ada sesuatupun yang bisa diperoleh tanpa perjuangan/ pengorbanan.
- Bibit bebet bobot : cari jodoh harus liat-liat benih dari mana (keluarganya), kekayaannya dan kepandaiannya.
- Didgdaya tanpa aji, sugih tanpa banda, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngalahake/ngasorake. Menyerang tanpa bawa pasukan dan tanpa mengalahkan, kaya tanpa harta. Itikah baik adalah segala-galanya.
- Ngalah duwur mewaksane. Mengalah tak berarti kalah, tetapi menyusun kekuatan dan strategi. Tak asal berani, tunggu lawan lengah hingga dijerat tak berkutik. Mengalahkan tanpa menyakiti.
- Alon-alon asal kelakon = kareben gremet waton slamet = griyak-griyak waton tumindak : pelan tetapi pasti, merayap tetapi selamat dan pelan tapi berbuat
- Ngono ya ngono......ning aja ngono! : Jangan keterlaluan, sebab bisa jadi bumerang yang merugikan diri sendiri.
- Kaya mimi lan mintuna : perkawinan yang kekal abadi hingga kakek nenek
- Lamun sugih aja semugih, lamun pinter aja kuminter: meski kaya dan pinter jangan sok lah.
- Dolanan ula mandi: Melakukan pekerjaan yang penuh resiko
- Gajah ngidak rapah : melanggar aturan yang dibuatnya sendiri
- Glugu ketlusup ruyung: orang yang terpengaruh keburukan
- Milik nggendong lali. Maunya dapat harta karun hingga berani ambil resiko, akibatnya tertipu.

Sajian Air Liur

Khasiat Air Liur, Air Seni, Air Mata, Air Ketuban dan Air Keringat

Jangan main-main dengan air yang keluar dari tubuh kita, dia itu punya khasiat gratis buat beberapa kebutuhan.

Air Liur punya khasiat yang cukup hebat, diantara
Untuk penyembuh beleken, si mata merah yang menurut cerita berasal dari pengaruh mendaratnya apolo 11 ke bulan. Bagi orang yang tertimpa bel (beleken), usap mata merah itu dengan air liur, uatama ketika bangun tidur. Paling pol 3 hari pasti sembuh
Air liur berkhasiat bagi kulit tubuh yang terkena benda panas, dari api, minyak panas, wajan panas, klanpot dsb. Usap saja dengan air liur sesering mungkin. Ditanggung rasa panas hilang, lalu sisa belang-belang jika sudah sembuh, pasti cepet hilang
Air liur juga bikin sembuh bagi anak/orang yang jatuh lalu memar dan bengkak. Usapi saja dengan air liur endiri atau air liurnya ibunya.
Jangan jijik dengan resep iniku, yakni, bangun tidur, minumlah air putih, kumur-kumur sebentar, lalu telan. Air liur bangun tidur pagi hari adalah khasiat penolak segala penyakit dalam tubuh, termasuk jantung dan kanker dsb. Ini karena air liur mengandung otoimun.
Yang paling meneduhknan, air liur adalah pelega jika tak kesampaian makan sesuatu menu berbau enak atau benda yang kita ingini, telan saja air liur. Lega rasanya.
Air Seni, ini juga punya khasiat yang sangat mujarab
Jika telapak kaki mengering dan retak-retak jadi hitam dan bikin malu, usap-usapkan telapak kering retak itu dengan air seni yang barusan keluar dan masih hangat-hangat kuku. Usap terus di tiap pipis, pasti telapak kaki jadi halus dan indah kembali
Ini khasiat yang menjadi obat di India. Nah air pipis sendiri di pagi hari bangun tidur, diminum segelas niscaya membunuh semua kuman penyakit di dalam tubuh
Yang paling nggak enak, bila kena lemparan plastic berisi air seni pada pertandingan sepakbola yang ricuh. Bau kencingnya bikin mutah, apalagi kalau kena muka atau tubuh kita, wah rasa ketempel air kencing orang di tubuh kita itu, sebulan nggak bakalan hilang-hilang…sialan.
Air mata ini khasiatnya menjadi pelega tenggokan gatal jika teras mau batuk dan pilek. Maka jika mau batuk, menangislah sampai kelua air mata, lalu minumlah air mata itu.
Kalau air ketuban, biasanya terminum bayi yang lagi lahir, maka sedotlah, nafas bayi tidak akan berbunyi ogrok-ogrok.
Air keringat, berguna jika ingin membaui bau busuk di ketiak atau bagian tubuh lain.

Sajian Perlu Ditahu Perlu Dicoba

Bikin Pesawat Teliti Kacoa dan Kinjeng

Mengapa orang Ameika bisa bikin Apollo, bisa bikin pesawat ulang ulang-alik, helicopter pengintai atau segala jenis pesawat? Ternyata awal mulanya hanya meneliti serangga-serangga terbang, burung, ikan dan segaal jenis hewan yang bisa menginspirasi benda mati bisa terbang.

Binatang-binatang yang menginspirasi pembuatan pesawat adalah sbb;
- Capung. Helikopter dibuat sepeti capung. Hewan serangga ini berbakat sangat sempurna untuk berkelit dalam situasi apapun ketika terbang. Dalam kecepatan dan arah berapa dan kemanapun terbangnya, capung bisa berhenti, bisa terbang lagi, bisa jungkir balik maneuver dan bisa tetap diam di udara sambil menunggu posisi yang tepat untuk menyerang mangsa atau menghindari musuh.
Memang, tubuh capung berkesan tertutup logam. Biar orang nggak bisa melihat jela jenis logamnya, warna capung beraneka ragam, dilengkapi dua pasang sayap di punggung. Sepasang sayap ada di depan, sepasang lagi di belakang. Saat terbang, dua sayap depan terbangnya mengarah ke atas, sedang dua sayap belakang mengarah ke bawah.Awalnya, ilmu pesawat helikopter membuat permainan gambar capung di komputer. Capung dibelak-belok dan manuver-manuver udara hingga jutaan gambar. Hasilnya, pesawat Sikorsky dimodel kayak capung ini.

- Kacoa. Binatang apa yang kalau mati tidak menimbulkan bau? Tentu saja kacoa. Hewan ini kayaknya nggak punya daging, Jika digebuh sampai mati, ia hanya ngeluarin sedikit nanah. Jika tidak ingin menyakiti kacoa, gebuk sampai benar-benar mati. Mengapa? Sebab Tikus, Lele dan Coro adalah hewan yang nyawanya angkap-rangkap, matinya susah. Bagi yang nggak pengalaman, membunuh Lele itu sulit. Meski sudah digebug, digoreng, digunting, banhkan diambil jerohan dalamnya, Lele masih gerk-gerak. Sama seperti kacoa. Kacoa punya dua alat sensor. Satu di otak dan satu di siku kakinya. Jadi meski dipenggal kepalanya, kacoa masih hidup. Badannya masih bergerak, kakinya masih sport. Sistem sensor kacoa ini diterapkan untuk pembuatan roket, helikopter dan pesawat ruang angkasa.




Menyembunyikan Noda

Bagaimana cara menyembunyikan noda yang menjadi aib? Ini cerita eorang Kaisar China yang kehilangan sebelah telinganya karena terpenggal sewaktu perang antar raja China tahun sebelum Masehi. Sang raja yang sudah tua bertahta hingga menjelang ajal. Agar dirinya terus dikenang, dia inginkan gambar diri lewat buah tangan pelukis istana. Maklum waktu itu belum ada foto. Pelukis istana dipanggil disuruh melukis sang raja. Ketika selesai, lukisan itu dihadapkan pada Kaisar.
Melihat hasil lukisannya, Kaisar murka. Apa sebab? Sebab, jelas-jelas telinga kaisar hanya 1 buah, tetapi dilukis 2 telinga lengkap. Itu namanya tidak jujur. Kaisar menolak lukisan itu dan dibakar saat itu juga. Kaisar minta dilukis pelukis lain, hasilnya dihadapkan pula pada Kaisar. Lagi-lagi Kaisar murka melihat lukisan Sang Kaisar hanya punya 1 telinga. Lukisan itu pun langsung dibakar. Kaisar minta dilukis oleh pelukis yang punya otak. Maka pelukis cerdas ini menghadapkan lukisannya. Sang Kaisar terkesima dan sangat kagum. Ia bertepuk tangan dan menyuruh lukisan itu dipajang di tempat yang megah. Pelukis cerdas itu melukis Kaisar dari samping, sehingga telinga satunya nggak tampak. Begitulah cara menyembunyikan aib, noda atau keburukan apapun tanpa pengurangi hormat, selalu menjujung kejujuran meeski tidak semua diperlihatkan.





Awal Mula Orang Perancis Ahli Bikin Pewangi

Semua orang pengin wangi. Salah satu caranya adalah mandi. Mandi adalah kesegaran, penghapus capai, pereda panas tubuh, pembuang kotoran di tubuh dsb yang jelas mandi adalah kebesihan. Tetapi Raja Louis XVI adalah raja yang jarang mandi. Dalam hitungan inang-inang istana, sejak diangkat sebagai raja, Louis XVI hanya mandi 4 kali saja, padahal dia berkuasa lebih dari 6 tahun. Ceritanya, kamar mandi di istana Versailles diminta dijebol oleh Louis, maklum dia nggak suka mandi. Kalau o’ok, dia minta di pispot dan kertas tissue saja. Meski Louis punya 1000 rampal (rambut palsu) dan 40 orang inang pembersih rampal, Louis tetap bertekad tidak mau mandi.
Louis hanya menggunakan milk cleancing dan astringen untuk membersihkan diri, lalu memoles dirinya dnegan mimyak wangi. Ruang-ruang istana juga disemprot dengan bau-bau wangi. Louis selalu mengadakan lomba membuat minyak wangi. Juara diberi hadiah besar. Tak heran jika orang Perancis selalu menjadi yang ter dalam hal minyak wangi.





Monyet Punya Raja

Bukan hanya manusia yang punya raja. Monyet juga pula raja. Raja monyet bertahta tidak akan lama. Disebut raja jika bisa mengawini betina lebih dari seratus kali seharinya. Di Sangeh Bali (tempat kita bisa berkaca diri), ada tiga kumpulan besar monyet. Tiap sekumpulan monyet punya rajanya sendiri-sendiri. Di Kalimantan juga demikian. Kera-kera juga punya rajanya sendiri. Demikian pula di Tawangmangu dan di Pulau Tinjil dan Pulau Deli yang masuk propinsi Banten, disana dijadikan proyek penangkaran monyet yang dieksport ke belahan dunia. Jenis monyetnya ekor panjang. Rajanya bisa ngawini betina-betina hingga 136 kali seharinya (menurut penelitian IPB).
Adapun raja monyet di Sangeh, raja pertama berkuasa di kumpulan monyet-monyet yang hidup di arena wisata Sangeh. Raja kedua menguasai kumpulan monyet-monyet yang berada di daerah cagar alam Sangeh dan raja ketiga menjadi komando monyet-monyet di bagian belakang cagar alam dan mencari makan di luar lahan cagar alam.





Badak Bercula Dua

Di cagar alamUjung Kulon dikenal ada badak bercula satu. Badak-badak ini dilindungi, sehingga badak-badak jadi malu-malu kucing jika ketemu manusia. Beda dengan badak-badak yang hidup secara alamiah di daerah perbatasan pertigaan Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Sabah.
Disana ditemukan badak bercula 2 …………………………….
.





Wong Jowo Nyontek Inggris

Apa benar, teori plesetan diciptakan oleh Kelik Pelipur Lara? Tetapi manusia satu itu memang ahli plesetan. Mungkin Kelik bisa mlesetin kata-kata bahasa Jawa yang asalnya dari Inggris atau sebaliknya. Misalnya kata hari, dalam bahasa Jawanya adalah dino, padahal bahasa Inggrisnya adalah day. Ada lagi nama Wuku dari Pawukon Jawa sebnayak 30 wuku. Wuku ini meramalkan sifat-sifat dan peruntungan seseorang. Lamanya wuku adalah 7 hari. Ini sama dengan seminggu dalam bahasa Inggris yang disebut week.. Tentu wuku hampir sama dengan week ya. Kalau ditanya, mana yang lebih dulu lahir, dino dan wuku atau day dan week? Jawabnya adalah jika bisa menjawab mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur. Mungkin lebih baik bertanya pada Kelik, dia pasti bias menjawab, meski dengan plesetan yang bikin gemes itu.





Tes Masuk Militer

Test masuk militer. Di Indonesia memang wagu dan lucu. Ini adalah cerita yang aku baca di Nglungsungi, ditulis Budiarso yang adalah mantan perwira. Setenagh abad yl, tahun 1959, salah satu test agar diterima di militer angkatan darat, calon perwiranya harus mengikuti tes kesehatan militer.
Di sebuah ruang khusus, kadet-kadet disuruh berbaris satu persatu. Tak lama kemudian dokter militer berpangkat letkol langsung mengkomando ‘buka celana sampai dalam’. Semua kadet pada kaget. Tetapi siapa berani melawan. Dengan malu-malu mereka membuka seluruh celana dalam. Untung tidak ada perwira cewek. Banyak yang malu, lalu menutupi empritnya dengan tangan.
Dokter Letkol tadi langsung mengolah satu persatu calon perwira. Cara memeriksanya memang nggak lazim. Emprit-emprit itu langsung digegang erat sama dokte, abis itu di remas-remas dan diurut-urut. Gila, andai yang nggituin pacar cewek mereka, pasti lumayan doing. Abis, dokternya ngerjainnya dengan sangat kuat, kuat-kuat malah. Mereka yang melihat langsung ‘mak deg. Empritnya pada membesar segede perkukut.
Banyalk yang mencoba menahan rasa sakit, banyak pula yangh langsung mengaduh, menjerit dan lari melepaskan diri. Maklum perkutut mereka langsung muntah darah, mutah nanah dan kaku ngecengceng karena ada yang infeksi. Mudah sekali membuat test, hanya pak letkol tadi, dia itu gay nggak ya….




Jembelet Nyelinap Pajak

Jembelet itu istilah minta off sebentar untuk membenahi yang dimaui. Jembelet dalam cerita ini sekedar menyita sedikti waktu untuk membaca hal-hal yang perlu disenyumi dengan kepala dingin, uatamya tentang pajak dulu ya. Gini lho:

- Bayar pajak di negera kita itu susah. Susahnya, habis disuruh ngetung pajaknya sendiri, padahal nilai matematikannya di bawah 5. Terus ke kantor pajak, pelajanannya tidak menyenangkan.
- Pengusaha bawang goreng malas bayar pajak, habis dia mikir, paling dikorupsi ama pegawai negeri aja
- Pengusaha yang baru buka warung PS play stations ngumpat. Katanya didatangi pegawai pajak, langsung nagih pajaknya. Dia ngetung, harus membayar 20 % dari pendapatan bersih. Weh, lha buka warung aja baru coba-coba, masih rugi lagi, modalnya ngutang, tamunya belum banyak, buat bayar karyawan sebulan aja belum cukup, malah digerogoti pajak. Padahal pajak 20% seperti maunya si pegawai pajak itu, paling dicatut buat dirinya sendiri berapa persen? Bagaimana bisa cari duit? Ini namanya pemerasan bertajuk pajak.
- Ada pejabat pajak dari Jakarta, datang ke pabrik mebel eksport. Dia minta 1 buffet antic gaya Eropa tahun 1800. Lalu pabriknya melebel harga sesuai harga eksport. Saat itu direktur bemelnya sedang ke Jakarta. Jadi siapa yang berani kasih harga diskon seperti pintanya pak pejabat pajak. Tahu-tahu seminggu kemudian datang pegawai pajak local menagih sekian ratus juta. Saat ditolak, lalu diperiksa, semua pembukuan dibawa pegawai pajak, ada sekitar 3 dos dibawa ke kantor pajak dan sebulan kemudian didenda 1 M. Gila!
- Kantor perdagangan, dibuat 2 pembukuan. Yang satu buat laporan pak komisaris, yang satu lagi buat laporan pajak. Kata pak komisaris, kita kerja keras banget, dengan keringat sendiri, enak-enak aja dicatut pajak setinggi langit.
- Kata pegawai pajak, lalai bayar pajak artinya tidak cinta Negara. Lho, mau aja bayar pajak. Tetapi mengapa kalian mengkorupsinya?
- Banyak peluang usaha yang lepas dari sorotan kacamata pajak. Tak perlu dijelaskan apa saja. Tetapi home industri, biasanya lepas dari pajak.
- Di negara maju, pembayar pajak lebih banyak dari pada pengangguran. Di Negara kita, penganggurannya lebih banyak dari pada pembayar pajak.
- Di Negara Rusia jaman raja Peter Yang Agung, mengapa penduduknya banyak yang klimis-klimis. Itu karena orang berkumis dan berjenggot aja ditarik pajak. Artinya, pabrik silet pasti bayar pajak lebih banyak.
- Di pasar, bakul-bakul selain membayar retribusi, juga bayar pajak buat para preman. Kalau nolak alamat dagangannya gak selamat, gampang dimaling.
- Parkir beli bakso, kena pajak tukang parkir. Parkir dimana saja, selalu kena pajak tukang parkir. Tukang parker hanya duduk-duduk dapat duit, kalau nggak dikasih, misuh-misuh, lontheee. Dasar mulut semprullll.
- Di rumah penduduk ditulisi ‘Jonggring Saloka’. Pegawai pajak datang langsung nanya, ‘buka toko apa?’. Memang nulis di rumha sendiri kagak boleh?
- Surat tagihan pajak ke CV ‘Wis Tilar’ katanya sudah 3 tahun nunggak. Padahal CVnya sudah mati 3 tahun dulu-dulu. Masih ditagih lagi.

Wong Solo Tepo Seliro

Wong Solo Tepo Seliro

Aku orang Solo, rumahku di tengah-tengah antara keraton Kasunanan dan Mangkunegaran. Aku denger, orang Solo punya ciri suka sombong yang tersembunyi. Istilahnya Umuk Solo. Menurut penilinku, wong Solo itu ‘tepa selira’, bukan munafik

Apa tepo seliro itu? Tepo seliro adalah sikap diri pribadi yang sangat menghormati orang lain dengan cara tenggang rasa untuk menciptakan keserasian hubungan antar sesama, sehingga hubungan familier dan menghargai ini tidak membawa dampak sakit hati atau tersinggung.

Orang Solo bisa dibilang ahli tepo seliro. Perasaannya peka untuk diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain karena menjadi tiang penyangga perasaan. Tepo seliro ini merupakan gabungan dari ‘rara-raras-laras, yang berarti serasi.

Dalam hubungan sosial, wong Solo terkenal sebagai orang yang punya sikap ramah, sumanak familier suka damai, mudah tanggap ata gupuh, suka tenggang rasa tepo selira itu tadi, sabar atau sareh dan pengalah suka mengalah demi kebaikan. Sikap-sikap yang cukup oke ini bisa membawa hubungan antar sesama menjadi serasi.

Dengan tepo siliro atau tenggang rasa itu akan membuat:
Seseorang dapat mengargai peasaan satu sama lain
Dapat merasaan perasaan orang lain dalam dirinya
Tepa selira dapat mengukur dan menempatkan perasaannya
Dengan tepa selira, orang dapat memaknai adany ‘daya rasa’, menjadi penghalus hubungan antar sesame
Ahli tepa selira akan membawa suasana tidak ada gangguan perasaan, tidak ada yang tertekan, tersinggung, melukai dan membebani perasaan orang lain.

Mengapa wong Solo hampir semuanya menjadi ahli tepo seliro? Sebab wong Solo terdidik atau terbawa dalam suasana hidup orang kota yang kejiwaannya dipengaruhi kesatuan daya yang terdiri dari cipta, rasa dan karsa. Daya-daya ini tidak berdiri sendiri, tetapi bergerak seiring dalam menjalankan fungsi bermasyarakat.

Pada gerak cipta, adalah suatu daya motivasi melahirkan dan menggerakkan dn menentukan sebuah perbuatan pada sasaran yang tepat. Rasa adalah sebuah tehnik penghalus suatu hasil perbuatan sehingga menjadi serasi. Sedangkan karsa adalah pendorong, penggerak adanya perbuatan.

Jadi wong Solo dalam bermasyarakat selalu bertenggang rasa dari dasar hidup pada olah cipta, rasa dan karsa.

Sajian Rumah-rumah Kuno di Solo

Rumah-rumah Kuno di Solo

Taman Balaikambang, dulu bernama Partini Tuin, nama putri Mangkunegaran tertua. Di taman ini mulanya sebagai ajang persaingan dengan Kebun Raja Sriwedari. Tempatnya lebih luas dan lebih asri, banyak pohon dan ada kolam renang Tirtoyasa, danau buatan untuk berperahu, taman bunga dll. Dibuat pula gedung pertunjukan untuk ketoprak bernama Balaikambang. Taman ini dibangun kembali jaman walikota Jokowi dan kini bisa menjadi tempat wisata kota yang cukup menghibur. Taman ini berad di areal gedung olah raga Manahan. Setiap Minggu pagi, taman dan gedung Manahan sangat ramai seperti ada pasar tiban, padahal menjadi arena olahrfaga Minggu Pagi bagi penduduk Solo.


Rumah pendiri Serikat Dagang Islam H Agus Salim di jalan Rajiman Solo, kini sudah menjadi rumah wallet milik babah Cina atau bos sebuah perusahaan rokok. Dulu rumah bersejarah itu adalah tempat untuk mendirikan serikat dagang Islam tadi.


Bank Indonesia Solo di Jalan Jen Sudirman, kini masih berdiri magrong-magrong, megah dan mewah. Dulunya gedung bank milik Belanda Javache Bank. Ada suara-suara gedung itu akan digunakan sebagai museum. Sebaiknya tetap dipergunakn bank Indonesia Solo saja, biar gedung itu selalu terpelihara. Jika dipakai museum, pasti tidak punya beaya perawatan gedung.


Rumah lawa di jalan Slamet Riyadi Purwosari yang bertuliskan villa liberty, dulunya milik orang Belanda, lalu dibeli bangsawan local dan jatu pada juragan Cina Djian Ho. Setelah merdeka menjadi gedung Veteran. Kini sudah dimiliki pribumi dan akhirnya benar-benar diserahkan kepada para kelelawar dan sriti untuk beranak pianak disana.


Sriwedari dibangun di tanah yang wangi. Dulu namanya Talangwangi. Ada yang menyebut Kadipala. Oleh Sunan PB X, tahun 1899, tanah ini dijadikan kebun taman milik kerajaan sebagai taman kota. Saat dibangun lebih indah daripada sekarang. Maklum, dikit-dikit taman ini jadi gedng. Ada gedng Pariwisata, Graha Wisata sampai kolam bidadarinya menjadi restoran Boga. Dulu ada kebun binatang, tetapi dipindah ke Jurug, termasuk gajah raja Kyai Anggoro ang sdah almarhum. Tanah kebun jadi comberan kosong tak terawatt. Ada yang dipakai jadi markasnya Persis Solo, ada yang jadi markasnya mas-mas kemayu. Sekarang meski pengadilan memberi rest dimiliki kerabat bangsawan, tetapi tetap dihaki oleh pemkot, lal dibangun lagi meski peruntkannya masih ngakngikngok.


Di kanan Sriwedari ada bangunan kno yang kini menjadi museum Radyapustaka, jga di jaman PB X. Museum ini meneruskan kiprah PB IX yang pertamanya dididirikan di Widuran Kepatihan. PB X ingin megara puna gedung pustaka yang megah. Maka bangunan gedung milik Johanes Busselaar segera diminta dan dijadikan gedung museum dengan nama Radyaoustaka, atau perputakaan negara. Sayangnya, namanya mseum tetap hanya menjadi rmah benda-benda kuno yang sdah kehilangan makna dan keindahan unik dan antiknya karena tidak dipelihara. Adapun barang berharganyapun seperti sudah tidak berada di museum, tetapi masuk di kantong para penggemar benda antic. Ang bisa dibanggakan hanya kepala Kyai Rajamala, yang lain seperti tak bertuah dan tak punya nilai histori.



Tembok Bolong di jalan Maor Snaryo, dlnya adalah tangsi dan balai prajurit hingga menjadi gedung shinkhokan di jaman Jepang. Sebagian bangnan dijual dan menjadi Mall Beteng Plasa. Sebagian masih berdiri dan dipakai sebagai gedung veteran. Adapun bangnan paling timr menjadi tembok bolong yang paling mengerikan sebagai bangnan bertingkat jaman Londo yang masih bersisa di Solo.


Pura Mangkunegaran, luasnya sekitar 1 km2. Dibangun oleh Raden Mas Said yang kemudian menjadi KGPAA Mangkunegoro I. Puro atau istana ini dulunya milik Tumenggung Mangkuyuda. Daerahnya berada 2 km dari keratin Kasunanan Solo, berada di belakang Pasar Triwundu atau dulunya bernama Pasar Pon. Puro ini sudah dibangun sejak tahun 1957 sejalan diangkatnya Pangeran Samber Nyawa Raden Mas Said sebagai Mangkunegoro. Puro ini punya beberapa bangunan kuno. Diantaranya adalah: Istana Utama bernama Dalem Ageng, Pringgitan, Pendapa Ageng, Bale Warni, Prangwedanan Darmasugandan, Gedung Kavaleri, Langenprajan, Bale Peni, Kori Butulan Wetan dan Kulon.


Jalan di depan Mangkunegaran yang kini bernama jalan Diponegoro, dulu bernama jalan Ngarsopuro.



Bekas Kodim tepatnya di pertigaan jalan Bhayangkara dan jalan Slamet Riyadi, di gedung kuno itu ada patung Slamet Riyadi-nya. Bangunan ini dulu milik orang China Kwik Tjie Gwan, lalu beralih dibeli konglomerat Solo, Setiawan Djodi, lalu dijual lagi kepada peranakan China. Gedung di selalu berganti penghuninya. Sebelum dihuni Kodim, di jaman Jepang dihuni Funa Biki, penguasa Jepang di Solo.


Gedung Kusumayudan, gedung ini milik Pangeran Kusumayuda yang seharusnya menjadi PB XI. Tahun 1965-1970 geedung ini dipakai Universitas Cokroaminoto akhirnya dihancurkan dan dibangun Gedung Hotel Kusuma Sahid milim Sahid Gitosarjana.


Gedung Pintu Sanga berada di pertigaan jalan Bhayangkara dan jalan Rajiman, dulu adalah bangunan Rumah Sakit Militer Belanda. Karena tempatnya tidak begitu luas, lalu dipakai sebagai kantor perusahaan pembangunan kereta api NIS Belanda (Nederhlandsch Indische Spoorweg Maatscappij). NIS adalah pembangun jalan kereta api Semarang – Solo-Yogyakarta tahun 1864. Jaman merdeka milik PT Pertani, kini dibeli Sritex.


Gedung Monumen Pers Nasional, dulunya, di jaman sebelum merdeka merupakan gedung milik Mangkunegaran sebagai gedung pertemuan bvernama Soos (societeit) Mangkunegaran. Gedung ini dibangun oleh arsitek Jawa Atmodirono. Karena kosong, gedung ini dipakai Palang Merah Indonesia Surakarta, tetapi tahun 1980-an gedung ini direnovasi dan menjadi Gedung Pers Nasional. Daerah ini dulunya bernama perempatan Ngesus, tetapi kini nama itu tidak terkenal lagi.


Gereja Katolik Purbayan dan gereja Kristen Kalam Kudus di perempatan Gladag. Bangunan gereeeja Purbayan hingga kini masih terawatt dan belum pernah direnovasi karena gaya arsitektur yang indah dan kuat. Sedangkan gereka Kristen Gladag pernah direnovasi. Gedung-gedung ini dibangun sebelum trahun 1850.


Beteng Vastenburg, ini benteng yang bikin orang Solo ngelus dada. Benteng kuno ini di jaman walikota Hartomo, dijual pada pihak ketiga dan kini dikuasai grup Robby SUmampouw, pemilik Halley cafe. Benteng ini dibangun jaman Jendr Baron van Imhoff tahun 1775, selesai 1799. Dibangun untuk mengawasi keraton Kasunanan Solo.

Sajian Kampung Lojiwurung Solo

Kampung Lojiwurung, Nama yang Hilang


Kampung Baru adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Pasarkliwon Surakarta. Sejarah panjang dan menarik di kelurahan ini, dihilangkan tanpa makna oleh aparat pemerintah Balaikota Solo yang tak mampu menghargai makna sejarah.

Ada dua manusia nekad yang merasa bisa tampil beda. Ni Ngoro, cewek Indonesia dan Heintchedoocth, pria Jawa-Belanda. Keduanya pernah bersama-sama ‘sobo turut lurung’ (dolan menyusuri berbagai jalanan dan gang-gang) di kota Solo untuk mencari tahu asal usul penamaan kampung-kampung di Solo.

Heintchedoocth dan Ni Ngoro menuliskan tentang kisah mereka saat sobo turut lurung di kampung yang berada di tengah kota Solo, kelurahan di mana walikota berkantor yang disebut balaikota. Walikota Joko Widodo yang dipanggil Jokowi, ingin membangun Solo ke depan sebagaimana adanya Solo gaya lama. Ia sukses mengadakan pertemuan para walikota sedunia dari 50-an negara. Tetapi entahlah, nama-nama kampung dan gang-gang di Solo tidak dilirik. Nama gang-gang masih nyontek nama burung, nama pulau atau bunga, jadi masih terkesan abu-abu.

Kelurahan tempat Jokowi berkantor yang dimaksud Heintchedoocth adalah Kelurahan Kampung Baru. Ni Ngoro paling sering berkeliaran dengan Heintchedoocth di daerah ini. Kelurahan ini terdiri dari 6 RW. Batas kampungnya dari Gladag ke selatan sampai Kreteg Arifin, ke barat sampai Pring Gading, ke utara hingga pertigaan Jalan Imam Bonjol - Jalan Slamet Riyadi dan ke timur sampai ke Gladag lagi.

Heintchedoocth pernah menginap di Hotel Merdeka, dulu bernama Hotel Slier, hotel pertama yang ada di Solo pada zaman Belanda. Letaknya persis di depan Benteng Vastenberg. Hotel ini masuk Kelurahan Kampung Baru, namun kini tampak kosong, meski rupanya sering dipakai Bank Indonesia Solo untuk ‘tukar uang baru’ saat lebaran tiba.

Saat mengelilingi Kelurahan Kampung Baru, mereka mencatat adanya perkantoran seperti gedung Balaikota, ke utara gedung BI, lalu kantor pos, Bank Bukopin, gereja Protestan hingga perempatan Gladag. Dari pertigaan jalan Imam Bonjol, tampak Bank Haga, Bank Jateng, Penjara Solo, Bank Mandiri, Asuransi Bumi Putera, Bank Niaga dan gedung tertinggi Bank BHS yang masih kosong sejak dilikuidasi.

Bagi Heintchedoocth, nama Kampung Baru terasa tidak masuk akal. Wilayah ini berseberangan dengan Keraton Solo dan Benteng Vastenberg. Pasti daerah ini termasuk wilayah tua seumur berdirinya Keraton Solo. Heintchedoocth menanyakan, mengapa kelurahan ini bernama Kampung Baru? Bukankah wilayah yang sangat strategis sebagai pusat perkantoran ini bukan kampung yang baru dibangun?

Dari tanya sana-sini, konon di zaman pemerintahan Hindia Belanda, wilayah ini termasuk daerah banjir. Sebenarnya pemerintahan Kompeni Belanda yang terus memantau perkembangan keraton Solo, sangat berminat mendirikan banyak gedung-gedung di wilayah ini karena sangat dekat dengan keraton. Apalagi sejak PB (Pakubuwono) II sendiri tahun 1747, juga berminat membangun beberapa gedung untuk berbagai kepentingan, termasuk mengawasi kandang binatang hutan milik keraton yang juga ada di sini.

Tetapi baik raja maupun Belanda, semuanya membatalkan membangun daerah ini karena terus dilanda banjir. Loji-loji yang direncanaknan dibangun, urung didirikan disini. Akhirnya Kampung ini dinamai LOJIWURUNG. Hingga sekarang, keraton Surakarta masih menyebut wilayah ini Lojiwurung, bukan Kampung Baru.

Nama Kampung Baru dipakai setelah agresi Belanda tahun 1948. Yang memberi nama Kampung Baru, hingga kini pun masih gelap. Yang jelas sejak tertib administrasi ketika Raja Solo, Sunan PB XII bukan lagi sebagai gubernur dari Daerah Istimewa Provinsi Surakarta, Surakarta dimasukkan dalam wilayah Jawa Tengah dan menjadi Karesidenan Surakarta, Kelurahan Lojiwurung diubah menjadi Kelurahan Kampung Baru oleh para pegawai Balaikota Solo. Nama baru ini menghilangkan nama Lojiwurung.

Sebelum dinamai Lojiwurung, wilayah ini pernah bernama Krapyak. Krapyak artinya kandang binatang liar. Memang, dulu wilayah ini dijadikan kandang-kandang binatang liar seperti macan, babi hutan, beruang, menjangan, sapi, banteng dan serigala. Binatang itu hasil buruan raja, para pangeran, bangsawan dan prajurit keraton yang suka berburu ke hutan.

Jika di Spanyol ada jagoan gladiator yang diadu melawan Banteng, di keraton Solo juga ada gladiator. Aduan manusia (biasanya manusia hukuman atau para ksatria), diadu melawan binatang hutan yang dikandangkan di Krapak ini. Jika ada aduan manusia melawan binatang di alun-alun, rakyat akan datang berduyun-duyun. Kalah atau menang, binatangnya langsung disembelih, lalu dibagi-bagikan untuk rakyat. Adapun anak turunan para gladiator Jawa ini sudah buta pada kejuangan nenek moyangnya, sehingga tidak lagi ketahuan juntrungnya.

Selain itu, jika keraton punya kerja atau pada tanggal-tanggal tertentu dari hitungan Jawa seperti Muludan dan Suran, hewan liar yang dikandangkan di Krapyak (lokasinya berada di belakang Penjara Solo, masuk RW I Kelurahan Kampung Baru), pasti hewan-hewan ini disembelih dan dagingnya diperebutkan rakyat. Binatang liar itu digelandang dan disembelih di daerah yang kini bernama Gladag. Dari Krapyak, hewan itu ditarik paksa menggunakan tali dadung besar. Orang-orang mengatakan, hewannya di-gladag (diseret paksa). Maka daerah itu dinamakan Gladag.

Namun Belanda tetap menggunakan tanah Kampung Baru untuk membangun gedung-gedung penting karena dekat dengan keraton. Di antaranya gedung balaikota sebagai kantor Gubernuran dan Javache Bank (kini Bank Indonesia). Adapun nama Krapyak kini tinggal kenangan karena tidak ada alamat surat yang bisa sampai di Kampung Krapyak.

Jalan-jalan di Kampung Krapyak sudah diubah menjadi jalan yang diberi nama jalan Flores. “Nama jalan Flores ini menggelikan, sangat aneh dan lucu karena tak bermakna sesuai dengan histori dan faktor-faktor alam lainnya,” ujar Heintchedoocth. Kampung Krapyak sendiri masuk di wilayah Kelurahan Kampung Baru RW I. Daerah ini malah terkenal dengan nama balaikampung, sebab balaikampung Kelurahan Kampung Baru terletak di Krapyak ini.

Di timur Krapyak masuk wilayah RW II ada daerah yang bernama Kampung Kabupaten. Dinamai Kampung Kabupaten karena dulu, ada bupati di zaman Belanda yang bermukim disini. Bekas rumah dinasnya kini menjadi gedung Bank BPD Jateng atau Bank Jateng.

Di selatan gereja Protestan, dulu ada kantor polantas, namun kini sudah dibangun sebagai gedung Bank Bukopin. Di selatannya berdiri kantor pos Solo. Tanah kantor pos ini dulunya merupakan rumah loji milik seorang warga Belanda. Di sebelah selatannya inilah berdiri Hotel Slier tempat Opa Heintchedoocth suka menginap.

Satu bangunan joglo tua yang direnovasi mewah adalah Hotel Kusuma Sahid. Dulu lokasi ini milik putera PB X, KPH Kusumayuda yang pernah hampir menjadi PB XI. Mengapa hampir? Menurut cerita, Sang Pangeran terlalu lama mengeram di dalam kandungan Ibu Suri melebihi batas 9 bulan, bahkan hampir setahun. Padahal ada garwa padmi atau isteri raja lainnya yang juga mengandung dan melahirkannya tepat 9 bulan. Dialah putera raja yang akhirnya menjadi PB XI karena lahir lebih dulu beberapa hari dari Pangeran Kusumayuda. Ada gossip yang mengabarkan bahwa garwa padmi tadi minta bantuan dukun agar Pangeran Kusumayuda jangan lahir dulu sebelum anak yang dikandungnya lahir. “Wah, benar atau tidak, ya?” seru Heintchedoocth geleng-geleng kepala mendengar cerita ini.

Menurut tradisi, pangeran yang lahir lebih dahulu, dialah yang berhak atas tahta istana. Andai Pangeran Kusumayuda lahir 9 bulan dalam kandungan, bukan setahun, beliaulah PB XI-nya, karena saat itu kandungan garwa padmi baru 6 bulan. Adapun daerah rumah sang Pangeran kini bernama Kusumayudan, sedang rumah Kusumayuda pernah dipakai sebagai gedung Universitas Cokroaminoto sebelum menjadi Hotel Kusuma Sahid.

Di Hotel Kusuma Sahid ini pula, almarhum Sunan PB XII yang wafat tahun 2004, menjalankan roda Kerajaan Surakarta. Selama menjadi raja sejak 1945-an hingga wafatnya, PB XII melakukan topo broto “tidur di luar tembok keraton”. Mungkin sebagai tanda bahwa dirinya bukan lagi maharaja yang berkuasa, karena Indonesia telah merdeka. Sukamndani Sahid Gitosardjono menyediakan kamar khusus secara gratis kepada sang Sunan, lengkap dengan segala keperluannya. Bagi Sukamdani, ini tidaklah membebani, bukankah tanah hotel bekas milik paman Sunan, yakni Pangeran Kusumayuda?

Di Kelurahan Kampung Baru ini, Ni Ngoro dan Heintchedoocth tidak menemukan banyaknya nama-nama dukuh atau wilayah. Di RW I – III hanya ada nama Krapyak dan Kadipaten, tetapi nama itu lama-lama hilang. Di jalan ini ada pemain sepakbola yang ngetop di era 1980-an, namanya Didik Darmadi. Di sebelah selatan rumah Didik Darmadi adalah rumah Panglima TNI sekarang, Jendral Joko Santoso.

Jendral yang berparas seperti orang Timor ini putera asli Kampung Baru. Ayahnya bernama Joko Suyono, seorang guru. Semua puteranya diberi nama Joko. Ada Joko Santoso (sulung/Panglima TNI), ada Joko Pitoyo yang menjabat Kepala Perairan DKI, si pengurus banjir Jakarta. Di Solo, keluarga ini hidup sederhana. Rumah masa kecil Jendral Joko Santoso sekarang sudah dibangun cukup layak, ditempati adik perempan beliau.

Di dukuh Kadipaten, orang terkenal adalah keluarga juragan batik Harjosumarto. Keluarga ini kian tenar setelah salah seorang anaknya, Suhendra pernah berjuang menjadi kandidat walikota Solo sekitar tahun 2000 lalu, namun kalah dalam pemilu di DPRD. Sebagian rumah Harjosumarto dijual, lalu dikuasai keturunan Cina pedagang batik Pasar Klewer yang membangun rumah besar sekaligus menjadi gudang batik.

Jalan Ronggowarsito Kampung Baru merupakan jalan baru yang dibangun tahun 1970. Hanya ada 3 pemilik rumah yang diberi ganti rugi, selebihnya gratis. Maklum tanah di sekitar Balaikota, saat itu hanya berstatus HGB, bukan hak milik. Mereka yang mendapat ganti rugi adalah dukun Mangun Wiguna, janda Hendro dan tokoh PNI Soemowinoto (sudah almarhum semua). Tokoh Soemowinoto adalah veteran pejuang 45. Ia pernah ditugasi mencetak Uang Negara Darurat pada awal kemerdekaan saat ekonomi Indonesia belum stabil.

Cerita adanya uang yang dicetak di Solo ini sangat menarik. Heintchedoocth tidak habis mengerti, ada uang yang dicetak di kota Solo. Ternyata uang ini hanya berlaku selama setengah tahun. Dicetaknya hanya dengan kertas payung. Saat itu sekitar tahun 1946. Ceritanya, Komandan Sub Teritorial Commando sebagai Pangliman Divisi IV, Letnan Kolonel Mursito, bersama penguasa milter lain seperti Slamet Riyadi, Gatot Subroto dan Achmadi (entah apa pangkat militernya dulu), mengizinkan dicetaknya uang lokal yang hanya berlaku di daerah Karesidenan Surakarta.

Uang ini berlaku effektif sebagai alat tukar di Karesidenan Surakarta, yakni Kota Solo, Klaten, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo dan Boyolali. Sayangnya Heintchedoocth dan Ni Ngoro gagal mendapat dokumen uang kota Solo itu. Keturunan Soemowinoto tidak memiliki arsip bukti-bukti Uang Negara Darurat itu. Maklum, dicetaknya hanya memakai kertas payung. “Wa, sudah dimakan rayap…,” tukas Sundari Soemowinoto, salah seorang anak dari 16 anak Soemowinoto dari satu orang isteri (cek cek cek. Kalau zaman sekarang punya anak 5 saja sudah jadi bahan gunjingan).

Nah tokoh yang mencetak uang itu adalah Soemowinoto ini, waktu itu pangkat militernya Letnan II. Lokasi percetakannya di Gading (sekarang milik Soto Gading). Rumah Soemowinoto di sebelah kantor kelurahan Kampung Baru ini, sedangkan Letkol Mursito rumahnya di sebagian dari rumah Dadapmantep, orang paling kaya di bagian selatan Kampung Baru. Kedua tokoh Kota Solo ini tidak terabadikan dalam penamaan wilayah, dikalahkan penamaan nama burung, nama bunga atau nama gombal lainnya.

Di jalan Ronggowarsito Kampung Baru, sayangnya jalannya tidak lurus, memotong serong rumah-rumah, sehingga bangunan rumah di jalan ini tidak simetris. Jalan tengah kota itu tampak gersang, tak ada sebuah pohon pun yang tertanam. Ada sebagian pinggir jalan yang masih berupa rumah reot, sehingga tidak enak dipandang.

Di gang-gang sempit, ternyata tengah kota ini menyimpan rumah-rumah kumuh padat penduduk. Bangunan reyot, gang sempit, got mampet, WC bau, air sumur buthek, ramainya tangis anak-anak dan pertengkaran warga gara-gara sesendok nasi, mewarnai kehidupan warga yang papa. Mulut Heintchedoocth yang membingkai otaknya dengan kemiskinan di Indonesia, kadang menyesalkan tidak adanya upaya perbaikan.

Heintchedoocth dan Ni Ngoro maklum jika dulu kampung ini bernama Lojiwurung, yakni rumah-rumah gedong yang batal didirikan karena selalu banjir. Di tengah gang-gang sempit ini, tanahnya memang rendah, lebih rendah dari kali kecil penampung air buangan. Jangan heran jika hujan, daerah ini selalu banjir. “Itulah banjir peninggalan zaman kuno yang hingga kini masih abadi di Kampung Baru,” ejek Heintchedoocth.

Sewaktu melihat Kantor Balaikota Solo yang pernah disebut sebagai kantor Gubernuran, Heintchedoocth bertanya, mengapa disebut Gubernuran? Tentu tidak mengherankan. Tahun 1928, penguasa Belanda diangkat menjadi Gubernur, sehingga Balaikota pernah disebut Gubernuran. Rumah dinasnya, kini menjadi bank BNI 46, lokasinya tepat di depan Balaikota. Opa Heintchedoocth punya catatan tentang nama-nama Gubernur yang pernah berkuasa di Solo.

Pada class II di Solo, rumah dinas Pak Gubernur dibakar sampai hancur. Sedangkan bekas gedung kantor gubernuran, dibangun lagi tahun 1952 dan kini menjadi Gedung Balaikota Surakarta. Balaikota Solo dibangun dengan arsiteknya Bung Karno. Karpet merahnya juga habis dibakar massa PDIP pada saat Bu Mega kalah lawan Gus Dur pada sidang MPR tahun 1999, padahal karpet itu disumbang langsung oleh Bung Karno.

Balaikota menempati lahan sangat luas, mungkin sekitar 3 ha. Tahun 1960-1983, bagian belakang gedung ini masih berupa pepohonan yang angker. Penduduk di belakang tembok Balaikota sering kesurupan diganggu makhluk halus balaikota. Banyak orang yang sakit mendadak dan sakitnya aneh.

Tahun 1982 bagian belakang balaikota dibangun gedung-gedung perkantoran baru. Makhluk halusnya marah besar. Tembok pembatas yang dipakai sandaran tanah galian, ambruk. Tiga orang anak tewas. Gedung ini masih angker, di mana sampai tahun 1999 sebagiannya habis dimakan si jago merah. Tentang hal hantu-hantu balaikota, Heintchedoocth menanggapinya hanya tersenyum. Dia bilang, hantunya kini berambut hitam, suka mencuri uang lewat korupsi, katanya berseloroh. Gedung Balaikota diperbaiki lagi pada 2002.

Dua jalan yang membelah Kelurahan Kampung Baru adalah jalan Sugiopranoto dan jalan Ronggowarsito. Di jalan Sugiopranoto, dulu bernama jalan Asrama, sebab ada asrama serdadu Belanda, yang akhirnya menjadi asrama para pendeta, bruder, pastur dan suster dari gereja Katholik Purbayan. Di sini juga ada Yayasan Marsudirini yang mempunyai ribuan murid dari TK hingga SLTA.

Tepat di belakang Balaikota, berdiri Asmil Denpal Solo yakni Asrama Militer Detasemen Peralatan. Dulu DPLAD singkatan dari Dinas Peralatan Lalu-lintas Angkatan Darat. Selain itu ada juga polisinya tentara, yakni Polisi Militer. Di sebelah utara ada kantor PLN Solo. Satu lagi, penjara Kota Solo juga berada di Kampung Baru. Lahannya sangat luas, dikelilingi tembok tinggi, itupun masih dipagari kawat berduri. Karena namanya penjara, kedua sejoli ini malas mencari data adanya penjara di tengah Kota Solo.

Di bagian selatan Kampung Baru dibatasi Sungai Pepe. Di sepanjang sungai dari Kreteg Arifin sampai Pring Gading sekitar sekilo, daerah ini dulu adalah rumah dan halaman milik satu orang, yakni juragan benang lawe Ki dan Nyai Dadapmantep. Daerah ini namanya Kebalen.

Asal usul Kebalen sebagai kemudahan pengucapan ngGebalen. Nama ngGebalen sudah ada pada zaman Jepang masuk Solo tahun 1942. Sebelumnya orang menyebut “Wingking nDalem Kusumayudan” (belakang rumah Kusumayuda). Maklum, wilayah ini masuk daerah kekuasaan Keraton Kasunanan, dimana Putera PB X, Kanjeng Pangeran Kusumayuda bermukim disini. Lahan itu kini menjadi Hotel Kusuma Sahid. Tak heran sekitar Kebalen dulu bernama Wingking Kusumayudan.

Di zaman awal abad 20, Dadapmantep merupakan orang Solo paling kaya. Ia mendapat monopoli perdagangan benang lawe sebagai bahan utama pembuatan mori untuk kain batik. Anak cucunya banyak. Biasanya menjadi juragan batik. Meski kaya, makamnya di Kragilan Bonoloyo, tidak terawat, bahkan jarang dikunjungi anak cucunya. Selain itu, tak ada tanda-tanda namanya diabadikan sebagai nama dukuh, nama wilayah, nama gang atau nama kenangan lainnya.

Selama perjalanan mengelilingi Kampung Baru, Ni Ngoro dan Heintchedoocth tidak menjumpai sebuah situs yang bisa menceritakan sisi geografis, sosiologis atau semacam sejarah yang bisa disebut sebagai awal pembentukan nama Kampung Baru. “Ini nama abu-abu. Sebaiknya nama Kelurahan ini Krapyak atau Lojiwurung saja,” ujar Heintchedoocth penuh semangat. Loji adalah rumah gedung, wurung sama dengan urung atau batal. Tepat sekali jika nama Kampung Baru dikembalikan ke nama asalnya.

“Tetapi nama Krapyak lebih tepat,” ujar Ni Ngoro. Krapyak menggambarkan kandang-kandang binatang hutan liar hasil buruan para Pangeran, bahkan pernah diadu dengan manusia. “Nama Krapyak lahir seiring dengan lahirnya keraton di desa Solo ini,” tambah Ni Ngoro. Heintchedoocth menanggapi dengan berpantun:

Sudahlah Ni
Kita hanya sejoli liar
Tak punya nama, tak punya kuasa
Kita berjalan, mencari dan bertanya
Untuk siapa keringat ini mengalir?
Jangan lagi bersilat lidah
Lebih baik bergulat di mesin tulis
Jadi biarkanlah, walau mungkin,
Seribu tahun lagi
Keringat kita… baru terbaca

Sajian Kampung-kampung di Solo

Sobo Turut Lurung di Solo
Sebah perjalanan menyusuri kampung-kampung di Solo
JOWO LONDO DI GANG TUA

Dering telepon dari Belanda itu untuk Ni Ngoro, wanita kelahiran Jakarta yang sejak balita dibesarkan di Solo, kota budaya dimana eyangnya tinggal. Suatu hari ketika Ni Ngoro tidak lagi kerja kantoran, ia tertarik pada kisah kampung tempat tinggalnya. Ini bermula setelah kedatangan tamu dari Belanda, Rudd Rden Heintchedoocth, si penelpon dari Belanda tadi. Berkat Sinyo itu, Ni Ngoro kini rajin menyambung-nyambung cerita kampungnya yang dihubungkan dengan cerita, kisah dan nama para tokoh kuno di Solo.

Ni Ngoro sendiri punya nama panjang yang tak disukainya. Sejak mengenal makna-makna nama, herannya, ia tak peduli makna nama panjang dirinya. “Apalah arti sebuah nama,” kata seorang pujangga Inggris. Padahal ia paham, menurut ahli spiritual di kota Solo, makna nama bisa terbawa pada nasibnya. “Nama harus punya makna, bukan datar, antah berantah! Nama tidak boleh serba asal, jangan abu-abu, tak punya arah, takutnya tak bertujuan.”

Jadinya sekarang Ni Ngoro giat cari data, lalu dikonsep dan sudah sedikit dibuat film-nya, berkenaan dengan cerita tentang asal-usul nama kampung-kampung di Solo. Istilahnya toponimi.

Ide awalnya bermula dari rasa heran Heintchedoocth yang tak bisa dijawab Ni Ngoro. Heintchedoocth bertanya, mengapa ada nama jalan yang diambil dari nama burung, nama binatang, nama bunga atau nama pulau-pulau. Memangnya Solo tak punya asal-usul, cari nama saja nyontek nama burung?

“Ini tak masuk akal. Mungkin orang yang beri nama kehabisan ilham, atau tak paham sejarah. Celakanya jika asal beri nama. Tak heran, banyak nama abu-abu di gang-gang kota Solo,” begitulah keheranan Heintchedoocth. Mulanya, Ni Ngoro tak begitu peduli dengan pertanyaan itu.

Sekarang jika ingat nama gang-gang di kampung-kampung, dada Ni Ngoro jadi ikut sesak. Kota tua Solo jadi kota tua yang ternoda maknanya. Padahal namanya kota pusaka, mau adakan konverensi besar-besaran tentang kota pusaka sedunia Oktober ini.

Tentu rusaknya nama-nama gang di kota Solo bukan karena urban besar-besaran dari desa (sejak 1980an) yang bikin Solo berkembang tanpa kendali. Ni Ngoro sungkan jika Heintchedoocth ikut resah tentang nama antah berantah itu. Heintchedoocth ini adalah cucu mantan perwira Hindia Belanda di kota Solo sekitar tahun 1930-an, namun ia juga cucu seorang Kanjeng dari Mangkunegaran. Artinya ia memang seorang indo.

Heintchedoocth pertama kali ke Solo diajak opanya. Saat itu usianya baru 7 tahun. Maunya menginap di Hotel Slier, itu hotel di jaman Belanda saat Opa Heintchedoocth masih berkuasa di Solo. Tetapi hotel itu sudah berganti nama menjadi Hotel Merdeka. Ketika Heintchedoocth datang tahun 1981, hotel itu tak ada lagi, tanahnya terbiarkan merana dihuni setan. Kabarnya mau dibangun dan jadi kantor Bank Indonesia. BI sendiri mau dipakai museum. Heintchedoocth ingat, menurut cerita opanya yang sudah almarhum, BI Solo itu, dulu adalah Javache Bank milik Belanda.

Heintchedoocth mengeluh pada Ni Ngoro, ia merasa kehilangan banyak kenangan di Solo. Perasaan ini sama dengan perasaan opanya. Ni Ngoro tidak terkejut ketika Heintchedoocth berpendapat, “Kota Solo sudah berubah. Dulu aku merasa menjadi orang Jawa berbudaya Jawa ketika masuk Solo. Waktu ke rumah famili di Punggawan, disana penuh dengan nama Jawa. Sekarang bangunan joglonya sudah kusam dan tinggal satu dua. Yang di Widuran kian singup. Di Kauman saja masih belum berubah banyak,” kata Heintchedoocth.

Pertamanya Ni Ngoro tidak sependapat dengan Heintchedoocth. Ni Ngoro meyakini dunia mengalami perubahan secara kontinu. Perubahan adalah alamiah, sama seperti air mengalir. Bahkan setiap dasawarsa, ada penemuan baru yang membuat dunia berkembang pesat. Tahun 1945, Jakarta adalah kampung besar. Sekarang macet dimana-mana! Jadi andai rumah dan kota tidak dibangun menjadi gedung dan kota modern, pasti ketinggalan jaman.

Heintchedoocth membenarkan, tetapi kenangan yang dimaksud adalah goresan tinta emas pada situasi alamiah yang tergulir masuk dalam bathinnya. Sebuah situasi yang bisa membangkitkan perasaan yang sangat menyentuh hati. “Hanya sekali aku ke Borobudur, tetapi kenangan sehari disana, sulit hilang. Mengapa? Karena ada memori yang masuk dalam bathinku, di alam bawah sadar, bahwa aura Borobudur, sampai kapanpun, tetap ada dalam hatiku. Itu maksudku.”

Pada akhirnya Ni Ngoro mengerti dan tiba-tiba saja ia jadi sangat terkesan oleh kata-kata Heintchedoocth. Kesan ini langsung menggelorakan niatan untuk mencari tahu, apa sebenarnya yang dipunyai kota Solo, yang mampu membuat aura Solo merasuk dalam alam bawah sadar siapapun yang pernah menghirup udara Solo!!!

Itulah yang membuat Ni Ngoro sangat peduli pada makna nama kampung-kampung di Solo. Heintchedoocth mengira, Solo kota yang indah, bersejarah, dibangun zaman Belanda. Ia berharap Solo tetap seperti bayangannya, kota pusaka.

Kali pertama Heintchedoocth ke Solo, militer Indonesia curiga terhadap kehadiran opanya yang dikira CIA. Saat itu tepat ketika terjadi huru-hara pembasmian PKI. Opanya mencatat, tepat pada Oktober 1965, PKI berkhianati. PKI mau membuat negara komunis. Aksi-aksi sepihak memprotes landreform, meneror dan show of force lewat berbagai cara, digerakkan dengan nekad. Pada 1 Oktober, orang Solo dikejutkan siaran RRI Jakarta yang mengabarkan Gerakan 30 September. Malamnya ada isu Dewan Revolusi. Esok harinya Opa Heintchedoocth mendengar dari radio bahwa Walikota Solo Utoyo Ramelan mengumumkan terben­tuknya Pemerintahan Dewan Revolusi Daerah Kotamadya Surakarta.

Sebenarnya Omanya minta mereka segera meninggalkan Indonesia. Namun karena Opa berbesanan dengan priyayi agung Mangkunegaran, mereka merasa masih aman berada di Solo.

Benar juga, sepekan kemudian Batalyon Divisi Diponegoro yang tadinya pro Dewan Revolusi, menyatakan setia kembali kepada Pangliman Divisi Diponegoro. Namun Opa Heintchedoocth yakin bahwa meski media mengabarkan Jawa Tengah aman dan terkendali, sebenarnya penuh bara api. Apalagi Kol Yasir Hadibroto adakan rapat dengan berbagai golongan anti komunis untuk me­nentang Dewan Revolusi.

Di saat hawa politik di Solo memanas, Heintchedoocth kecil uring-uringan. Ia dijanjikan diajak menikmati indahnya kota Solo. Yang terjadi malah banyak asap hitam akibat beberapa toko dan kantor PKI dibakar. Untunglah, keluarga eyangnya yang Kanjeng, masih dapat membawanya ke daerah-daerah seperti di Banjarsari, lalu ke beberapa kampung legendaris dan pesiar di Tirtomoyo. Padahal maksud ajakan itu untuk menyelamatkan Heintchedoocth jika terjadi sesuatu di Hotel Merdeka, daerah yang berada selangkah dari pusat kerusuhan di Balaikota Solo.

Tetapi ketika pada 22 Oktober, Heintchedoocth akan diajak ke Boyolali, rencana ini batal. Ada pemogokan bus di Gemblegan Solo. RKP (Regu Kerja Pemuda) dan Pemuda Rakyat yang underbouw PKI, melarang sopir bus beroperasi. Mereka menghalangi aktivis PNI menghadiri pemakaman Jendral Katamso di Yogya. Heintchedoocth akhirnya hanya tinggal di hotel saja.

Suasana di sekitar Hotel Merdeka sangat panas. Para pemuda datang dari halaman Mesjid Agung setelah sholat Jum’atan menyambut RPKAD di Solo. Lalu mereka demo anti PKI. Dari jarak tak lebih 1000 meter dari hotel, Heintchedoocth kecil melihat percetakan Populair dibakar, sama seperti toko-toko di Singosaren yang sudah merah menyala karena api. (Sewaktu Heintchedoocth datang lagi ke Solo tahun 1981, tanah Populair ini sudah menjadi gedung BCA Slamet Riyadi sekarang).

Di catatan opanya, Heintchedoocth tahu bahwa ketika demonstran memasuki kantor Pemuda PKI bernama CGMI, terdengar serentetan tem­bak­an dari arah timur, diperkirakan dari sekitar Beteng. Beberapa demon­stran tersungkur kena peluru. Jumlah korban 4 tewas dan 14 luka tembak. Para demonstran menjadi panik, terpecah dan kocar-kocar lari cari selamat.

Karena massa PKI terpancing, malam harinya mereka mencegat pendemo di Peterongan, Warung Pelem, Kampung Se­wu dan Sangkrah. Hasil tangkapan berupa para pendemo anti PKI, dibawa ke Kedungkopi (dulu namanya Putat) dan dihabisi disana sebanyak 22 orang korban mati mengenaskan.

Heintchedoocth heran, ketika mengajak Ni Ngoro ke Kedungkopi, seolah disini tak ada cerita pembantaian yang amat keji. Padahal masih terbayang jelas di pelupuk matanya, semacam trauma masa kecil, ketika melihat banyak darah di depan hotel Merdeka tempatnya menginap, dulu di tahun 1965 pas pendemo ditembaki membabi buta.

Kini, apakah semua sudah garing, sebab tak berbekas lagi. Tak ada tanda kedukaan. Mungkin tidak perlu dikenang, begitu pikirnya menetramkan diri. Padahal seingat Heintchedoocth, masih ada korban yang lolos dari maut Kedungkopi dan baru meninggal setelah tahun 2000. Dia kecewa, tak satupun tanda yang bisa dikenalinya, padahal trauma masa kecilnya itu, belum sembuh hingga kini.

Heintchedoocth dan Ni Ngoro berhenti di perempatan Warung Pelem. Heintchedoocth ingat saat berkunjung ke Solo tahun 1981, di sekitar inilah seorang pribumi dihakimi warga keturunan yang menyulut bakar-bakar di kota Solo dan menjalar hampir di seluruh pulau Jawa dan Indonesia. Namun ia pun tidak menemukan tanda-tanda pernah ada kerusuhan besar di Solo. Rupanya, Heintchedoocth sering berada di tempat di mana ada pergolakan di Solo. Pantas Solo disebut sebagai kota barometer politik Indonesia.

Ni Ngoro dan Heintchedoocth lalu blusak-blusuk di berbagai gang dan kampung-kampung. Orang sering bingung dengan perjalanannya yang tak henti dengan sejuta tanya. “Meneer ini mau bikin thesis, bantu LSM, motret kemiskinan berkedok ilmuwan atau mencari kuburan nenek moyang yang mati dipedang jaman revolusi?” begitu penduduk pribumi bertanya-tanya.

Ni Ngoro tertarik mengenal Heintchedoocth karena ia berbeda dari stereotype sinyo-sinyo Belanda. Mungkin tak mengherankan karena kakek neneknya dari pihak ibu adalah pribumi Jawa tulen. Dulu ketika Indonesia dikuasai Jepang, Opa Heintchedoocth lari ke Australia. Ketika terjadi class tahun 1948, Opa balik ke Solo. Karena anak lelakinya kawin dengan penduduk pribumi, baru tahun 1955 Opa Heintchedoocth memboyong anak mantunya ke Belanda.

Heintchedoocth lahir tahun 1957. Sudah 4 kali datang ke Indonesia, pengetahuannya tentang kota Solo melebihi penduduknya sendiri. Dulu ia suka melihat keramaian pasar Yaik di perempatan Pasar Pon. Sekarang namanya diganti pasar Triwindu gara-gara HUT Mangkunagoro yang bertahta ke 24 tahun. Heintchedoocth juga berkunjung ke Perempatan Ngapeman mencari apem kesukaan Opanya. Namun mana ada apem disini. “Dulu disini ada pasar sepeda onthel bekas. Sekarang menjadi Hotel Novotel!” Ketika mencari benda pecah belah di Pasar mBeling, ia hanya menemukan penjual bakso dorong, tanpa ada pasar yang menjual barang pecah belah sebagaimana nama pasarnya, Pasar mBeling.

Ni Ngoro juga pernah mengajak Heintchedoocth ke Alun-alun. Ia melongo. Mengapa? “Kata Opa, hamparan lapangan Alun-alunnya bukan rumput, tetapi pasir.” Ni Ngoro tersenyum, lalu menjelaskan bahwa ketika Jepang masuk Solo, pasirnya diganti rumput. “Andai diganti pasir lagi bisa, kan? Tapi pasti beayanya tinggi, lebih baik beli BBM untuk rakyat miskin!”

Ni Ngoro jadi ingat biografi Barack Obama. Ketika diboyong ayah tirinya ke Indonesia, hanya kemiskinan saja yang terbingkai di memori calon Presiden Amerika itu, sama seperti Heintchedoocth yang tak pernah lepas dari kata miskin di mulutnya ketika bludas bludus di gang-gang kota Solo.
---000----

Pagi-pagi kedua kawanan Jalond (Jawa-Londo/Belanda) itu berjalan-jalan dari Gondang sampai Kampung Sewu dan Tanggul. Hebatnya, keduanya menyusuri pinggir kali Pepe. Jika pingiran kali tak bisa dilewati, mereka menyusuri lewat rumah penduduk. Perjalanan ini menghabiskan waktu sehari. Heintchedoocth giat mencatat hal-hal yang membuatnya kagum.

Dari Gondang, Sambeng, Balapan, Jageran, Pasar Legi, Kebalen, Kreteg Arifin, Pasar Gede, Kreteg Gantung, Kedunglumbu, Kampung Sewu hingga menembus sungai Bengawan Solo, notes Heintchedoocth penuh dengan cerita yang mengawali pembentukan nama-nama di daerah itu. Catatan itu akan diaduk-aduk dan dipadu-padankan dengan catatan harian opanya, lalu disambung dengan catatan Ni Ngoro.

“Ini satu-satunya sungai yang melewati tengah kota sepadat Solo. Heran, mengapa airnya kering? Kemana orang Solo membuang air?” tanya Heintchedoocth

Esok paginya mereka menyusuri rel kereta api dari stasiun Sangkrah lewat jalan Slamet Riyadi hingga stasiun Purwosati. Jalan pusat kota ini satu-satunya jalan kota yang masih aktif dengan kereta api antiknya dari Wonogiri. Di catatan opanya, Heintchedoocth ingat bahwa jalan Slamet Riyadi itu dulunya bernama Jalan Wilhemina. Di jaman Jepang namanya berubah menjadi Jalan Purwosari Weg, kini bernama Jalan Slamet Riyadi.

Adapun kereta apinya dulu hanya satu gerbong, ditarik 6 ekor kuda. Ini aneh, kata Heintchedoocth tertawa. Baru 5 tahun kemudian tepatnya 1905, datang loko beneran dengan tenaga batubara. Uap lokonya mengepul hitam, jalannya pelan, persis seperti jalannya puteri Solo. Dulu ada banyak halte. Berangkat dari halte Vastenburg, kereta menuju halte Kauman, lalu halte Derpoyudo Nonongan, halte Pasar Pon, halte Sriwedari, halte Pesanggrahan Ngadisuryan, stasiun Purwosari dan berakhir di Gembongan Kartosuro.

Kata Opa Heintchedoocth, hanya orang asing, saudagar pri­bu­mi dan bangsawan keraton yang sering naik kereta ini, rakyat jelata takut karena tak punya uang. Rakyat naik dokar, andong atau gerobak sapi. Pada saat itu jalanan masih nyaman dilalui karena banyaknya pepohonan besar sehingga tidak panas. Penduduk yang berdiam di pinggir jalan selalu menyediakan kendi air untuk musafir yang kehausan.

Esok pagi lagi, Jalond itu ‘sobo turut lurung’ dari Jurug, menyusuri pinggir kali Bengawan Solo melewati Kampung Sewu, Pasar Kliwon hingga Gading dan masuk keraton Solo. Hari-hari selanjutnya mereka menyusuri di hampir 51 Kelurahan di kota Solo. Sungguh sebuah perjalanan selama 2 minggu yang sangat menawan. Hawa di Solo cukup panas sehabis musim hujan, tetapi tak mengurangi gairah mendapatkan data-data yang menarik.

Sampai terdesak waktu, Ni Ngoro dan Heintchedoocth membuka catatan pinggiran, maksudnya pinggir kali dan pinggir jalan dalam rangka “sobo turut lurung kota Solo”. Keduanya gotong royong membuat jalinan cerita tentang lahirnya kota Solo hingga mencatat banyaknya situs-situs yang hilang tanpa makna.

Solo mulai tumbuh sebagai desa becek pada 1745 ketika PB II memindahkan keratonnya dari Kartasura ke desa Sala. Ni Ngoro menulis awal-awal ceritanya sbb: Sebelum ada kerajaan Surakarta, desa Sala sering banjir. Penduduknya belum banyak, su­a­sananya sepi, jika malam se­nyap ka­rena gelap, setan-setan pun berkeliaran. Orang sering takut jika keluar malam, apalagi se­habis hujan, jalanan sangat becek. Rumah penduduk masih bertembok gedhek, berlan­tai tanah dan beratap ilalng.

Heintchedoocth tersenyum membaca kata awal tulisan Ni Ngoro. Lelaki cerdas itu memang bisa berbahasa Indonesia dari ajaran mamanya. Ia minta Ni Ngoro mengurai bagaimana Sala kini disebut Solo, sedangkan pemerintahan formalnya disebut Surakarta. Konon kata Solo hanya permudahan ejaan Bau Soroh, jabatan abdidalem keraton yang mengurusi pelabuhan sungai Bengawan di Bandar Beton. Pendatang sulit mengeja kata Soroh dan terpeleset menjadi Sala, hingga akhirnya Bau Sorohnya disebut Sala.

Kepindahan raja dibarengi pergantian nama kerajaan Kartasura menjadi Surakarta, kotanya disebut Sala sesuai nama desa Sala. Sungai Bengawan namanya ditambah Sala. Jadi sungai Bengawan Sala yang memberi nama adalah PB II, seru Heintchedoocth. Dulunya sungai Bengawan Sala itu hanya bernama sungai Bengawan saja.

Eyang Kanjeng membenarkan penamaan itu. Beliau ikut membantu memilahkan pemben­tukan nama kampung di Solo yang diambil dari kebiasaan, karakter, logat baha­sa atau kepentingan politik. Pertumbuhan Solo juga dikotak-kotakkan dalam satu ko­muninitas. Misalnya komunitas China di Mbalong, sedangkan keturunan Arab di Pasar Kliwon.

Di Banjarsari, Belanda menamakan Villa Park. Daerah ini cukup indah, sejuk dan nyaman. Dulu pernah rusak karena dipakai Pasar Klithikan atau Pasar Maling. Sekarang dibuat hampir menyerupai jaman Villa Park. Ba­ngunan loji milik none-none londo masih tersisa. Opa Heintchedoocth pernah tinggal di Villa Park ini sekitar 6 bulan pada tahun 1930-an sebelum dipindah ke Benteng Vastenburg di Gladag.

Sewaktu Jalond sobo di Kauman, didapati pembentukan nama berdasarkan penguasa, tokoh atau orang terhormat disitu. Disana ada kampung Modinan. Dulu memang tempat tinggal para modin. Sekarang, Pak Modin-nya masih ada, tetapi tidak lagi tinggal disini. Di Ketibanoman, nama kampung di jalan Trisula ini diambil dari nama Bupati Keraton bernama Ketib Anom yang tinggal disini. Nama daerah Intip Kuningan pun demikian. Dulu ditinggali Raden Intip Kuning. Disini banyak orang yang magersari. Di dukuh Trayeman, dulu tinggal Raden Trayem. Di Dukuh Sememen, ditinggali Kanjeng Sememi. Sedangkan di Dukuh Pringgokusuman, dulunya tinggal KRT Pringgokusuma. Di dukuh Kamitan, dulu tinggal tokoh batik Haji Kamit, orang paling kaya disini.

Yang membuat mereka tersenyum adalah Kampung Keplekan, lokasinya paling timur, tepat di belakang gedung BCA. Sekarang sudah menjadi daerah perluasan Pasar Klewer. Nnamanya Keplekan meski dekat dengan Masjid Agung dengan penduduk para santri. Tetapi setiap hari ada saja orang yang bermain judi kartu keplek disini. Kenapa para santri tidak marah? Sebab yang bermain adalah para bangsawan keraton, sehingga daerah ini dinamai Kampung Keplekan. Cecck ceck ceck.

Heintchedoocth ingin meneruskan cerita tentang Kalurahan lain di Kecamatan Pasar Kliwon. Misalnya Kedunglumbu atau Baluwarti. “Daerah itu punya cerita legenda yang sangat hidup. Aku mau membuatnya menjadi sebuah novel,” elak Ni Ngoro menolak.

Bagi Ni Ngoro, kisah perseteruan segita Gladag sangat menarik. “Gladag itu perempatan, bukan segitiga,” bantah Heintchedoocth. Namun Ni Ngoro punya asumsi sendiri bahwa segitiga yang dimaksud bukan pertigaan jalan, tetapi perseteruan segitiga sekaligus kongkalingkong antara Raja Paku Buwana, pemerintah Belanda dan Kadipaten Mangkunegaran. Gladag akan dijadikan simbol perseteruan itu oleh Ni Ngoro. Heintchedoocth tertarik mendengar asumsi Ni Ngoro.

“Di Gladag pula, dua budaya saling beradu, budaya Jawa dan Budaya Eropa. Bukti-bukti bisa dilihat dari bangunan gedung yang masih tersisa. Lihat, di satu wilayah berdekatan, ada bangunan keraton, ada Mesjid Agung, tetapi juga ada Javache Bank, Benteng Vastenburg, Gereja Kalam Kudus, kantor Gubernur Jendral Belanda (sekarang Balaikota), dan rumah dinas Gubernur (sekarang BNI 46). Daerah ini bukit adanya corak 2 budaya, Jawa dan Belanda yang dipaksakan beradu di Gladag.”

“Wah benar. Setelah Belanda membangun Vastenburg tahun 1775, raja Solo langsung mendirikan Panggung Sanggabuwana tahun 1782. Bentuk diplomasi sang raja, panggung itu untuk upacara ritual saat Ratu Selatan berkunjung ke keraton. Padahal tujuannya saling mengintai gerakan militer masing-masing! Hebat!!! Jika aku hidup di jaman itu, kemana aku memihak? Wah… aku tak sabar, buatlah artikel Perseteruan Segitiga Gladag, Ni!” pinta Heintchedoocth yang disanggupi Ni Ngoro.

Selanjutnya Heintchedoocth membuka catatan sejarah kampung Kadipolo. Di kampung ini, ada Pakde, kakak mamanya yang tinggal disini. Menurut Pakde, pembentukan nama Kampung Kadipolo sa­ngat unik. Pertamanya, kampung ini bernama Talangwangi. Waktu membangun keraton, raja mendengar tanah desa ini berbau wangi. Raja ingin keratonnya diurug tanah ini. Penduduk diwajibkan memberi upeti tanah ini dan langsung diantar untuk diurugkan di rawa-rawa desa Sala. Karena rawa yang diurug sangat besar, penduduk sangat kele­lahan. Istilah Jawanya seperti “koyo dipolo” (dipiloro/disakiti, dicambuk). Maka kam­pung di desa Talawangi itu akhirnya disebut Kampung Kadipolo.

Isteri Kanjeng yang penduduk asli kampung Talangwangi pernah mendengar cerita turun temurun. Untuk mengangkut tanah, mereka gunakan gerobag. Dalam sehari serombongan penduduk harus mengangkut sebanyak 5 kali. Jarak tempuhnya sekitar 3 km. Karena keraton harus selesai dibangun 1 tahun, kerja bakti ini dilakukan secara marathon. Bayangkan, tahun 1744 pasti belum ada angkutan truk dan jalan mulus. Begitupun, penduduk desa juga masih sedikit. Apakah tidak ada upah? “Namanya juga upeti, makan cari sendirilah. Maka koyo dipolo itu!” jelas Ni Ngoro.

“Seperti apa bau wangi tanahnya?” tanya Heintchedoocth. “Mungkin seperti kembang telon (bunga 3 macam/warna). Maklum banyak tumbuh bunga-bungaan di Talangwangi.”

Dalam catatan Ni Ngoro, tanah bagus di dekat desa Sala justru dihuni patih keraton. Letaknya sekarang di Kepatihan. Daerah ini termasuk kampung paling tua. Dibangunkan untuk patih Kasunanan Surakarta, KRA Sasraningrat tahun 1769. Sang Patih memba­ngun rumahnya di Jalan Sanggihe, Kepatihan Wetan. Karena rumah patih, daerah ini disebut Kepatihan. Sekarang sebagian areal rumah kepatihan ini dipakai oleh kantor Kejaksaan.

Suatu kali, Ni Ngoro dan Heintchedoocth bertengkar. Heintchedoocth ingin bercerita secara runtut antar kampung, tetapi Ni Ngoro ingin mengurutkan berdasarkan kelompok asal-usul dan tahun kelahirannya. “Kalau begitu, kita bahas Baluwarti. Itu kampung bolwerk, sangat seru di balik tembok tinggi keraton!” seru Heintchedoocth. Ia sangat terpesona oleh budaya yang masih sangat ‘jawani’ disini. Apalagi datanya diperoleh dari keluarga Kanjeng Mloyomiluhur.

Heintchedoocth tertawa geli ketika tahu bahwa kata Baluwarti berasal dari bahasa Belanda bolwerk yang artinya adalah "benteng". Asal kata dari bahasa Belanda itulah yang mengawali keingin-tahuan Heintchedoocth untuk mengaduk-aduk topinimi daerah Solo, yakni sejarah asal usul pembentuk nama suatu daerah. Ia merasa bangga sekali jika ada penamaan daerah yang berbau Belanda-Jawa.
Heintchedoocth tertawa geli oleh nama kampung yang berasal dari bahasa atau nama orang Belanda yang terjawakan, lalu berubah ejaan sesuai lidah Jawa. Kata overste, di lidah Jawa jadi obrus, lalu disebut Kampung Ngebrusan. Kampung Beskalan dari kata Ambtenas Belanda ber­pangkat Beskal. Nama Kampung Jageran berasal dari rumah serdadu Be­landa bernama Jager. Kampung Petoran diambil dari orang Belanda di kampung ini bernama Petor. Kampung Jurnasan ditinggali Jurnas, Kampung Kestalan berasal dari kandang kuda yang bahasa Belandanya Stal.
Ni Ngoro jengkel, Heintchedoocth terus tertawa tiada henti. Maka ia kembali membahas Kampung Baluwarti. Kini mereka berdebat tentang makam Kyai Gede Solo III yang makamnya berada di pojok Baluwarti. Tokoh inilah yang paling berpe­ngaruh atas berdirinya keraton di tanah desa Sala.

Heintchedoocth menganggap Kayi Gede Sala sebagai pahlawan pembela rakyat sejati. Tanpa perannya, rakyat desa Sala yang tergusur pembangunan keraton, tak akan mendapat ganti rugi. Mereka hanya diberi kayu gelondongan. Demo rakyat Kyai Gede Sala diwujudkan dengan membuka sumber air dan menaburkan ikan laut hidup sehingga tanah desa Sala menjadi lautan rawa-rawa. Itulah bentuk demo rakyat di jaman kuno.

Ni Ngoro bersikeras bukan demikian cerita yang sebenarnya. Ia mengingatkan nama Raden Pabelan, pemuda yang menodai Puteri Hemas anak raja Hadiwijaya. Don Yuan itu ditemukan sudah menjadi bathang (mayat) di sungai dekat rawa-rawa desa Sala. Namun Heintchedoocth yakin bahwa asumsinya lebih realistis. Kyai Sala dianggap pintar berdiplomasi mengulur waktu hingga raja membayar ganti rugi dengan cerita mistis Raden Pabelan, putera Tumenggung Mayang yang ketahuan dibunuh hulubalang keraton dan mayatnya dihanyutkan di sungai.

Jelas bahwa tenggang waktu Raja Hadiwijaya berkuasa dengan penemuan mayat berselisih hampir dua abad. Raja Hadiwijaya berkuasa tahun 1568-1582, sedangkan pembangunan keraton tahun 1744, saat dimana Kyai Gede Solo bertapa bertemu dengan Raden Pabelan.

Maka Ni Ngoro dan Heintchedoocth itu berdebat lagi. “Abad 18, tanah Jawa masih kental dengan aroma mistis!” ujar Ni Ngoro. Heintchedoocth tertawa keras. “Bagiku, utusan PB II seperti Sindurejo, Hohendorp, Pringgalaya, Hanggawangsa, Mangkuyuda dan Puspanegara adalah para makelar yang gampang diping-pong Kyai Gede Sala!” ejek Heintchedoocth

“Lihat bukti toponimi Kampung Bathangan dan Sangkrah. Kampung Bathangan berasal dari penemuan bathang (mayat) Raden Pabelan, sedangkan Kampung Sangkrah berasal dari tempat mayat Raden Pabelan ditemukan. Kini, makamnya masih dikeramatkan, berada tepat di tengah keramaian gedung Benteng Plaza dan PGS!” jelas Ni Ngoro.

“Kamu percaya pada karangan Kyai Gede Sala? Ia bilang setelah tiga hari tiga malam bertapa, ia bermimpi ketemu Raden Pabelan yang sudah terkubur 2 abad lamanya. Bualan macam mana itu, jangan-jangan hanya ketemu wewe gentayangan?” Heintchedoocth tak dapat menahan tawa ngakaknya menyanggah cerita di buku Babad Tanah Jawa.

“Hei Boy, kamu Londo yang tak bisa mengerti kejawen,” balas Ni Ngoro. Lalu Ni Ngoro berkhotbah tentang kejawen untuk mengingatkan darah Mangkunegaran yang menempel pada Heintchedoocth.

“Namaku Ruud Rden Heintchedoocth. Kamu tahu Ni, Rden itu singkatan Raden menurut mamaku agar aku tak lupa pada eyang Kanjeng dan tanah Jawa. Tetapi aku hidup di Belanda, aku sekolah fisika dan otakku terbiasa berpikir matematis! Sudahlah, lebih baik kita membahas kampung lain. Dengarlah, kubacakan catatanku….”

Heintchedoocth membaca catatannya keras-keras. “Nama Kampung Gadhing bukan berarti gudang gading gajah. Inilah domisili abdi dalem yang berkewajiban Gadhingan. Gadhingan adalah para te­tua, penasehat dan spiritualis keraton yang ‘lelaku’ untuk tujuan suci lahir ba­thin bagi kepentingan keraton. Maka daerah itu disebut Kampung Ganding.” Ni Ngoro langsung menanggapi sambil berseru, “Percaya tidak, itulah kejawen!” Heintchedoocth tersenyum kecut.

Ia langsung membaca catatan pembentukan nama kampung dari kelompok abdidalem berdasar­kan keahlian. Gandekan daerah domisili para gandhek, Wiji Pinilihan domisili prajurit magang hingga terpilih diangkat tetap. Saragenen domisili prajurit Kaparak Sarageni. Jayatakan, domisili prajurit Tohpati (berani mati). Masih ada lagi Jagalan, Gajahan, Carangan, Kepunton, Baturana, Serengan, Kerten, Kalangan, Kemlayan, Wirengan dll.
Ni Ngoro mengganti bahan bicara dengan menyebut nama Mangkunegaran. Ia yakin, Heintchedoocth pasti tertarik. “Mangkunegaran juga punya andil dalam penamaaan kampung-kampung di Solo. Kampung Margoyudan, tempat latihan perang legiun Mangkunagaran.” Setabelan berasal dari salah eja lidah Jawa menyebut meriam sebagai Setabel. Gudang penyimpatan setabel Mangkunegaran dinamakan Setabelan. Para Punggawa Nalapraja dari luar kota diinapkan jika akan menghadap Mangkunagara, kampung inap ini disebut Punggawan. Kebiasaan pangeran timur (masih muda) nongkrong, dinamai Kampung Timuran. Tetapi disini juga tinggal Pangeran Timur.
Ni Ngoro memilah penamaan kampung berdasarkan kondisi alam. Misalnya, akibat sering banjir disebut Tambaksegaran karena air luberan kali Pepe membajir seperti segara (laut). Rumah gedung (Jw-loji) yang batal (Jw-wurung) dibangun karena daerahnya sering bajir disebut Kampung Lojiwurung. Kampung Pringgading berasal dari kata pring kuning gading yang banyak tumbuh disini. Kampung Mesen karena banyak alang-alang, sehingga penguasa memungut ongkos satu sen sebagai emes-emese bagi peternak yang angon disini. Sedang lokasi gudang pari disebut Kampung Keparen.
Heintchedoocth meletakkan pena dan catatannya. Ia mengajak berbelanja di Pasar Klewer untuk membeli oleh-oleh karena esok pagi akan pulang ke Belanda. Sambil berjalan ke Klewer, keduanya main tebak-tebakan sambil mengingat-ingat data yang sudah tercatat. “Kau ingat, dari mana nama Pasar Klewer?” Heintchedoocth yang ditanya mengangguk.

Cerita asal Klewer, awalnya para bakul menjajakan da­gangan kain jarik dan selendang yang ditaruh di pundak. Kain dagangannya menjutai-njuntai yang istilah Jawanya ‘pating klewer’. Maka pasar ini disebut Pasar Klewer. Lalu asal kata Pasar Dhawung. Ceritanya sebermula seorang bakul jamu berjualan di bawah pohon dhawung. Bakulnya terkenal manis, jamunya manjur sehingga langganannya banyak. Ini merangsang orang lain berjualan di bawah pohon dhawung, maka kampung dan pasar itu disebut Dhawung.

Kalau Pasar Senggol Purwosari, pasar tiban ini hanya ada di tiap malam. Pasarnya sempit, pengunjungnya banyak, sehingga tampak berdempetan. Setiap orang berdesakan sehingga sering bersenggolan dengan yang lain. Para muda-mudi memakainya khusus untuk senggol-senggolan sebagai acara pendekatan mencari jodoh.

Sepulang dari berbelanja, mereka melanjutkan mengarsip data pembentukan nama kampung yang berasal dari penokohan berdasarkan tempat tinggal. Penamaan tokoh ini menjalar dimana-mana. Mereka hanya memberi akhiran an. Misalnya, tempat tinggal Soemowinoto, daerah itu lalu disebut Soemowinatan. Rumah Kanjeng Mloyosumo, daerahnya jadi Mloyosuman. Kampung Singasaren, kampung ini ditinggali Pangeran Singosari. Kampung Jayanegaran, dulu rumahnya Kanjeng Jayanegara. Juga Kampung Danukusuman, Pringgalayan, Cakranegaran, Wira­gunan, Purwadiningratan dsb.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika mereka merasa perut sangat keroncongan. Ada baiknya makan nasi liwet di pingir jalan. Esok pagi mereka harus sowan ke semua eyang-eyang karena Heintchedoocth akan berpamitan pulang ke Belanda.

Hari selajutnya Ni Ngoro harus mengerjakan sendiri hasil temuan selama Sobo Turut Lurung di kota Solo, demikian pula Heintchedoocth. Keduanya sepakat untuk bertemu bulan depan, Heintchedoocth berencana mengambil libur panjang untuk meneruskan cerita dan gambar toponimi kampung di Solo.

Saat melepas Heintchedoocth di bandara, Ni Ngoro membisikkan alunan nada yang menggetarkan sanubari Heintchedoocth.

Kita adalah sejoli liar yang sangat nekad
Menelusuri kali ke kali
Menjelajah gang-gang pinggiran
Berjalan tanpa letih
Bekerja tanpa selesai
Kita meronce keping makna yang akan terkubur
Maka jangan pernah berhenti jika itu untuk keabadian
Kalau kau tak kembali
Aku takut ada yang hilang, aku takut ada kekalahan