Cari Blog Ini

Kamis, 28 April 2011

Wuku Shinta Jumat Pahing

Wuku : Shinta (1)
Dewa : Yamadipati – Dewa Pencabut Nyawa.
Tabiatnya pendiam, cemburuan, suka laku prihatin, cerdas dan mau belajar, rapi, tekun bekerja. Wataknya seperti pendita/raja, maunya banyak, keras kepala, tetapi bahagia, kaya harta benda.
Umbul-umbul : memanggul tunggul - suka kesenangan hidup.
Kaki terendam air - perintahnya panas depan dingin belakang.
Pohon : Kendayakan – tempat berteduh bagi orang sakit dan sengsara.
Burung : Gagak - mengerti petunjuk gaib atau kejadian penting yang masih tersembunyi tetapi bakal terjadi.
Gedung : di depan - pamer kekayaan. Bawa umbul-umbul tanda akan mendapatkan kemuliaan.
Lambang : Wulan Karahinan, atau Bulan tersaput awan, tekadnya yang kuat, baik budi, tidak bisa sabaran.
mudah cemburu, kenceng budine, tidak bisa sabar.
Bahaya : tengah tuwuh/setengah umur.
Sesaji : nasi pulen dari beras sefitrah, pindang daging kerbau tanpa menawar.
Doa : tolak bilahi (penolak celaka).
Candranya : Endraprastha - gemar bertapa brata, angkuh, suka kepada kepanditan.
Kolo wuku ditimu laut, Selama 7 sejak slametan, tidak boleh pergi ke arah timur laut.
Hari naas : Senin Pon
Wuku Shinta untuk weton:
Minggu Pahing : Tungle, Sri, Dangu, Lakuning Rembulan, Wasesa Segoro
Senin Pon : Aryang Endra Dangu, Aras Tuding, Sumur Sinaba, Samparwangke
Selasa Wage : Wurukung, Guru Dangu, Lakuning Bumi, Lebu Katiyup Angin
Rabu Kliwon : Paningrom, Yama Dangu, Lakuning Srengenge, Lebu Katiyup Angin
Kamis Legi : Uwas Rudra Jagur, Lakuning Lintang, Satriya Wibowo
Jum;at Pahing : Mawulu Brama Gigis, Lakuning Srengenge, Tunggak Semi Tumuruning Asu Ajag
Sabtu Pon : Tungle Kala Kerangan, Lakuning Banyu, Wasesa Segara, Sapi Gumarang Tumurun ing kandang.





Wuku Shinta Weton Jumat Pahing

Weton : Jum’at Pahing
Neptu : 6 + 9 = 15
Kamarokam : Mantri Sinaroja
Paarasa : Lakuning Srengenge
Pancasuda : Tunggak Semi
Paringklean : Mawulu
Padéwan : Brama
Padangon : Gigis
Sengkan Turunan : Sumengka Asu Ajak
Hari baik : sedang

Watak Jumat : Sukra (Banyu/Udan), Sang Hyang Basuki.
Sasmitanya Katenti nuti jugaya murka ma durhaka,
artinya menuruti kata hati yang emosi itu marah.
Wataknya : dapat kesegaran dan kesuburan, semuanya jadi baik.
Disukai, kuat mental, suka menolong, penasehat, suka belajar, sok suci, seolah bersih.
Jika pergi mandi dulu, juga pulangnya
Watak Pahing : Simbol dan Pasemon Pasaran Cendhana (sangat etungan untung-rugi)
Pahit artinya pahid atau menghadap ke depan, letak di selatan, warnanya merah,
Sifatnya nekat, suka barang orang lain, mendapat untung
Diibaratkan seperti macan, harimau, suka pergi jauh, mandiri, banyak musuh, didahului marah.
Suka mendahului, suka kebersihan, nafsunya dari perempuan, sering ditipu, individualis.
Jika kehilangan sulit kembalinya
Watak Jumat Pahing : Cita-cita tinggi, jujur, sedikit boros. Mudah dimanfaatkan dan emosial.
Watak Neptu15 : Sifatnya Matahari. Wataknya manis bicaranya, mudah mengerti orang, jika bertengkar norak.
Perenung, nafsu makannya besar. kemauan keras, konsisten, sangat hati-hati, cukup rejekinya.
Pandai memimpin, banyak sahabat yang mencintai, asmara kurang serasi, sering cekcok

Hari Naas : Minggu Pon – Jumat Pon – Sabtu Wage.
Hari Baik : Senin Pon.

Paringkelan Mawulu : ringkel wiji – kesialan bibit dan biji
buruknya: Keliru, petualang cinta, tidak baik untuk menanam
baiknya : bagus untuk memburu bibit-bibitan tanaman
Hastawarna Brama : buruknya : Panas
baiknya : Bagus memulai bisnis baru, membuka lahan baru
Padangon Gigis : lambang Bumi – kekuatan penuh
buruknya : jika tidak rela bahaya, sering bersikap sebagai orang jahat
baiknya : pandangannya luas, kuat, penuh daya, bisa mengatasi semua masalah

Rakam Mantri Sinaroja : senang dan bahagia, dihargai lebih tinggi dari yang sebenarnya
Paarasan Lakuning Srengenge : sering mendapat pujian
Pancausda Tunggak Semi : Selalu ada rejeki, berbudi baik, tetapi berjiwa pemberontak.
Sering bertengkar, suka berdebat, mencampuri urusan lain.
Masa tua hidup cukup dan senang. Untuk perkawinan selamat dan berbudi

Sengkan Turunan Sumengka Asu Ajak : banyak berita benar
Hari baik : Hari Baik Pasaran Bulan Mulut

Wuku Sinta Kamis Kamis Legi

Wuku : Shinta (1)
Dewa : Yamadipati – Dewa Pencabut Nyawa.
Tabiatnya pendiam, cemburuan, suka laku prihatin, cerdas dan mau belajar, rapi, tekun bekerja. Wataknya seperti pendita/raja, maunya banyak, keras kepala, tetapi bahagia, kaya harta benda.
Umbul-umbul : memanggul tunggul - suka kesenangan hidup.
Kaki terendam air - perintahnya panas depan dingin belakang.
Pohon : Kendayakan – tempat berteduh bagi orang sakit dan sengsara.
Burung : Gagak - mengerti petunjuk gaib atau kejadian penting yang masih tersembunyi tetapi bakal terjadi.
Gedung : di depan - pamer kekayaan. Bawa umbul-umbul tanda akan mendapatkan kemuliaan.
Lambang : Wulan Karahinan, atau Bulan tersaput awan, tekadnya yang kuat, baik budi, tidak bisa sabaran.
mudah cemburu, kenceng budine, tidak bisa sabar.
Bahaya : tengah tuwuh/setengah umur.
Sesaji : nasi pulen dari beras sefitrah, pindang daging kerbau tanpa menawar.
Doa : tolak bilahi (penolak celaka).
Candranya : Endraprastha - gemar bertapa brata, angkuh, suka kepada kepanditan.
Kolo wuku ditimu laut, Selama 7 sejak slametan, tidak boleh pergi ke arah timur laut.
Hari naas : Senin Pon
Wuku Shinta untuk weton:
Minggu Pahing : Tungle, Sri, Dangu, Lakuning Rembulan, Wasesa Segoro
Senin Pon : Aryang Endra Dangu, Aras Tuding, Sumur Sinaba, Samparwangke
Selasa Wage : Wurukung, Guru Dangu, Lakuning Bumi, Lebu Katiyup Angin
Rabu Kliwon : Paningrom, Yama Dangu, Lakuning Srengenge, Lebu Katiyup Angin
Kamis Legi : Uwas Rudra Jagur, Lakuning Lintang, Satriya Wibowo
Jum;at Pahing : Mawulu Brama Gigis, Lakuning Srengenge, Tunggak Semi Tumuruning Asu Ajag
Sabtu Pon : Tungle Kala Kerangan, Lakuning Banyu, Wasesa Segara, Sapi Gumarang Tumurun ing kandang.







Wuku Shinta Weton Kamis Legi

Weton : Kamis Legi
Neptu : 8 + 5 = 13
Kamarokam : Sanggar Waringin
Paarasa : Lakuning Lintang
Pancasuda : Satriya Wibowo
Paringkelan : Uwas
Padéwan : Rudra
Padangon : Jagur
Sengkan Turunan : -
Hari buruk : -

Watak Kamis : Wrahaspati/Respati (Gelap/Thathit),
Sang Hyang Yama Sasmitanya mamingka renggadikara karananya tuna,
artinya meninggalkan pekerjaan baku menjadi jalan atunan. Wataknya: menakutkan.
Pendirian tak tetap, suka dipuji suka mencacad, mudah emosi.
Mudah terbujuk oleh rayuan halus dan tidak sabaran.. Jika pergi jalan terbuka
Memimpin, bos, bekerja tanpa lelah, kurang rekreasi.
Watak Legi : Simbol dan Pasemon Pasaran Sumendhi ngibarate Ratu Bupati (mengayomi, ikhlas)
Manis artinya membelakangi atau manis, letak di timur, warnanya putih
Sifatnya beban tanggung jawab berat tetapi pasrah.
Diibaratkan seperti kucing lan tikus. Watak kucing awas, menurut, gembira, punya curiga.
Empati pada yang kaya dan miskin.
Watak tikus tidak tidur malam, awas, hati-hati, bingúng sendiri
Pandai membidik targetnya, besar peruntunganya tetapi juga besar halangannya
Watak Kamis Legi : Cita-cita mulia, idenya besar, bisa memperkirakan arah ke depan.
Tabah, berpandangan luas, sering.
Watak Neptu 14 : sifatnya Lintang. Wataknya pendiam dan sabar, tak punya gairah.
Suka kerja malam sedikit tidur, berbakat dagang, tak dapat dihalangi kemauannya.
Enak diajak bicara, baik hati, suka rukun dan damai, bisa sejahtera lahir batin.
Rajin dan tekun berbisnis. Bisa celaka karena dipuji, rada sombong mudah ditipu

Hari Naas : Minggu Pon – Jumat Pon – Sabtu Wage.
Hari Baik : Senin Pon.

Paringkelan Uwas : ringkel kukilo – kesialan burung
buruknya: takabur, pantang membuat sangkar burung dan membeli burung
baiknya : bagus jika berburu burung bebas di alam
Hastawarna Rudra : buruknya : Murah Buja kramane
baiknya : ramah dan penuh rejeki, bagus untuk mencari air kehidupan
Padangon Jagur : lambang Harimau – luwes, kuat tetapi tak pedulian
buruknya : dengki, jika belajar banyak halangan -
baiknya : kuat, luwes, dihormati wong cilik

Rakam Sanggar Waringin : beruntung dan sejahtera, selalu terlindungi dan melindungi
Paarasan Lakuning Lintang : tak bisa tetap, sering pindah kerja/rumah
Pancausda Satriya Wibowo: : Pendiam, berani, jujur hingga disukai atasan.
Kalau jadi pemimpin berwibawa, disegani, dihormati, berbudi luhur.
Banyak peruntungannya, hingga masa tuanya bahagia.
Untuk perkawinan banyak rejeki dan mulia

Minggu, 24 April 2011

Wuku Sinta Senin Pon

Wuku Sinta
Senin Pon
25 April 2011



Wuku : Shinta (1)
Dewa : Yamadipati – Dewa Pencabut Nyawa.
Tabiatnya pendiam, cemburuan, suka laku prihatin, cerdas dan mau belajar, rapi, tekun bekerja. Wataknya seperti pendita/raja, maunya banyak, keras kepala, tetapi bahagia, kaya harta benda.
Umbul-umbul : memanggul tunggul - suka kesenangan hidup.
Kaki terendam air - perintahnya panas depan dingin belakang.
Pohon : Kendayakan – tempat berteduh bagi orang sakit dan sengsara.
Burung : Gagak - mengerti petunjuk gaib atau kejadian penting yang masih tersembunyi tetapi bakal terjadi.
Gedung : di depan - pamer kekayaan. Bawa umbul-umbul tanda akan mendapatkan kemuliaan.
Lambang : Wulan Karahinan, atau Bulan tersaput awan, tekadnya yang kuat, baik budi, tidak bisa sabaran.
mudah cemburu, kenceng budine, tidak bisa sabar.
Bahaya : tengah tuwuh/setengah umur.
Sesaji : nasi pulen dari beras sefitrah, pindang daging kerbau tanpa menawar.
Doa : tolak bilahi (penolak celaka).
Candranya : Endraprastha - gemar bertapa brata, angkuh, suka kepada kepanditan.
Kolo wuku ditimu laut, Selama 7 sejak slametan, tidak boleh pergi ke arah timur laut.
Hari naas : Senin Pon
Wuku Shinta untuk weton:
Minggu Pahing : Tungle, Sri, Dangu, Lakuning Rembulan, Wasesa Segoro
Senin Pon : Aryang Endra Dangu, Aras Tuding, Sumur Sinaba, Samparwangke
Selasa Wage : Wurukung, Guru Dangu, Lakuning Bumi, Lebu Katiyup Angin
Rabu Kliwon : Paningrom, Yama Dangu, Lakuning Srengenge, Lebu Katiyup Angin
Kamis Legi : Uwas Rudra Jagur, Lakuning Lintang, Satriya Wibowo
Jum;at Pahing : Mawulu Brama Gigis, Lakuning Srengenge, Tunggak Semi Tumuruning Asu Ajag
Sabtu Pon : Tungle Kala Kerangan, Lakuning Banyu, Wasesa Segara, Sapi Gumarang Tumurun ing kandang.


Wuku Shinta Weton Senin Pon

Weton : Senin Pon
Neptu : 4 + 7 = 11
Kamarokam : Demang Kandhuruhan
Paarasa : Aras Tuding
Pancasuda : Sumur Sinaba
Paringkelan : Aryang
Padéwan : Endra
Padangon : Dangu
Sengkan Turunan : -
Hari Buruk : Samparwangke

Watak Senin : Soma (Rembulan), Sang Hyang Candra sasmitanya
Waktra kanisanri netro awinde budaya artinya budinya tidak tampak di mata.
Wataknya : Jika perubahan, ada pujian. Welasan, tidak pelit, ikhlas, boros
Pembela kebenaran, mudah tersinggung, tidak pandai bicara, penuh harapan.
Keluar rumah mudah terpengaruh, dengan jimat jadi beres
Watak Pon : Simbol dan Pasemon Pasaran Samahita lakuning utusan (petuahnya diturut, serius)
Petak artinya tidur, letaknya di barat, warnanya hijau pupus, kuning, biru.
Sifatnya kuat jika punya permohonan baik budi, bicaranya dituruti.
Diibaratkan seperti kambing, perginya dekat, tidak merugikan orang kecuali keluarga sendiri,
Suka marah-marah kepada keluarga, kurang nalar, berpikir pendek, berani pada perawatnya.
Jika punya keberanian tidak bisa dilawan, cukup rejekinya
Watak Senin Pon : Bisa apa saja sesulit apapun. Wawasan luas. Pintar memendam rahasia
Watak Neptu 11 : sifatnya Ngaras Tuding / Lakunya Setan.
Wataknya berani pergi malam hari, suka menjual barang milikinya, ngiri harta tetangga.
Baik hati, percaya diri dan pemberani. Welas, suka memberi, jika kekurangan mau berbuat buruk.

Hari Naas : Minggu Pon – Jumat Pon – Sabtu Wage.
Hari Baik : Senin Pon.

Paringkelan Aryang : ringkel godhong – daun – kesialan bagi daun:
buruknya: watak mangkir dan buat malu orang. Pantang menanam pohon/tanaman yang dimanfaatkan daunnya seperti teh.
Baiknya : Bagus memburu daun-daunan dan sayur-sayuran
Hastawarna Endra : buruknya : angkuh
baiknya : nastiti, bagus untuk menuntut ilmu
Padangon Dangu : lambang Batu – semuanya berjalan lambat tetapi senang
buruknya : tidak ikhlas, pendiam tetapi keras

Rakam Demang Kandhuruhan : semua yang dikerjakan gagal, mandeg, cerai hidup/mati, banyak cobaan
Paarasan Aras Tuding : selalu menyejukkan
Pancausda Sumur Sinaba : welasan, pelindung orang kecil, banyak temannya, banyak famili, polos, jujur.
Sederhana, tulus, adil, bijak tetapi sering ngurus orang lain.
Jika menantu anak wanita bahagia
Sengkan Turunan : -
Hari Buruk Samparwangke : kesandung mayat. Wataknya akan menemui kesusahan yang tidak mengenakkan hati.
Pengaruhnya pada manusia sering mendapat kesulitan yang tidak terduga.
Pantang senggama

Wuku Sinta Minggu Pahing

Wuku Sinta Minggu Pahing
Lahir tanggal 24 April 2011


Wuku : Shinta (1)
Dewa : Yamadipati – Dewa Pencabut Nyawa.
Tabiatnya pendiam, cemburuan, suka laku prihatin, cerdas dan mau belajar, rapi, tekun bekerja. Wataknya seperti pendita/raja, maunya banyak, keras kepala, tetapi bahagia, kaya harta benda.
Umbul-umbul : memanggul tunggul - suka kesenangan hidup.
Kaki terendam air - perintahnya panas depan dingin belakang.
Pohon : Kendayakan – tempat berteduh bagi orang sakit dan sengsara.
Burung : Gagak - mengerti petunjuk gaib atau kejadian penting yang masih tersembunyi tetapi bakal terjadi.
Gedung : di depan - pamer kekayaan. Bawa umbul-umbul tanda akan mendapatkan kemuliaan.
Lambang : Wulan Karahinan, atau Bulan tersaput awan, tekadnya yang kuat, baik budi, tidak bisa sabaran.
mudah cemburu, kenceng budine, tidak bisa sabar.
Bahaya : tengah tuwuh/setengah umur.
Sesaji : nasi pulen dari beras sefitrah, pindang daging kerbau tanpa menawar.
Doa : tolak bilahi (penolak celaka).
Candranya : Endraprastha - gemar bertapa brata, angkuh, suka kepada kepanditan.
Kolo wuku ditimu laut, Selama 7 sejak slametan, tidak boleh pergi ke arah timur laut.
Hari naas : Senin Pon
Wuku Shinta untuk weton:
Minggu Pahing : Tungle, Sri, Dangu, Lakuning Rembulan, Wasesa Segoro
Senin Pon : Aryang Endra Dangu, Aras Tuding, Sumur Sinaba, Samparwangke
Selasa Wage : Wurukung, Guru Dangu, Lakuning Bumi, Lebu Katiyup Angin
Rabu Kliwon : Paningrom, Yama Dangu, Lakuning Srengenge, Lebu Katiyup Angin
Kamis Legi : Uwas Rudra Jagur, Lakuning Lintang, Satriya Wibowo
Jum;at Pahing : Mawulu Brama Gigis, Lakuning Srengenge, Tunggak Semi Tumuruning Asu Ajag
Sabtu Pon : Tungle Kala Kerangan, Lakuning Banyu, Wasesa Segara, Sapi Gumarang Tumurun ing kandang.


Wuku Shinta Weton Minggu Pahing

Weton : Minggu Pahing
Neptu : 5 + 9 = 14
Kamarokam : Nuju Pati
Paarasa : Lakuning Rembulan
Pancasuda : Wasesa Segara
Paringkelan : Tungle
Padéwan : Sri
Padangon : Dangu
Sengkan Turunan : -
Hari baik : Hari baik Sri Tumpuk

Watak Minggu : Radhite (Matahari), Sang Hyang Surya sasmitanya Mawi sata kadaluwarsa waluyalaya
Artinya pergi bepergian. Watanya tetap, menerangi, berwibawa, menghidupi.
Panas, pandai bergaul, disukai, berjiwa besar, suka merendahkan, dapat mengatasi masalah.
Jika keluar harus berdoa dulu
Watak Pahing : Pahit artinya pahid atau menghadap ke depan, letak di selatan, warnanya merah,
Sifatnya nekat, suka barang orang lain, mendapat untung
Diibaratkan seperti macan, harimau, wataknya suka pergi jauh, mandiri, banyak musuh,
Jika didahului marah, suka mendahului,
Suka kebersihan, nafsunya dari perempuan, sering ditipu, jika kehilangan sulit kembalinya
Watak Minggu Pahing : Bisa apa saja sesulit apapun. Wawasan luas. Pintar memendam rahasia
Watak Neptu 14 : Sifatnya Rembulan. Wataknya bisa mengerjakan aneka pekerjaan, cerdas, dituruti orang.
Baik budinya, tetapi agak pemalu. Tidak kaya.rendah hati, serba bisa, sering dibantu sesama.
Hari Naas : Minggu Pon – Jumat Pon – Sabtu Wage.
Hari Baik : Senin Pon.
Paringkelan Tungle : ringkel godhong – daun – kesialan bagi daun:
buruknya: watak mangkir dan buat malu orang.
Pantang menanam pohon/tanaman yang dimanfaatkan daunnya seperti teh.
Baiknya : Bagus memburu daun-daunan dan sayur-sayuran
Padewan : buruknya: pantang hutang piutang
baiknya : Welas asih, penuh cinta kasih, bagus untuk investasi
Padangon Dangu : lambang Batu – semuanya berjalan lambat tetapi senang
buruknya : tidak ikhlas, pendiam tetapi keras
baiknya : bisa berilmu jika niat
Rakam Nuju Paji : semua yang dikerjakan gagal, mandeg, cerai hidup/mati, banyak cobaan
Paarasan Lakuning Rem bulan : selalu menyejukkan
Pancausda Wasesa Segara : Pemaaf, lapang dada, suka berbuat baik, berwibawa, teliti, hati-hati.
Jujur dan terbuka, disiplin dan tenggang rasa.
Marahnya dahsyat, pandangan luas, spekulan dan sukses banyak rejeki.
Untuk perkawinan kaya harta dan kerabat, luas budinya

Senin, 03 Januari 2011

Anak Kandung Gajahmada dengan Sejuta Wanita

Wawancara Imajiner dengan Gajahmada 5
Anak Kandung Gajahmada dengan Sejuta Wanita

Di malam yang dingin, di bawah bintang-bintang, serasa ada angin menerpaku. Aku berharap Patih Gajahmada mengunjungiku. Nyatanya demikian. Aku gembira sekali

Aku : Selamat malam Paman, kangen rasanya bergurau dengan Paman Gajah.

GM : Kamu itu cewek yang kurang ajar, tetapi aku suka ngobrol dengan kamu.

Aku : Terima kasih. Paman, sering kulihat film atau baca buku tentang mesin waktu. Mesin ini bisa menembus jaman dulu dan atau masa depan. Paman percaya?

GM : Iya. (aku membelalak)

Aku : Percaya...? (Sekejap aku melongo). Kalau begitu, aku ingin masuk menyerbu Majapahit. Aku bawa sejuta gadis-gadis cantik bergiliran selama 5 tahun! Kami akan nguber Paman, lalu memaksa Paman mengawini secara resmi dan menghamili kami.

GM : (Gajahmada tersenyum malu ... lalu tertawa terbahak-bahak )
Kamu memang cewek gila yang mimpinya selalu serong kiri serong kanan.

Aku : Kehamilan itu akan kami bawa pulang di jaman milineum ini. Maka kami punya sejuta anak kandung Gajahmada. Tak perlu ganti abad, negara kami dalam dua dasawarsa sudah mampu bersaing dengan Eropa dan Amrik karena kami punya sejuta manusia kwalitas Gajahmada.

GM : 4 Juta sekalian, karena tiap cewek melahirkan bayi kembar 4 gitu?

Aku : Wah iya ya…. (aku tertawa). Ada yang normal, ada yang kembar 2, 3 dan 4. Jumlahnya 3 juta aja. Proyek ini aku namai “Proyek Kecepatan Negara Digdaya”.

GM : Tunggu dulu, ada wanita Sundanya, bukan?
Aku : Ohh ada, 50 ribu cewek Sunda... jamannya sudah berubah Patih. Siapa yang nggak mau dinikahi Irfan Bachdim, eeeeh … Gajahmada …iiiqiqiqiqiq.

GM : Itu hukumnya haram, kawin dengan sejuta cewek, aku kagak kuat, klenger?

Aku : Maaf patih, dulu belum ketahuan agamanya, jadi dianggap sah dulu. Raja-raja dulu asal nubruk, anaknya buanyak. Kami-kami kan minta dinikahi dulu. Jadi 3 juta anak itu sah anaknya GM termasuk sah secara biologis, meski ntar aktenya tidak ada nama Gajahmadanya.

GM : Nanti mereka kayak bapaknya, dibilang anak lembu peteng.

Aku : Sudah diramal Joyoboyo, banyak anak cari bapaknya. Tetapi, sejuta cewek GM itu bersuami lagi setelah pulang di jaman ini. Mereka hanya seminggu masuk lorong waktu di Majapahit, dalam pelukan GM.. (iiiqiqqiq). Mereka tidak saling kenal, asalnya dari berbagai suku. Sepulag dari Majapahit, mereka langsung menikah dengan pasanagn masing-masing. Mereka tidak ketahuan hamil dulu, bayi-bayi itu berumur 10 -12 bulan di kandungan. Jadi dengan bekal 3 juta manusia kwalitas Gajahmada, kami akan membangun negara dengan “Proyek Kecepatan Negara Digdaya”. Itulah mimpi besarku membangun negara.

GM : Kamu sebar kemana 3 juta anakku itu?

Aku : Pertama ada 50 pemain bola. Kami pasti juara dunia tahun 2030 hingga 5 kali berurutan. Tak masalah jika ketua PSSI-nya hanya sekelas Nurdin Halid. (GM tertawa lagi). Dengan piala Dunia, World Cup Trophy FIFA, kami mudah nego cari investasi luar negeri.

GM : Juara bola lebih penting meski perut lapar???

Aku : Itu kamuflase dulu sambil jalan. Lalu aku sebar 100 ribu orang anak GM menjadi pemuka agama, 50 ribu orang anggota DPR dan DPRD, 300 ribu orang jadi tentor di 3 partai. 100 Ribu orang eksekutif negara. 1000 orang jadi eksekutif BUMN, 100 ribu orang pengendali pajak dan bea cukai, 100 ribu orang di bidang hukum, 100 ribu orang menjadi polisi, 100 ribu orang di ABRI. 100 ribu orang pekerja media massa, 100 ribu orang jadi petani, 100 orang jadi nelayan, sejuta orang jadi guru. 100 ribu belajar ke luar negeri sambil membawa pulang TKI. Sisanya menyebar di berbagai kehidupan. Tahun 2050 sudah ada yang jadi presiden, ada yang jadi menteri dan direktur-direktur di titik pengendali negara. 50 ribu orang blasteran dengan gadis China untuk urus dagang dan industri. Tidak lupa, 50 ribu orang jadi KPU dan Panwaslu agar ngajari jujur dan jauh dari manipulasi. Jadi 3 juta anak GM menembus semua bidang.

GM : Hebat kamu!

Aku : Saya sangat sedih. Di saat Amrik sudah bisa mengalahkan kecepatan suara, kita masih bergelut mencari sesuap nasi. Mereka sudah mampu memindahkan gambar dalam sepersekian detik, kami masih punya penduduk bergelar master dan S3 yang nggangur. Jadi kapan kami bisa mengabkirkan kantor pos? Boleh tho aku bermimpi memimpin 3 juta anak Gajahmada, kami pasti sukses dengan proyek percepatan negara digdaya.

GM : glekglekglekk…(tertawa geli tak bisa berpendapat karena heran dan geli)

Aku : Jadi tolong Paman, ajari saya, bagaimana membuat wormhole.


GM : Di jamanku, mesin waktu kayak wormhole itu ya moksa itu. Makanya aku bisa bersilat lidah dengan Fir’aun. Wormhole ala Stephen Hawking itu lubang kecil yang tak terlihat karena kecil banget, lebih kecil dari molukel atau atom, seper sekian triliun inci. Disitu ada lubang bernama buih kuantum yang ngumpet di kanal ruang dan kanal waktu. Hawking mau nangkap wormhole itu dan membesarkan sampai tubuh kamu bisa lewat. Sekarang kalau mau coba, sana pergi ke Inggris, temui Hawking, berani tidak?

Aku : Heh, dia menertawaiku enggak ya dengan proyek ini

GM : Andai dia tidak ketawa, apaka kamu punya beaya membawa sejuta cewek ke Inggris ke negaranya Hawking?

Aku : Bukan begitu Patih, aku ke Inggris sendirian, terus ketemuan dengan Hawking. Dia pasti tertarik padaku karena kami orang-orang unik yang mudah saling dekat. Habis itu Hawking akan kupaksa atau kuculik saja ke tanah air, aku buatkan laboratorium wormhole di sebuah pulau tak berpenghuni. Nah tugas patih adalah mencuri sebagian harta di Fed bank untuk pembangunan laboratorium dan beaya proyek.

GM : Keterlaluan kamu. Sudah disuruh ngawinin sejuta cewek, eh disuruh mencuri duit di bank sentra AS lagi. Kalau kamu terlalu berkhayal, aku pergi saja.

Aku : Jangan Paman, aku masih asyik dengan imajinasiku. Ingat Paman, proyek ini sangat krusial, penting banget agar kita bisa mengganyang Malaysia… eh bisa bersaing dengan China, Korea dan Jepang. Geregetanku adalah ingin membuka mata pemimpin kami, karena mereka terlalu sembrono melampiaskan kepentingan sendiri dan kepentingan kelompok. Pejabat tak ada yang bicara tentang kami, tentang rakyat. Kami sungguh terpuruk di semua bidang. Tanpa Gajahmada turun tangan, rasanya negeri ini sulit keluar dari kemelut.

GM : Hawking sedang sibuk bikin proyek wanita Inggris setangguh Margareth Theacher. Ia juga punya sifat tidak mau disaingi. Ia benci ilmuwan seperti Einstein.

Aku : Tidak masalah Paman. Hawking tak perlu diberi bocoran bahwa nantinya ada setengah juta anak-anak Gajahmada yang punya otak genius dan sangat cerdas sejajar dengan Leonardo da Vinci, Einstein atau Stephen Hawkng itu!

GM : Stephen Hawking tak sudi bersaing dengan Gajahmada. Salah satu kelemahan kamu adalah tukang khayal. Jadilah pemimpi, bukan pengkhayal!

Aku : Aku sedang mencoba bermimpi, Paman

GM : Bagus, ternyata kamu bukan seorang peragu!!!

Aku : Ini mimpiku, bukan khayalku. Begini Paman. Pembuat lorong waktu bukan hanya Hawking. Masih banyak lagi koq. Di Jepang, AS, Rusia hingga Ki Joko Bodo dan Gendeng Pamungkas, mereka bisa lho. Wong mBah Wiji saja bisa. Kami ini bisa koq. Ilmunya mBah Wiji, ki Bodo dan Gendeng juga tinggalan ilmu moksa Paman Patih, ya tho…??? Iya tho Paman…. Paman….

Aku menunggu Gajahmada menjawab. Lho koq diam? Aku menoleh mencari-cari. Eh… Gajahmada tidak ada lagi di sekitarku. Aku kecewa. Padahal aku masih ingin bicara seluas lautan demi menginginkan negaraku punya penduduk semaju orang-orang NASA. Jika bangsaku adalah anak-anak Gajahmada, bisakah Indonesia menciptakan planet, agar Pulau Jawa tidak sarat penduduk, gunung Merapi tak perlu meletus, lempeng tektonik tak perlu gempa yang mengakibatkan tsunami. Lalu kuusir orang-orang Freeport dan juga teman-teman sebangsanya, mereka yang menguras hasil bumi Indonesia, sementara rakyat hanya bisa menonton dengan ngiler…

Solo, 4 Januari 2011
noniruli

Bola Semut Gajahmada Melawan Kacoak

Wawancara Imajiner dengan Gajahmada 4
Bola Semut Gajahmada Melawan Kacoak

Aku sangat sedih, bukan karena Tim Garuda kalah lawan Malaysia di leg I final AFF. Aku sedih karena Nurdin Halid dan Nugroho Besoes sangat serakah, tak berbagi dalam hal menjual tiket final leg II di Gelora Bung Karno, 29 Desember 2010. Kulihat tiket sampai direbut-rebut di tengah lapangan rumput, banyak perusakan-perusakan di GBK, ini akibat telalu banyaknya pengingkaran panitya penjual tiket. Karena kejadian itu, aku sepertinya mendapat isarat buruk.

Ada bisikan bahwa Nurdin Halid dan Nugroho Besoes akan kena kutuk akibat seringnya terdengar umpatan pemburu tiket. Nyatanya Garuda dibekuk 3-0 oleh Malaysia. Aku merenung sendiri di bawah taburan lintang di Alun-alun keraton Solo. Jam menunjukkan pukul 1 tengah malam, namun aku tak dapat tidur. Itulah sebabnya aku cari angin di sini. Bau wangi terasa bergulir masuk di hidungku. Bau ini seperti wanginya keraton. Aku menoleh. Betapa kaget ketika ada bisikan di telingaku. Aku ingat-ingat, itu seperti suara Mahapatih Gajah Mada. Aku memanggil, dia tertawa kecil menandakan beliau memang sedang menemani aku.

Aku : Paman Gajah...? Aduh..., paman sangat mengagetkanku? Oow, mimpi apa aku ini, mau-maunya Paman Patih nyambangi aku.

GM : Kulihat kamu termenung, ngalamunin apa?

Aku : Paman Gajah. Aku tidak bisa melihat anda, tetapi aku yakin, anda cukup santai di rumput ini, kan? Begini Patih, hatiku sedih. Kami sepertinya hanya boleh eporiah tanpa tropih. Kami taklukkan Philipina, tetapi diganjal Malaysia. Apa benar suporter Malay urik, curang?

GM : Uhhhh, alasan... Kamu belum menang, udah dikrubuti tikus-tikus partai. Media gitu juga. Pemain itu, biar latihan dulu… malah diundang kesana kemari, capaiiii tahu nggak sih?? Mengapa kamu harus nggak sabar menunggu sampai juara?

Aku : Yaachh kami sudah sangat rindu bisa memeluk tropih.

GM : Pernah kubilang, sejak kecil aku sudah dihajar dengan ilmu-ilmu tingkat tinggi. Jika sebulan aku bermain terus 90 menit, aku nggak akan capai. Kamu baru 5 kali main dengan jarak hari saja, sudah lumpuh main yang keenam, di kandang lawan lagi. Jika memang segitu aja bugarnya, ganti saja pemainnya. Energimu sudah dikuras Philipin, ehh pelatih nggak mau ngganti pemain. Final koq spekulasi nurunin pemain mentah.

Aku : Maksudnya Yongki, bukan Bambang atau Irfan yang dipilih?


GM : Bukan itu saja, kurcaci Halid dan Besoes, dia Sengkuni, terlalu serakah. Tak pernah mau belajar dari pengalaman, Sengkuni ini sellau mundur, apalagi tak mau berbagi. Pemain butuh supporter, cari tiket susahnya kayak cari jarum di gurun. Berapa puluh tahun Nugroho Besoes nonggkrong di kursi PSSI, nggak becus becus lagi? Kamu nggak bisa cerdas karena nyandar di dadanya. Itulah tikus-tikus yang bikin mental pemain selalu blong-blongan, dikacau hal-hal sepele. Besoes itu nggak ada matinya di PSSI. Hebat, kayak Suharto. Hamili cewek nggak tanggung jawab, bisa duduk terus di tahtanya.

Aku : Tapi Halid punya mimpi besar, mau jadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia..

GM : Wk wk wk wk, kodokpun tertawa. Mantan napi itu jogetnya persis kacoak. Kacoak kalau terbang, kalau berjalan, nggak punya tujuan, nggak punya mata, asal terbang, asal jalan. Pintarnya kalau diserang, sigap sekali, gesit berlari dan sembunyi. Dipenggal kepalanyapun masih tahan hidup seminggu.

Aku : Itu Nurdin Halid?

GM : Kadang kayak kacoak, kadang tikus.

Aku : Mengapa Paman tidak menyemangati Tim Garuda?

GM :Kamu harus mengasah diri punya mental juara! Pelajari dan amalkan 15 cara jadi manusia sejati Gajah Kencana. Dicontoh itu!!! Gajahmada bermental juara, nggak pernah kalah. Kalau Gajahmada kalah itu karena dipecat Hayam Wuruk.

Aku : Kami kalah karena diteror laser supporter lawan.

GM : Kabar gawang Markus disebari kuman sampai bengkak…? Cari alasan apa lagi! Biarkan yang capai bobo nyenyak, gantilah pemain. Asah mental juaranya… kalau tidak mau, ya sudah.

Aku : Jika Halid dan Besoes dikutuk, Garuda gagal?

GM : Dia harus minta ampun dulu pada bangsamu, lalu keduanya harus langsung turun tahta!!!

Aku : Itu malah pengecut Paman Gajah!

GM : Sudah diampuni beribu kali, kali ini masih ada ampun? Sekarang pilih Garuda di dadamu atau membela segelintir kurcaci?

Aku : Mereka bukan kurcaci, mereka momok!! Kalau Besoes itu unthul bawangnya Halid. Sedang Halid itu tukang cetak duit ndoronya. Imbalannya ketua PSSI. Nggak ada pejabat yang berani sama Halid.

GM : Wk wk wk… apa dia itu Gajahmada, sampai pada takut wk wk wk wk… Itu takut pada duitnya, bukan pada Halidnya!

Aku : Di jaman Majapahit, apakah sudah ada sepakbola?

GM : Ada, bolanya kelapa, dibakar dengan api besar. Namanya bal-balan api.

Aku : Lapangannya mana, kenapa Majapahit tidak ninggalin stadion, kayak Yunani ninggalin stadion Olimpyade?

GM : Dulu belum ada kompetisi, jadi belum kepikir bikin stadion. Wong FIFA aja dibentuknya baru abad 20. Nah kamu tahu Alun-alun? Di Alun-alun itulah semua kegiatan rakyat dilaksanakan!

Aku : Suporter sering bikin onar, ribut, rusuh, ngrusak dan mbakar-mbakar. Yang paling ganas Bonek! Apakah ini termasuk tinggalan Majapahit?

GM : Kurangajar, Bonek bukan warisan Majapahit. Bonek ini ‘koloni semut’. Semut itu jika sendiran, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi jika sekerumunan, mereka bisa kerja gotong royong, dengan tugas masing-masing, tanpa komando, tanpa manajemen, langsung tepuk dada, inilah bonek!

Aku : Jadi supporter Garuda itu samakah dengan Koloni Semut?

GM : Koloni semut pasti menang jika gotong royong menyerang kacoak. Moso kacoak satu saja selalu menang melawan koloni semut???

Aku : Qiqqiqiqi… Iya deh, biar koloni emut menyerang kacoak, tunggu Paman. Koloni semut sejumlah milyaran, tak akan kuat ngangkat Garuda! Itu artinya Paman Patih tidak mendukung Tim Garuda.

GM : Heh, sejelek apapun, itu milik kita, harus terus didukung! Apa kamu mau terus-terusan jadi juara bayangan? Itu artinya kamu nggak mau mendengar kritikan, kamu takut sama kacoak! Kamu bikin aku marah saja. Ya sudah aku pergi.

Aku : Tunggu Paman…. Jika aku ingin wakuncar dengan Paman Gajahmada, tanpa perlu mengajak Mbah Wiji, bagaimana caranya?

GM : Kamu harus mempertebal ibadahmu. Sana dzikir dulu. Sudah aku pergi!!!

Aku termangu. Kupangil Gajahmada, tetapi tak ada jawaban. Beliau sudah pulang lagi.



Solo, 27 Des 2010
noniruli

Rabu, 15 Desember 2010

Saling Ejek Dengan Gajahmada Wawancara Imajiner

Wawancara Imajiner dengan Gajahmada 3
Saling Ejek Dengan Gajahmada

Agak terengah-engah aku berjalan menuju batu candi untuk menemui Patih Gajahmada bersama Mbah Wiji. Meski aku lebih mudah 4 kali ipat dibanding Siembah, tetapi, dukun pemangggil arwah itu tak tampak kepayahan. Ilmu kuno memang cukup mengagumkan. Selang berapa lama aku sudah duduk di gundukan batu yang sepi, dan disitulah aku kembali bertemu dengan Patih Gajahmada. Maka wawancara imajinerku ini kulanjutkan lagi.

Aku : Mahapatih, sekarang aku ingin menggali budaya di jaman Jawa kuno. Ini karena kami terasa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Bagaimana sejarahnya hingga kami jadi bangsa yang sulit majunya.... Kami gemar mengikuti perkembagan jaman, tetapi tetap jadi bangsa dunia ketiga, terbelakang. Apakah kami ini telah kehilangan kepribadian?

GM : Wong Jowo ilang Jawane? Itu sudah nular ke suku lain! Dulu perempuan pakai kebaya. Sekarang, kamupun tak pernah pakai rok, pakai celana terus…!

Aku : Wadduuhh Patih, soalnya lebih praktis. Tetapi maksud pertanyaanku, percampuran antar suku akan menjadi bagus jika melahirkan kepribadian baru yang dahsyat. Amerika Serikat berasal dari sejuta bangsa di dunia dan melahirkan negara adidaya AS. Kenapa kami melahirkan budaya KKN?

GM : Ya salah siapa?! Hidup ini kan berlanjut, yang hidup lebih dulu memberi tinggalan. Tetapi orang sekarang merasa bahwa yang terdahulu itu kuno. Padahal kamu sering mengandalkan kebanggaan yang sudah diwariskan. Kamu bangga kami tinggali wayang, batik, ukiran, huruf ajisoko, pawukon, reog, tari, bahasa, gamelan dll. Tapi orang sekarang malas berkarya lagi. Lihat itu, orang bule pantang menyerah, kerja terus sampai maunya tercapai! Kamu kerja selalu merasa terbentur modal.

Aku : Aduh patih, 145 tahun kami dijajah Belanda. Belanda jahat, harta kami dirampok, sekolahpun nggak boleh. Simbah-simbah dan orang desa saat inipun masih banyak yang buta huruf.
GM : Kamu kecewa, yang menjajah bukan Inggris, tetapi Londo Belanda? Dijajah Inggris memang lebih beradab. Waktu kamu dijajah Ingrris, Stanford Raffles ngajari ngatur pemerintahan, ngilangin tanam paksa, ngelarang budak dijual, ngenalin sistem hak milik tanah, ngerehap Borobudur, neliti budaya Jawa kuno, lalu nulis The History of Java. Kalau otak Londo itu ngeres, maunya karena kamu inlander ya udah jadi babu kawan kebo aja. Makanya kamu punya jutaan TKI, kamu beli devisa njual TKI, kan?
Aku : Mengapa anda mengejek kami terus?

GM : Di jamanku, rakyat pergi keluar negeri untuk belajar, bukan untuk jadi kuli atau babu. Kamu sudah 65 tahun merdeka, tapi masih kulihat wajah rakyatmu persis seperti Pithecanthropus Erectus, kayak fosil manusia Jawa dari Sangiran. Itu kan wajah 2 juta tahun yang lalu. Harusnya rupa wanitanya minimal kayak Nunung Srimulat, bagusnya kayak Luna Maya. Jangan-jangan seabad lagi rakyatmu masih berwajah tak enak dipandang….

Aku : Yaachh ngejek lagi… Pergi ke salon beayanya mahal, patih.
GM : Kamupun nggak bisa nangkep maksudku! Orang buruk rupa, jika pintar karena suka belajar, wajahnya akan tampak cerdas, bukan bloon and o’on. Kamu liat Trio Macan, meski tiap hari ke salon, tapi wajahnya tetep ndangdut, bukan wajah orang cerdas. Orang cerdas pasti mematut diri, nggak mungkin jadi gelandangan.

Aku : Apakah kami salah didik atau kwalitas bangsa ini yang di bawah nol…? Atau apakah anda menyalahkan Belanda? Kalau saya menyalahkan raja-raja kuno, termasuk anda Patih, karena kami kini menjadi bangsa yang sangat ruwet seperti sekarang.

GM : Enak saja kamu bicara ….

Aku : Patih, bangsa Indonesia itu, apakah punya sejarah asli? Setahuku, orang kuno menyontek orang India saja.

GM : Wajarlah, kita sebenarnya pernah dijajah India. Raja-raja kuno mulai dari kerajaan Salakanagara hingga Empu Sendok di Kanjuruhan, itu orang India. Mereka membawa agama Hindu Budha dan Mahabharata. Tetapi karena mereka lantas menetap lalu pada kawin dengan pribumi dan campur baur dengan pendatang lain seperti dari Yunan dsb, akhirnya jadi kamu-kamulah penduduk penghuni Indonesia itu.

Aku : Lalu bagaimana asal mula tanah Jawa, Sumatera, Kalimantan sebelum kedatangan raja-raja dari India? Apa agama penduduknya? Jika dulu animis, lalu masuk Hindu Budha Islam Kristen, sekarang banyak yang mengaku jadi nabi!

GM : Kamu tidak pernah membaca buku sejarah ya?

Aku : Maksud saya, bagaimana cerita adanya pulau Jawa ketika anda menjadi Patih?

GM : Jawa, Sumatera itu dulu terapung-apung di laut. Maka perlu paku agar pulau ini tidak gonjang ganjing. Lima ribu tahun sebelum ada aku, masih banyak dewa yang terjun ke bumi. Mereka lalu membuat paku besar yang ditancapkan di gunung dan menembus laut hingga pulau jawa dan Sumatera bisa lengket dengan tanah terdalam di dasar laut.

Aku : Oooo aduhhh, itu kan legenda, cerita mau bobo. Kalau benar, pakunya sebesar apa, ditancapkan dimana, pakai palu segede apa? (aku Tanya sambil ihik-ihik)

GM : Di Yunani saja ada dewa Zeus, Aries, Aprodite dll. Di Jawa ada Batara Guru, Wisnu dsb. Namanya dewa nggak perlu palu. Pakunya ditancapkan di gunung Tidar Jawa Tengah. Dulu agama Jawa itu kebathinan, menuju sangkan paraning dumadi. Intiny semua keperluan hidup manusia sudah ada di Alam Semesta ini. Mereka percaya bahwa dari yang gaib akan kembali ke arah yang gaib. Jalannya pakai proses yang panjang. Sampai sekarang agama Jawa itu masih ada, bahkan kian besar dan dilindungi. Agama inilah tinggalan asli bangsamu yang tidak ada di dunia lain.

Aku : Intinya bagaimana masuk ke kebatinan itu?
GM : Dengan banyak-banyak lelaku dan meditasi
Aku : Benarkah anda seorang muslim?
GM : Nanti jika umat Muhammadiyah sudah selesai meneliti diriku, mereka bisa bilang kalau aku ini muslim atau bukan.
Aku : Pada saat anda menjadi patih, sudahkah agama Islam masuk di Jawa
GM : Sudah. Paman Jayabaya saja dapat banyak-banyak ilmu dari orang Islam Arab.

Aku : Bagaimana dengan Pawukon? Kami tak lagi akrab dengan pawukon, tak lagi familier dengan wuku atau paribasan Jawa. Itukah yang membuat kami lelet, lha wong gending-gending gamelan itu iramanya nglaras?!!

GM : Kurangajar kamu!!!
Aku : Oooo oh, maaf, mohon maaf, Patih. Ok, ucapan gending itu saya tarik Saya nanya tentang pawukon saja. Ada yang bilang, pawukon sudah berumur 17 ribu tahun, tapi ada yang bilang baru tercipta sekitar tahun 700-an SM. Mana yang benar?

GM : Dulu aku ke Yucatan ketemuan dengan orang Maya berhubung study banding tentang pawukon. Pawukon bukan sekedar horoskop, nenek-moyang kita sudah kenal astronomi dan astrologi. Dewi Shinta itu lambang planet bumi. Suaminya Resi Ayodya planet Yupiter. Dewi Soma planet Bulan, Anggara Mars, Sukra itu Venus, Dewi Tumpak Saturnus dll.

Aku : Itu tahun berapa ada Dewi Sinta dan Resi Ayodya dihubungkan dengan planet?
GM : Ini yang ramai. Karena budaya tulis baru ada setelah orang India datang dengan membawa huruf Pallava, huruf Jawa kawi terdesak. Benar, pawukon sudah ada 17 ribu tahun yl lebih, itu ada bukti astronominya. Tapi ditulisnya baru abad 10, sejarahnya disesuaikan dengan lelakon penguasa masa penulisannya yaitu Radite, raja Medangkamulan, bergelar Watugunung. Kamu pasti bingung, banyak versi tentang cerita Watugunung. Itu karena setiap 200 tahun, bahasa selalu berubah sesuai perkembangan. Jika Watugunung hidup di abad 8, sekarang abad 21, ada kemungkinan berubah 6 kali, jadi ada 6 versi. Jika penulisnya 10 orang, sudah ada 60 versi. Itu sama kayak cerita diriku, ada 100 versi lebih,!

Aku : Jadi pawukon merupakan budaya asli Indonesia? Buktinya apa?
GM : Di Pawukon ada pasaran Pon Wage Kliwon Legi Pahing? Mana ada kalender dunia kayak gitu? Kalau bulannya bernama Koso, Karo, Ketigo, Kapat, Kalimo, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kesongo, Kesepuluh, Apit Lemah dan Apit Kayu.

Aku : Tetapi pasaran Kliwon – Legi – Paing – Pon – Wage hanya dipakai orang Jawa itupun di desa-desa. Bagaimana asal nama 5 pasaran?

GM : Asalnya dari nama 5 roh hidup jasmani manusia, maknanya agar orang tahu dirinya sendiri, istilahnya sadulur papat lima pancer. Nantinya disebut ingsun atau sukma yang menjadi jasmani manusia berwujud tanah – air – api – udara. Makanya orang Jawa bisa astrologi karena masing-masing unsur punya karakter. Kalau kamu lahir Selasa Legi karakternya beda dengan karakter Selasa Kliwon, semuanya sesuai dengan karakter bintangnya. Nama bulan Jawa itu ngoko semua, Kaso, Karo, Katigo dsb, itu bahasa Jawa Ngoko. Di Jawa bahasa ada tingkatannya, ada Kromo Inggil dan Ngoko. Itu semua bukti bahwa Nusantara punya peradaban, sudah tinggi ilmu kerohaniannya. Meski diserbu budaya asing dari India, China, Yunan, Afrika, Arab dsb, budaya lokal sangat kuat, sebab lakon lokalnya tetep saja bertahan hingga sekarang! Kamu masih sangsi? Kalau nggak ercaya ya sudah aku pergi saja. Udah, aku capek!!!

Gajahmada hilang dari hadapanku, yang tinggal adalah Mbah Wiji yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri. Aku masih termangu mendengar kata-kata Gajahmada.