Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 05 Februari 2009

Si Embah tentang Hakiki Diri Sendiri

Apa kamu tahu dirimu sendiri? Setiap ada kata kenali diri sendiri, kamu pasti mencep, mencibir. Sama kayak aqu. Terus aqu coba nanya ke orang tua, si Embah. Tiap kali Embah bicara, aqu hanya deg-degan aja.
Ini hasil bicaraku dengan Embah dengan nada penuh teka-tekinya :

Tentang kenali identitas diri, Embah nanya gini:
- Siapa nama kamu?
- Mengapa kamu punya nama?
- Jika namamu sama persis dengan orang lain, gimana membedakannya?
- Pasti tanggal lahir, alamat, agama, golongan darah dsb, kan?
- Jadi tiap orang itu lain, kan?

Setelah punya identitas seperti di KTP, apakah cukup untuk kenal diri sendiri?
- Sama sekali belum. Kamu kan hidup? Jadi kamu punya nyawa, punya jiwa.
- Nama kamu itu sebenarnya identitas dari jatidiri jiwamu.
- Jiwa kamu kelihatan karena ada raganya. Raganya tampak dan bisa dipandang mata. (jadi bukan hantu, gitu lho)

Apa yang menggerakkan jiwa dan raga kamu? Si Embah menjawab sendiri.
- Jika jiwa dan raga kamu hidup, berarti kamu punya energi.
- Kalau nggak punya energi kamu sudah mati, ragamu membusuk, bau.
- Harus dibakar atau dikubur.
- Kau kira energi hanya dari makan dan minum? Ngawur, nggak cuma itu.
- Rohmu itu energi hidupmu.

Jadi apa bedanya jiwa, nyawa dan roh, pak tua? Jawabnya:
- Jiwa bisa diimplementasi lewat kepribadian
- Nyawa lewat tanggungjawab memelihara raga dan jiwamu,
- dan roh yang menggerakkan hidupmu.

Wa sulit mbahhh… mungkin terjemahannya gini…? Aqu yang jawab.
- dengan jiwa aku hidup,
- dengan nyawa, kubertahan hidup
- dan dengan roh aku berusaha mengisi hidupku.

Ragamu, jasadmu itu proses dari bayi hingga dewasa karena sudah ditiup diberi nyawa, lalu rohmu membentuk jati diri, ya kamu itu. Kata Embah, ia bilang lagi:
- Bayangkan bahwa dirimu sendiri adalah sebuah rumah tangga
- Terdiri dari jiwa, raga, nyawa dan roh.
- Lalu jiwa raga dan roh beranak pianak jadi kalbu, naluri, nurani, bathin, pikiran, emosi, ambisi, imam dan taqwa dsb.
- Itu initisari dari hidup, mengurai dan jalani rumah tangga dirimu sendiri…


Jadi apa isi hidup itu mbah? Embah njawab lagi…
- Raga bisa berkembang karena makan, minm, olahraga, tidur dsb
- Jiwa berkembang dengan interaksi antar sesama
- Roh berkembang dengan mempertebal keyakinan pada Tuhanmu
- Nyawa berkembang dengan menjaga jiwa raga dan rohmu.

Lalu apa saja hakikinya? Embah njawab lagi:
- Dari naluri kamu, selalu harus kamu sapa nalurimu
- Pasti nggak tahu caranya kan?
- Kalau kamu tidak pernah menyapa naluri kamu, jelas kamu sering kehilangan arah, jauh dari rohmu, jauh dari keberuntunganmu.
- Selain naluri, bagaimana dengan nuranimu?
- Pasti kamu juga bingung, mana yang naluri, mana yang nurani.
- Gabungkan keduanya, bisa kamu temukan dengan cara instropeksi diri setenang mungkin, kamu dapati nilai-nilai hakiki jatidirimu

Wah tambah sulit mbah.
- Jangan menyulitkan diri nDuk, Le. Dan jangan cuma dipikir.
- Gunakan secara bathin apakah kamu punya energi dalam tiap perbuatanmu?
- Apa kau jalani hidup sekedar hidup seperti makan, tidur, belajar, kerja.
- Atau kamu punya cukup pengertian, mengapa kamu harus hidup?
- Sehingga kamu sadar dalam tiap kamu bicara, tiap kamu berbuat!
- Mengapa kamu harus belajar, mengapa kamu harus punya gairah agar punya duit?
- Dus, mengapa orang harus punya ambisi?
- Jadi naluri, nurani dan bathinmu harus jadi energi agar hidupmu berguna

Tetapi mbah, lewat jalan tol mana aku bisa punya banyak energi?
- Kamu punya kalbu berupa energi kasih sayang.
- Maka sayangilah dirimu sendiri
- Maka sayangilah ayah ibumu, kakekmu, nenekmu, tante dan pamanmu
- Maka sayangilah kakak dan adikmu
- Maka sayangilah anak istrimu
- Maka sayangilah tetanggamu, teman kantor dan lingkunganmu.
- Maka sayangila semua keluarga, semua famili dan lingkunganmu.
- Sayangilah sesama, jangan pandang sebelah mata, membeda-bedakan.
- Semua orang di dunia ini sama.

Kadang hatiku nggak sampai untuk memberi sayang pada seseorang, apalagi yang pernah membuatku sakit, yang pernah mengecewakanku dsb. Orang pasti punya musuh, mbah…! Maksudnya biar hidup itu tambah berwarna. Bukankah tanpa persaingan seperti sayur tanpa garam???
- Musuh? Persaingan?
- Ketahuilah, kalbumu itu sama dengan hatimu.
- Hatimu sama dengan sanubarimu
- Jika kalbu, hati dan sanubari itu tidak seirama, tidak sama, itu namanya error.

Aduh mbah, apanya yang error? Apa musuh, apa persaingan itu sesuatu yang error? Mbah, mbah…sekarang penduduk dunia bejibun, cari kerja sulit, jadi marketing susah, jual lombok banyak saingannya, bisnis buah naga mati-mati melulu. Kami harus bersaing agar tetap hidup…

Itulah cara hidup yang membuat mental energimu mengotori pikiranmu
- Kamu harusnya tahu, kamu berbuat, bertindak, belajar, bekerja karena kamu punya arah berpikir
- Pikiran itu adalah asal dari semua perbuatan yang kau kerjakan
- Maka jagalah jalan berpikirmu.
- Semua perbuatan berasal dari pikiran kamu.
- Kamu berpikir baik, kamu pasti mendapat yang baik
- Kamu berpikir negative, pasti akan terjadi! Ingat itu.
- Percaya saja, hari esok dan masa depan sudah ada dalam pikiranmu.
- Kalau kamu menggambarkan masa depan seperti Barrack Obama, kamu akan menjadi seperti dia di masa depanmu. Percaya nggak?
- Mulailah berpikir yang besar.
- Kalau kamu berpikir yang kecil-kecil, kamu juga hanya mendapat yang kecil, tahu……………………..!

Tetapi aku bekerja mati-matian agar tetap bertahan hidup! Koq masih begini-begini saja…
- Soalnya kamu lakukan dengan emosi.
- Emosi itu energi perasaanmu
- Kamu berpikir dan akhirnya merasa harus bersaing karena itu adalah cara untuk bertahan hidup..
- Kamu berpikir lalu berbuat agar bisa mengalahkan musuh karena itu adalah cara untuk bertahan hidup.
- Kamu berpikir tentang bersaing dan bermusuhan, itu bibit iri hati, cemburu, sakit hati, benci dan dendam.

Apa itu salah, kadang itu menjadi jalan untuk mendapat sesuatu!

Gini lho ngger…perasaan itu adalah nilai-nilai kemanusiamu
- Tetapi kamu menjalaninya tanpa bertanya kepada naluri kamu
- Kamu menjalaninya tanpa bertanya kepada nurani kamu
- Kamu menjalaninya tanpa bertanya kepada bathin kamu
- Kamu menjalaninya hanya dengan pikiran penuh emosi dari perasaan kemanusiaan kamu saja.
- Kamu hanya berpikir masalah kebutuhan hidup hari ini dan besok pagi.
- Kamu tidak berpikir untuk masa depan yang mewah, hidup enak, bahagia.
- Mulai menata otak kamu!
- Mulailah berpikir untuk masa depan yang hebat.
- Kalau berpikir, emosimu tidak ikut berperan.
- Kalau kamu berpikir, piker hingga relng-relng kalbumu.
- Apakah akan terjadi??? Percaya sama Embah enggak …heheheeee….!

Lalu bagaimana cara menjalani semua itu mbah…???
- Sulit lho… wong sampai sekarang hingga sampai waktuku nanti, embah masih terus belajar dan belajar untuk menjalani semua itu.
- Aku mengasah itu semua dimulai dari aku ada, mengapa ada, untuk apa ada.
- Semua karena pasti ada yang mengadakan.
- Siapa dia? Dia adalah BELIAU…ALLAH.
- Aku ingin berguna, bisa berguna, walau hanya kecil…tetapi maunya aku berguna bagi sebanyak mungkin orang lain.
- Aku tidak lagi berpikir aku untuk aku
- Aku ingin berpikir aku untuk orang lain, berbakti untuk orang lain
- Dengan modal itu, aku mulai menjalani semuanya…
- Aku sudah tua, sudah bau tanah. Aku hidup tenang, tenteram. Aku sudah melanglang buana di lima benua. Aku puas dengan hidupku.
- Tetapi aku masih punya energi… apa coba???
- Aku ingin berguna bagi banyak orang. Itulah pikiraku sekarang.

Andai aku jalani itu semua, apakah aku akan kehilangan rasa permusuhan, rasa persaingan? Ntar, aku hidup tanpa emosi, tanpa ambisi, mbah…???

Bukan itu maksudnya. Tetapi hakikinya seperti itu. Coba kamu lihat di pasar. Sederet kios semua menjual batik. Sederet kios menjual lombok semua. Sederet kios menjual beras semua, sederet kios semua menjual HP dsb.
- Kalau kamu mikir bersaing, kamu bawa dukun biar kiosmu yang paling laris.
- Itu nggak perlu, tiap orang hidup punya rezeki.
- Pikir saja bagaimana cara kamu membesarkan kiosmu, melayani konsumen, menjadikan konsumen sebagai pelanggan.
- Kiosmu laris, kios tetanggamu laris.
- Kios kiri kanan bukan musuh, bukan pesaing,
- Anggap mereka sebagai mitra, biar kalian kian kuat
- Kalau ada angin besar, kalian akan saling bahu membahu mengatasi bencana.
- Semua karena kasih sayang.
- Emosi dan ambisi dasarnya sayang.
- Sayang itu indah.
- Dengan sayang kamu nggak punya musuh, nggak punya pesaing.
- Tetapi yang paling indah adalah jika kamu sayang pada Allahmu…
- Jika sudah kau temukan itu, kamu pasti bisa menyapa nalurimu.
- Lalu kamu akan dapati…hidup ini indah. Indah sekali….

Coba mbah…saya akan belajar seperti yang anda ajarkan...meski aku susah mencerna uraian si Embah…..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar