Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 31 Maret 2009

Asal-usul Pasar-pasar di Solo

Pasar Kuno di Solo

Dongeng pasar di Solo sangat unik. Keunikan itu kini hanya ditemukan di Pasar Legi Solo. Bakul-bakul atau pedagang mbok-mbok dari desa, membawa dagangannya dari desa ke Pasar Legi. Jika sekarang semuanya diangkut dengan mobil, andong atau motor, dulu sangat unik.

Mbok-embok itu diiringi beberapa lelaki, berjalan beriring-iringan menggendong hasil buminya. Selalu ada iringan yang membawa obor, sebab mereka berangkat dari desa jam 2 malam. Sehingga dari jauh sudah tampak barisan obor yang berjalan sambil ceriwis, apalagi simbok-simbok ikut ke pasar, biasanya mulut mereka tak bisa diam menambah barisan bakul pagi ini.

Mereka berjalan berbaris satu persatu, tidak ada yang berjejer apalagi bergandengan, meski itu antara suami isteri anak dengan anak-anaknya. Mereka pergi ke pasar dengan baju kebaya seadanya dan kain bawah jaritan. Ada yang menggendong dagangannya, ada yang menjijing dengan keranjang tas, ada pula yang disunggi di atas kepala mereka.

Cara berjalannya pun urut aturan, tidak boleh saling mendahului. Jadi seperti barisan semut, beriringan satu persatu. Jika ada si embok yang kebelet pipis, barisan di belakang menunggu hingga si dia selesai pips. Pipisnya pun juga di sembarang tempat. Caranya hanya menarik jaritnya sedikit ke siku kaki lalu ‘thuuuurr’ tanpa jongkok alias kencing berdiri. Rupanya kebiasaan kencing berdiri ini sudah menjadi keahlian tersendiri para bakul, sehingga kain jarik mereka tidak sampai basah. Hingga sekitar tahun 1980-an, bakul-bakul yang menjajakan dagangannya keliling kampung di daerah kota, masih melakukan kebiasaan ‘kencing berdiri di sembarang tempat’. Keunbikan macam itu kini sudah tidak ada lagi. Simbok bakul juga sudah pada malu kencing berdiri. Hihihihi…

1. Pasar Legi

Saat kerajaan Kartasura pindah ke desa Solo, waktu itu belum ada pasar. Sejalan kian ramai desa Solo sebagai ibukota kerajaan, maka pasar-pasar tradisionalpun berdiri. Pasar yang paling mendapat perhatrian adalah Pasar Gede Harjodaksino. Sebenarnya pasar-pasar sebelumnya sudah ada. Bahkan dulu ada pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Kliwon, Pasar Pahing dan Pasar Legi. Hingga kini pasar Legi, Pasar Kliwon, Psaar Pon masih ada. Menegnng cerita pasar di kota Solo, mari kita simak pasar-pasar tradisional di Solo.

Pasar Legi berada di selatan Mangkunegaran, tepatnya di jalan S Parman. Hingga kini pasar Legi masih menjadi pasar grosir paling murah. Arealnyapun terus meluas. Jika pagi, pedaganganya sudah menggelar hasil bumi sejak pukul 02.00 dinihari hingga di emper-emper jalan sekitar pasar. Pasar Legi juga melayani penjualan hingga 24 jam.

Mengapa disebut Pasar Legi? Selain pasar ini pertama kalinya digelar pada pasaran Legi 5 hari sekali, pasar inipun lebih banyak menggelar dagangan yang bersifat legi atau manis. Misalnya gula jawa, jagung manis, gula aren, gula batu, gula aren hingga minuman legen. Pasar Legi menjadi pust grosir dagangan tradisional dan hasil bumi. Hampir semua hasil bumi dari daerah Surakarta dan sekitarnya masuk di Pasar Legi.


Pasar yang cukup besar di Solo yang masih berada di Kecamatan Banjarsari adalah Pasar Nusukan. Pasar ini pernah terbakar di jaman walikota Slamet Suryanto, lalu langsung dibangun tahun 2004. Tempatnya di kampong Nusukan. Disebut Nusukan karena dulunya banyak pedagang sate yang pekerjaannya menusuk-nusukkan daging untuk disate.


2. Pasar Kadipiro
Pasar Kadipiro juga di dekat Pasar Nusukan. Daerahnya dekat dengan perlimaan Joglo, dekat dengan makam Bonoloyo. Pasar ini berada di kampung Kadipiro. Daerah ini dinamakan Kadipiro karena daerahnya kering, banyak alang-alang berduri. Ketika dibasmi, gatal-gatal di tubuh sangat sakit amat sangat, tak terkira-kira, yang dalam bahasa Jawa ‘koyo dipiloro ra piro-piro’, sehingga daerah ini disebut Kadipiro.


3. Pasar Ngemplak
Pasar di Banjarsari ini tepatnya berada di jalan Achmad Yani dan jalan Panjaitan. Lebih tepat lagi berada di pinggir tanggul Kalianyar. Suasana pasar masih sangat tradisonal. Pasar ini disebut Pasar Ngemplak karena di daerah ini sangt kering. Tanaman juga hanya alang-alang dan tanaman kurang berguna lainnya sehingga sangat panas. Apalagi jika musim kemarau, lahan disini pana luar biasa hingga disebut orang jawa ‘panase ngenthak-enthak emplak. Maka daerah ini disebut Ngemplak dan pasarnya disebut Pasar Ngemplak.


4. Pasar Nggilingan
Pasar ini masih di Kecamatan Banjarsari, teaptnya di jalan Setyabudi dan jalan S Parman. Pasar tradisional ini cukup lengkap. Disebut pasar Gilingan (lebih akrab disebut Pasar ngGilingan) karena berada di kampung Gilingan. Nama kampong Gilingan diambil akrena di daerah itu dulu ada penggilingan beras.


5. Pasar Widuran
Pasar ini berada di jalan Sutanb Syahrir dan jalan Arifin. Pasar ini hanya berjualan burung dan perlengkapan peliharaan burung. Sejak tahun 1985-an Pasar ini dipindah ke Depok. Pasar burung Widuran pindahn dari Pasar burung di Slompretan Klewer. Meski sudah dipindah, tetapi hingga kini masih banyak pedagang yang berjualan bermacam-macam burung dan perlengkapannya. Nama Pasar Widuran diambil dearah itu yang bernama Widuran. Sebenarnya namanya dari bangsawan keraton Solo yang ngetop pada jamannya, Pangeran Widuro.


6. Pasar Kandang Sapi
Di depan Rumah Sakit dr Oen Jebres, tepatnya di jalan Katamso dan jalan Tentara Pelajar, disini ada Pasar yang murah sekali dagangannya. Masih sangat tradisional dengan jajanan kuno. Pasarnya tidak begitu besar, cukup untuk konsumsi penduduk setempat. Disebut pasar Kandang Sapi karena berada di daerah yang bernama Kandang Sapi. Di daerah ini dulunya banyak penduduk yang beternak sapi segala macam. Ada sapi perah, sapi pedaging, susu sapi hingga makanan sapi.


7. Pasar Ledhoksari
Di dekat pasar Kandang Sapi juga ada pasar yang lumayan besar, meski hanya cukup untuk kebutuhan penduduk setempat. Berada di Kecamatan Jebres tepatnya di jalan Urip Sumoharjo, namanya Pasar Ledhoksari. Karena tergusur oleh gedung-gedung tinggi di jalan abesar itu, pasarnya minggu ke kampong di jalan Johanes dan menjadi Pasar Jebres. Jebres berasal dari seorang Belanda bernama Van der Jeep Reic yang bermukim di daerah Jebres dan karena lidah Jawa menjadi Jebres.


8. Pasar Gede
Ini pasar paling besar di Solo. Disebut juga Pasar Gede. Pasar ini didirikan di jaman PB X. Saat awal, para bakulnya masih memakai kebaya dan kain jarit, sedangkan pedagang prianya mengen akan busana Jawa dan blangkon. Setiap hari keraton akan menarik pajak. Pasar ini dibangun oleh arsitek terkenal dari Eropa yang juga membangun Pasar Semarang dan gedung-gedung indah di Bandung. Pasar Gede disebut juga Paar Harjonegara, maksudnya untuk mengenang bangsawan Harjonegara yang memulai mendirikan Pasar Gede. Awalnya Pasar Gede dibangun di tanah titipan yang dihuni Babah China b erpangkat Mayor yang terkenal Babah Mayor. Ia mendirikan warung-warung kecil yang berjejer hingga Warung Miri (kelompok penjual bumbu pawon) dan Warung Pelem (kelompok penjual buah utamanya mangga). Namun setelah dibangun gedung Pasar, warung-warung diminta masuk Pasar Gede hingga sekarang. Pasar Besar ini pernah terbakar habis sekitar tahun 2000 dan kini sudah dibangun lebih megah lagi.


9. Pasar Singosaren
Dulu di Matahari Singosaren ada pasar tradisional bernama Pasar Singosaren. Setelah bakul-bakulnya dialihkan ke Pasar Kadipolo, pasar Singosaren menjadi pertokoan mewah. Berada di jalan Rajiman dan jalan Diponegoro, kini daerah itu merupakan daerah pertokoan paling ramai di Solo. Nama Singosaren diambil dari nama menantu PB X yang bernama Pangeran Singosari.


10. Pasar Kembang
Mungkin hanya ada di kota Solo suatu Pasar yang hanya menjual bunga-bunga setaman. Dalam perkembangannya, pasar ini akhirnya juga menjual kebutuhan pokok dan dapur. Tetpi pasar yang terletak di Jalan Rajimn ini memang khusus menjadi pasar kembang. DUlunya pedagangnya lebih suka berjualan dengan cara berhamburan di sepanjang pinggir jalan Honggowongso. Maklum pembelinya hanya membeli bunga setaman, sehingga malas parkir dan masuk pasar. Rupanya pembangunan gedung pasar tidak sukses karena penjual bunga merasa sepi pembeli. Pasar ini ramai ketika musim sadranan atau nyekar pada bulan Ruwah, Syawal, Sura dan bulan-bulan dimana banyak orang mantu.


11. Pasar Kadipolo
Rasanya pasar Kadipolo berhubungan erat dengan Pasar Kembang. Maklum hanya selangkah di depannya. Pasar Kadipolo dulunya kecil, tetapi sejak bakul-bakul pasar Singosaen dipindah ke pasar Kadipolo, pasar ini mendadak ramai. Sayangnya lahannya teramat sempit. Beberapa tahun bakulnya berhamburan di sepanajang jalan Rajiman. Kini sudah cukup tertip masuk di pasar Kadipolo dan Pasar Kembang. Nama Kadipolo diambil dari perasaan merasa disakiti amat sangat, dimana orang Jawa menyebut ‘koyo dipiloro dipolo’ sehingga menjadi Kadipolo. Kesakitan ini karena penduduk diminta memberi upeti berupa tanah di Kadipiro untuk pembangunan keraton Surakarta. Tanah ini sebelum disebut Kadipolo bernama tanah Talangwangi. Maklum tanah disini berbau wangi sehingga dipilih PB II untuk mengurug rawa-rawa desa Solo yang akan dibangun keraton Solo.


12. Pasar Penumping
Kea rah bvarat dari Pasar Kadipolo, ada Pasar Penumping. Pasarnya tidak begitu besar, cukup untuk kebutuhan penduduk daerah Penumping dan Baron. Nama Penumping diambil dari abdi dalem kerajaan yang berpangkat Nayaka Penumping, sehingga daerah ini disebut Penumping.


13. Pasar Purwosari
Ini pasar yang berda di sebalik jalan Slamet Riyadi, tepatnya di belakang resto Sari. Pasarnya gede banget, ramai banget, tetapi tidak teratur. Pinggir jalan kampong dipenuhi bakul-bakul. Masuk pasar juga sempit, apalagi jika masuk dari pintu jalan Slamet Riyadi. Di dalam pasar lebih sepi dibandingkan yang di luar pasar di sekujur belakang pasar atau di jalan kampung.


14. Pasar Sangkrah
Berada di kampung Sangkrah, tepatnya di jalan Sambas. Pasar ini sangat ramai di pagi hari. Dekat dengan stasiun Sangkrah. Pasar ini hanya cukup untuk melayani penduduk sekitar. Disebut Pasar Sangkrah karena berada di Kalurahan Sangkrah. Nama Sangkrah tidak lepas dari penemuan mayat yang menyangkut (nyangkrah-Jw) di dahan-dahan pohon bamboo di pinggir sungai. Mayat itu oleh Kyai Solo diketahui sebagai Pangeran Pabelan, putera Tumenggung Mayang yang memacari Puteri Sultan Hadiwijaya jaman tahun 1578-an. Meski pasar ini kecil tetapi cukup komplit plit.


15. Pasar Kliwon
Pasar ini berada jalan Mulyadi. Kini jualannya komplit untuk segala kebutuhan dapur dan rumah tangga. Padahal awalnya, pasar ini hanya menjadi trasitnya pedagang kambing. Setiap pasaran Kliwon, pasar ini sangat ramai, sehingga disebut Pasar Kliwon. Nama Pasar Kliwon menjadi nama Kalurahan dan sekaligus nama kecamatan. Adapun pasar kambing dialihkan ke Silir, bersamaan dengan pasar ayam dan bebek.


16. Pasar Gadhing
Berada di jalan Veteran, pasarnya cukup ramai. Para bakul suka berjualan disini karena mengharapkan dagangannya dimakan Kebo Bule Kyai Slamet milik araja. Jika dagangannya dimakan Kyai Slamet alamat akan mendapat rejeki. Pasar ini berada di kampung Gadhing. Nama Gadhing bukan berasal dari gading gajah, tetapi dari abdi dalem raja yang pekerjaannya gadhingan, yakni orang suci demi kejayaan keratin, utamanya tugas-tugas di saat ada raja yang wafat.


17. Pasar Harjadaksino di Gemblegan
Nama Pasar secara resmi Pasar Harjodaksino, berada di jalan Yos Sudarso dan jalan Dewi Sartika, Danukusuma. Tetapi karena berada di dekat perempatan Gemblegan, lebih popular disebut pasar Gemblegan. Asal nama Gemblegan dari daerah yang ditempati abdi dalem kerajaan yang bertugas kuningan pembuat bokor, tempat kinang atau barang-barang yang berasal dari kuningan. Profesi itu dalam bahasa Jawa disebut Tukang Gemblak, maka daerah itu disebut Gemblegan. Jika ingin mencari makanan kuno makuno yang sangat tradisional, cari di pasar ini, pasti ketemu.


18. Pasar Klewer
Ini pasar kain dan sudah ngetop menjadi pasar Mangga Duanya Solo. Semula merupakan Pasar burung di Slompretan. Nama Slompretan berasal dari plesetan Pakretan, dari asal kata kreta. Dulu banyak kereta yang parkir di Nglorengan ini Karen penumpangnya akan menghadap sang raja. Karena banyak kereta yang parkir, daerah ini lalu disebut Pakretan yang di plesetkan menjadi Slompretan. Nama Nglorengan sendiri berasal dari sinyo Belanda bernama Lourens yang dalam lidah Jawa menjadi Loreng hingga menjadi Nglorengan.
Pasar Klewer kini penuh dengan kain batik Disebut Pasar Klewer diawali banyaknya penjual kain yang tidak punya kios yang dompleng jualan di pasar burung. Maklum pasar burungnya ramai. Simbok pedagang kain jarit, lendang dan kebaya hanya ditaruh di pundak, padahal dagangannya dibuka lembaran. Tak heran dagangannya menjuntai-juntai keleweran di tubuhnya. Si embok penjual kain ini mengejar pembeli agar dagangannya dibeli. Lebih baik beli baju daripada beli burung, kan bapaknya sudah punya burung, kata mereka. Kian hari pedagang kain kelewran ini kian banyak, malah lebih banyak dari pada penjual burungnya, sehingga pedagang burung dpindah ke Pasar Widuran. Akhirnya pedagang keleweran ini dibuatkan gedung pasar dan diberi nama Pasar Klewer sesaui dengan sejarahnya yang kainnya keleweran di pun dak si bakul.


19. Pasar Nangka
Meski namanya Pasar Nangka, tetapi yang menjual nangka hanya sedikit. Maklum disebut pasar Nangka karena dulunya di daerah itu banyak tanaman nangkanya. Kini tidak ada satupun. Meski begitu, dulunya pasar ini memangh special menjual nagka, gori dan kluwih. Pasar ini berada di jalan RM Said komplit dan murah, tetapi pasarnya kecil. Pasar ini kian ramai karena di depan pasar juga ada pasar tanaman hias.


20. Pasar Coyudan
Ini bukan pasar tradisional, tetapi merupakan pertokoan barang-barang kebutuhan sekunder seperti kain, tas, sepatu dll. Sekarang merupakan daerah pertokoan paling ramai di Solo, tepat di jalan Rajiman dan jalan Yos Sudarso. Disebut Pasar Coyudan berasal dari Pangeran Secoyuda yang bermukim di daerah ini.


21. Pasar Triwindu
Pasar ini berada di depan Pasar Pon tepat di jalan Diponegoro. Barang jualannya berupa benda antik. Pasarnya telah direnovasi menjadi salah satu asset pasar paling yahut di Solo. Dulunya bernama Pasar Ya’ik. Berubah menjadi Pasar Triwindu karena menjadi arena peringatan 3 windu jumenenganya Mangkunegoro VII. Akhirnya disebut Pasar Triwindu.



Meski masih ada beberapa pasar lagi, tetapi kecil saja.
Adapun pasar-pasar yang tergusur dan tampil dengan wajah baru adalah sbb:

22. Pasar Dhawung
DUlu berada di kampong Dhawung, tetapi kini sudah menjadi pertokoan yang cukup besar. Disebut pasar Dhawung karena dulu ada penjual jamu dan bahan jamu yang berjualan di bawah pohon dhawung. B akulnya manis, jamunya manjur sehingga banyak pembelinya. Karena kian ramai, banyak bakul yang ikut berjualan disini sehingga akhirnya disebut Pasar Dhawung.

23. Pasar Pon
Disebut Pasar Pon karena ramainya ketika pasaran Pon. Pasarnya sudah hilang, tetapi nama Psar Pon menjadi nama perempatan Pasar Pon yang paling ramai di Solo. Letaknya di perempatan jalan Slamet Riyadi, jalan Diponegoro dan jalan Gatot Subroto.

24. Pasar mBeling
Ini adalah pasarnya barang-barang pecah belah di Solo. Tepatnya berada di sewkitar perempatan jalan Supomo depan SMU Muhammadiyah.

25. Pasar Ngapeman
Dulu banyak yang jualan apem, tepatnya di jalan Slamet Riyadi dan jalan Gajah Mada. Disini juga menjadi pasar sepeda bekas. Kini menjadi hotel Novotel.

26. Pasar Senggol
Di Purwosari, jika malam tiba, jalan Purwosari sederetan dengan Resto Sari selalu penuh oleh penjual kaki lima. Pengunjung buanyak, pasarnya sempit karena berada di pinggir jalan. Maka selalu terjadi senggol-senggolan, sehingga disebut Pasar Senggol.

Masih ada lagi? Tentu masih banyak seiring denagn perkembangan jaman. Siapa yang mau nambah atau merevisi boleh doang. (noni)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar