Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 29 April 2009

Sobo Turut Lurung di Solo
Sebuah perjalanan menyusuri kampung-kampung di Solo
JOWO LONDO DI GANG TUA (3)

Dasar meneer Londo punya langkah panjang dan cepat, kaki Ni Ngoro kesandung kerikil ketika mau mengimbangi kecepatan langkah Heintche. Ia tidak terjatuh, namun telapaknya miring hingga betisnya menapak tanah. Sakitnya luar biasa, seperti ada tulang yang terkilir. Saat itu Ni Ngoro dan partner ‘sobo turut lurung’-nya yang asal Belanda Rudd Rden Heintchedoocth, baru turun dari sampan di sungai Bengawan Solo Bandar Beton Gadingan Kampung Sewu. Mereka baru saja bersampan bolak-balik menyeberangi sungai Bengawan Solo.

Meski terpincang-pincang kesakitan, sebegitunya ia menolak dituntun Heintche. Maklum Ni Ngoro kasihan pada Sinyo yang juga tergelincir di pinggir Bengawan di daerah Jurug beberapa jam lalu. Celana jeansnnya robek, kaosnya kotor, lengannya berdarah. Penduduk kampung memberi obat merah, Heintche sudah merasa tidak sakit lagi. Kini ganti Ni Ngoro terkilir, namun ia tak ingin bermanja-manja pada bule bau keju itu.

“Menit ke depan pasti sembuh sendiri. Aku hanya minta kamu jangan jalan cepet-cepet. Langkahmu terlalu lebar bagiku.” Hentche tertawa. “Kamu memang wanita bandel tiada duanya. Ok. Sekarang bisa lanjut jalan? Jy ziek, Ni?” Ni Ngoro melangkah, terpincang memang. Namun ia berusaha tidak meringis. Inilah pribadi yang akan ditunjukkan kepada sinyo yang bangsanya pernah menjajah Indonesia hingga 3 abad. Tidaklah bagus jika rakyat Indonesia masih cengeng di hadapan meneer penjajah. Londo itu tersenyum dan mengikuti langkah Ni Ngoro yang terpincang. Ia mau menuntun, tetapi Ni Ngoro mengibaskan tangan meneer itu.

“Baiknya kita duduk di bawah pohon, lalu meronce cacatan kita. Bukankah disini wilayah Bandar Beton? Ini pelabuhan sungai milik kerajaan Kartasura, tempat dimana Kyai Solo berkuasa!” kata Heintchedoocth. “Kyai Solo menjabat kepala pelabuhan, juga lurah desa. Hingga kini, siapa nama sebenarnya Kyai Solo, tidak diketahui, begitu kan Ni?”

“Kata Solo memang berasal dari permudahan kata bau soroh. Bau soroh jabatan kepala pelabuhan (tetapi apakah dia pula yang menjabat lurah desa Sala-nya). Biasanya orang Madura, Sumatra dan China sulit menyebut Bau Soroh. Lidah mereka menyuarakan Solo,” ujar Ni Ngoro meringis akibat masih sakit di betis kakinya.

“Kampung ini bernama Kampung Sewu. Pak tua di pinggir tanggul tadi bilang, kata Sewu diambil dari nama abdidalem Nayaka Sewu yang tinggal di kampung ini.” Tetapi tadi si juru sampan bilang bahwa asal kata Sewu katanya dulu ada seorang Kyai bernama Sewu bertapa di bawah pohon dekat kantor kalurahan. Ada lagi yang bilang, untuk keselamatan pelayaran di sungai Bengawanm Solo, perlu upacara dengan menggunakan lilin yang buaanyak sampai seperti ada seribu lilin. Padahal ada upacara tabur apel sewu. Yang bener yang mana, ya Ni?”

“Kalau mau cari yang bener, mari ke Pak Lurah!” Serta merta Heintche menolak. “Oh nee, nee, nee. Tidak! Aku ingin data dari rakyat. Aku mau tahu seberapa pintar dan pedulinya rakyat pada lingkungan hidup mereka!” gertak Sinyo itu. Ni Ngoro tertawa. “

Seorang nenek penjual jagung rebus ikut duduk di bawah pohon. Betapa senang Ni Ngoro dan Heintche bisa jajan jagung rebus. Nenek jagung itupun bercerita tentang Kampung Sewu. Katanya dulu bandar Benton ini besar. Ni Ngoro melihat bekas-bekas bandar yang masih tersisa. Banyak pabrik di desa paling ujung timur kota Solo ini. Dulunya banyak saudagar batik di Beton. Kandi, penduduk di Beton, nenek moyangnya adalah juragan batik. Selain membuat batik, depan rumahnya juga dibuka toko. Banyak pabrik batik Laweyan yang menitipkan batik di kiosnya untuk dijual pada para pelayar sungai Bengawan. Dari kios-kios itulah, kain batik diperdagangkan para pelayar di wilayah Jawa Timur dan ke seluruh dunia.

Ulet dan pintarnya penduduk Beton dipamerkan oleh Kandi dengan menyebut tokoh dunia yang berasal dari Kampung Sewu. Soebroto, matan Menteri jaman Suharto adalah ketua OPEC. Ada juga mantan ketua MPR RI, May Jen Daryatmo yang juga asli Kampung Sewu. Sedang etos kerja tinggi diperlihatkan oleh Bah Inco, pendiri Konimex di awalnya yang dibesakan di Kampung Sewu. Konimex menjadi multiusaha setelah managemen dipegang anaknya, Joenaedi Joesoef. Yang paling hebat adalah tokoh yang lepas dari penyembelihan PKI tahun 66. Saat menulis ini, catatannya luntur oleh air keringat. Maklum catatan itu dijepit di celana dan perut. Nama tokoh itu luntur. Padahal nama itu tokoh yang pura-pura sudah mati waktu penyembelihan oleh PKI, biar tidak disembelih lagi. Setelah para jagal pergi, iapun lari dan hidup hingga tahun 2000-an. Ni Ngoro merasa cukup bertualang ahri itu. Kakinya sakit. Ia ingin pijat di betisnya yang terkilir. Kebetulan ada taksi kosong yang lewat.

----0000----

Pagi-pagi yang cerah, Ni Ngoro bersama Heintchedoocth ‘sobo turut lurung’ di Kalurahan Kedunglumbu Solo. Mereka memulai di tengah keramaian mall Beteng Plasa. Letaknya hanya 1000 meter dari utara Balaikota Solo, 1000 meter pula dari selatan keraton dan 1000 meter pula dari Pasar Klewer Solo. Di tengah mall besar yang seramai Beteng Plasa, ada makam yang dikeramatkan kalangan tertentu. Inilah makam Pangeran Pabelan.

Inilah makam Pangeran Pabelan yang diragukan oleh Heintchedoocth? Ceritanya Pangeran Pabelan itulah don yuan yang diperdebatkan Ni Ngoro dan Heintchedoocth. Benar atau tidaknya beliau adalah Pangeran Pabelan, generasi sekarang tahunya hanya menurut pada Babad Tanah Jawa yang diuraikan oleh Kyai Solo III kepada pada utusan raja seperti Yosodipura dan Honggowongso. Jika benar dia adalah Pangeran Pabelan putera Tumenggung Mayang, maka beliau hidup pada tahun 1570-an, semasa Djaka Tingkir atau Hadiwijaya berkuasa menggantikan raja-raja Demak. Pangeran Pabelan memacari Puteri Hemas, puteri raja Hadiwijaya.

Bathang mayat Pangeran Pabelan ditemukan seorang Kyai yang menurut Kyai Solo III ditemukan oleh kakeknya, Kyai Solo I. Ceritanya, sang Kyai menemukan mayat tersangkut di sebuah dahan bambu di sungai di Sangkrah. Mayat itu lalu diseret ke tengah air yang mengalir agar terbawa arus dan hilang dari pandangan mata. Namun esok harinya, mayat itu kembali ke tempat semula. Sang Kyai kembali menghanyutkannya ke tengah derasnya air sehingga terbawa arus lagi. Anehnya, esok harinya si mayat kembali di tempat semula.

Heran atas peristiwa itu, Kyai tadi langsung bertapa untuk mengetahui siapa gerangan si mayat. Dalam tapanya, Kyai hanya mampu menerima pesan bawa mayat ini minta dimakamkan secara wajar. Maka iapun akhirnya diambil dan dimakamkan di sebuah tanah, hingga tanah di daerah itu diberi nama Bathangan. Bathangan berasal dari bahasa Jawa bathang (mayat). Tak heran mayat itu pertamanya disebut Kyai Bathang.

Adapun tempat dimana ditemukan mayat yang menyangkut di sungai diberi nama Sangkrah. Sangkrah berasal dari bahasa Jawa nyangkrah atau bahasa Indonesia ‘menyangkut’. Nama Sangkrah selain nama sebuah dukuh, juga menjadi nama Kalurahan di Kecamatan Pasar Kliwon sekarang.

Hingga sampai di sini, Heintchedoocth masih percaya pada cerita itu. Tetapi pada tahun 1742. Namun selisih waktu antara 1570 dengan 1740 berkisar 170 tahun inilah yang membuat Heintchedoocth heran, bagaimana Kyai Solo bisa menyatakan bahwa Raden Bathang ini adalah Raden Pabelan. Makam di mall ini nyaris tidak diketahui pengunjung mall, karena ditempatkan tersendiri.

Daerah Bathangan terletak di Kalurahan Kedunglumbu. Nama ini juga disangkut pautkan dengan Pangeran Pabélan ini. Adalah Kyai Solo III, tetua desa Sala. Tahun 1742, utusan raja Pajang PB II diantaranya Yosodipura dan Honggowongso, mereka meminta secara resmi bahwa tanah kekuasaan Kyai Solo akan dipakai sebagai istana raja Pajang yang ingin pindah ke desa Sala. Rakyat desa Solo harus bedol desa. Namun raja PB II hanya memberi ganti rugi berupa kayu gelondongan. Jadi dari mana uang untuk membeli tanah, paku, pasir, semen dsb?

Menurut Babad Tanah Jawa, tanah desa Sala berupa rawa-rawa. Benarkah? Andai benar, bagaimana rakyat desa Sala bisa hidup di rawa-rawa? Bagi Heintchedoocth, rakyat desa Sala memang pergi, namun mereka bergerilya membuka sumber-sumber air di tanah dimana istana akan didirikan. Air terus mengalir, menggenangi tanah dan mengubahnya menjadi rawa-rawa. Rakyat juga menaburkan segala macam ikan termasuk ikan air laut.

Tiap kali rawa-rawa disumbat dengan kayu-kayu, batu atau benda keras lain, air tetap tak berhenti mengalir. Ini tidak mengerankan, karena setiap habis disumbat, malamnya, rakyat gerilya lagi membuka sumber air. Apa artinya? Artinya, itulah bentuk demo rakyat desa Sala di tahun 1742-1744. Penggeraknya, siapa lagi kalau bukan Kyai Gede Solo III?

Toh pada akhirnya, karena keraton harus cepat dibangun, raja mengabulkan permintaan rakyat dan membayar ganti rugi sebanyak 10 ribu gulden (entah uang segitu dulu sebanyak apa). Setelah diberi ganti rugi, Kyai Sala pura-pura bertapa di makam Kyai Bathang. Nah dalam tapanya ini, beliau mengarang cerita bahwa makam itu adalah Raden Pabelan. Dalam tapanya, beliau diberi Raden Pabelan sebuah bunga delima dan daun lumbu untuk menutup sumber air Tirta Amarta Kamandanu.

Keringlah rawa-rawanya. “Hebat! Sumber air rawa hanya ditutup pakai daun lumbu. Padahal dibendung pakai kayu jati gelondongan tidak bisa,” seru Sinyo Londo tertawa terbahak. Ni Ngoro ikut tersenyum kecut. “Dalam bahasa spiritual, daun lumbu itu bisa menutup sumber air ‘tirta amarta kamandanu’. Ingat, kamu punya darah Jawa, kamu harus belajar kejawen,” bela Ni Ngoro. “Ya udah. Tetapi boleh aku bilang begini…setelah rakyat terima uang ganti rugi bagian dari 10 ribu golden itu, mereka tak lagi membuka sumber-sumber air. Udah Ni, nggak usah berdebat lagi!”

Adapun asal nama Kedunglumbu bermakna politis. Kedhung berarti sumber air. Di kedhung itu tumbuhlah jutaan tanaman lumbu. Daerah ini lalu dinamakan Kedunglumbu. Ni Ngoro mencatat penemuan tentang makna Kedhung Lumbu yang lain.
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar