Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 03 Juni 2009

Sesaji Tingkeban

Sesaji Tingkeban

Tingkepan adalah upacara ibu hamil mencapai usia 7 bulan berjalan.
Upacara ini paling bagus diadakan pada hari : Rabu atau Sabtu sebelum tanggal 15t Jawa.

Syaratnya:
- Diadakan upacara siraman kepada ibu amil dengan menggunakan gayung bernama siwur (batok kelapa) dimana batok kelapa itu masih ada kelapanya.
- Air mandi berasal dari 7y sumber air (7 sumur)
- memakai air bunga setaman
- Sabunnya berupa beras 7 warna, dicampur tepung mangir, daun pandan wangi dan daun kemuning
- Yang menyiram dukun atau tetua
- Ibu hamil duduk di kursi yang diberi alas tikar lengkap dengan daun opo-opo, daun kluwih, daun kara, daun dadap serep, alang-alang
- Tikarnya diberi alas kain semebt yaitu: letrek, jingga, banguntulak, sindur, sembagi, slendang, lurik pulu watu dan yuyusekadang serta lawon.
Sesajinya berupa:
- Nasi sayur dan jajan pasar
- Bubur merah putih, baro-baro dan bubur procot
- Nasi kering, kedele, kacang, wijen goreng sangan dan digongso
- Emping ketan (ketan mentah goreng sangan dicampur gula jawa disisir
- Tumpeng robyong:
(tumpeng dalam cething dengan isi: telur, ikan, trasi, brambang dan lombok yang disat ditaruh paling atas di pucuk tumpeng. Di sisi-sisi tumpeng ditaruh sate gereh, sate sayur-sayuran dan kacang panjang
- Penyon (glepung beras ditaburi air, lalu di beri berbagai warna s
- Sampora (glepung beras campur santan ditaruh di bathok kelapa diberi gula jawa.
- Kaku bamboo pring sadapur. Isinya tepung dicampur air, dibuat tumpeng berjumlah 9, ditancapi gelindingan tepung kecil berwarna-warni.

Jika sesaji lengkap, barulah diadakan siraman. Dalam siraman dilakukan ganti baju berwarna-warni.
Sesaji ganti baju : benang atau kain berwarna: merah putih, hitam, diikatkan pada tubuh oleh mertua dan orangnya, sambil berujar: pria atau wanita mau janji selamat.

Selanjutnya membanting degan atau kelapa cangkir gading kembar yang digambari Kamanjaya dan Ratih, Janaka, Sembadra atau Panji dan Candrakirana sambil berujar:
“jika pria seperti Kamanjaya, Arjuna atau Panji, jika wanita seperti Ratih, Sembadra atau Candrakirana.

Upacara Kembenan Pitu:

Sesudah siraman, lalu masuk rumah ke arah patanen. Di ruang ini ada upacara kembenan
sebanyak 7 kali, dipakai bergantian. Setiap satu pakaian terpakai, para sesepuh berujar “belum patut”, maka lalu dikenakan busana kedua hingga seterusnya sampai yang ke tujuh. Semua busana dikumpulkan jadi satu tanpa dilipat.
Pada pakaian ketujuh yang dilepas, ibu hamil ini lalu menduduki semua 7 busana tadi, lalu terakhir mengenakan baju yang sebenarnya, terdiri atas: batik truntum, kemben dringin, tanpa memakai gelang kalung. Ali-ali dsb. Tetapi kemudian dikalungin bunga melatin putih, seterusnya orang tua berujar: “Wah, sudah patut”.
Upacara selesai, bancakan tingkepan bisa dibagikan pada tetamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar