Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 03 Januari 2011

Bola Semut Gajahmada Melawan Kacoak

Wawancara Imajiner dengan Gajahmada 4
Bola Semut Gajahmada Melawan Kacoak

Aku sangat sedih, bukan karena Tim Garuda kalah lawan Malaysia di leg I final AFF. Aku sedih karena Nurdin Halid dan Nugroho Besoes sangat serakah, tak berbagi dalam hal menjual tiket final leg II di Gelora Bung Karno, 29 Desember 2010. Kulihat tiket sampai direbut-rebut di tengah lapangan rumput, banyak perusakan-perusakan di GBK, ini akibat telalu banyaknya pengingkaran panitya penjual tiket. Karena kejadian itu, aku sepertinya mendapat isarat buruk.

Ada bisikan bahwa Nurdin Halid dan Nugroho Besoes akan kena kutuk akibat seringnya terdengar umpatan pemburu tiket. Nyatanya Garuda dibekuk 3-0 oleh Malaysia. Aku merenung sendiri di bawah taburan lintang di Alun-alun keraton Solo. Jam menunjukkan pukul 1 tengah malam, namun aku tak dapat tidur. Itulah sebabnya aku cari angin di sini. Bau wangi terasa bergulir masuk di hidungku. Bau ini seperti wanginya keraton. Aku menoleh. Betapa kaget ketika ada bisikan di telingaku. Aku ingat-ingat, itu seperti suara Mahapatih Gajah Mada. Aku memanggil, dia tertawa kecil menandakan beliau memang sedang menemani aku.

Aku : Paman Gajah...? Aduh..., paman sangat mengagetkanku? Oow, mimpi apa aku ini, mau-maunya Paman Patih nyambangi aku.

GM : Kulihat kamu termenung, ngalamunin apa?

Aku : Paman Gajah. Aku tidak bisa melihat anda, tetapi aku yakin, anda cukup santai di rumput ini, kan? Begini Patih, hatiku sedih. Kami sepertinya hanya boleh eporiah tanpa tropih. Kami taklukkan Philipina, tetapi diganjal Malaysia. Apa benar suporter Malay urik, curang?

GM : Uhhhh, alasan... Kamu belum menang, udah dikrubuti tikus-tikus partai. Media gitu juga. Pemain itu, biar latihan dulu… malah diundang kesana kemari, capaiiii tahu nggak sih?? Mengapa kamu harus nggak sabar menunggu sampai juara?

Aku : Yaachh kami sudah sangat rindu bisa memeluk tropih.

GM : Pernah kubilang, sejak kecil aku sudah dihajar dengan ilmu-ilmu tingkat tinggi. Jika sebulan aku bermain terus 90 menit, aku nggak akan capai. Kamu baru 5 kali main dengan jarak hari saja, sudah lumpuh main yang keenam, di kandang lawan lagi. Jika memang segitu aja bugarnya, ganti saja pemainnya. Energimu sudah dikuras Philipin, ehh pelatih nggak mau ngganti pemain. Final koq spekulasi nurunin pemain mentah.

Aku : Maksudnya Yongki, bukan Bambang atau Irfan yang dipilih?


GM : Bukan itu saja, kurcaci Halid dan Besoes, dia Sengkuni, terlalu serakah. Tak pernah mau belajar dari pengalaman, Sengkuni ini sellau mundur, apalagi tak mau berbagi. Pemain butuh supporter, cari tiket susahnya kayak cari jarum di gurun. Berapa puluh tahun Nugroho Besoes nonggkrong di kursi PSSI, nggak becus becus lagi? Kamu nggak bisa cerdas karena nyandar di dadanya. Itulah tikus-tikus yang bikin mental pemain selalu blong-blongan, dikacau hal-hal sepele. Besoes itu nggak ada matinya di PSSI. Hebat, kayak Suharto. Hamili cewek nggak tanggung jawab, bisa duduk terus di tahtanya.

Aku : Tapi Halid punya mimpi besar, mau jadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia..

GM : Wk wk wk wk, kodokpun tertawa. Mantan napi itu jogetnya persis kacoak. Kacoak kalau terbang, kalau berjalan, nggak punya tujuan, nggak punya mata, asal terbang, asal jalan. Pintarnya kalau diserang, sigap sekali, gesit berlari dan sembunyi. Dipenggal kepalanyapun masih tahan hidup seminggu.

Aku : Itu Nurdin Halid?

GM : Kadang kayak kacoak, kadang tikus.

Aku : Mengapa Paman tidak menyemangati Tim Garuda?

GM :Kamu harus mengasah diri punya mental juara! Pelajari dan amalkan 15 cara jadi manusia sejati Gajah Kencana. Dicontoh itu!!! Gajahmada bermental juara, nggak pernah kalah. Kalau Gajahmada kalah itu karena dipecat Hayam Wuruk.

Aku : Kami kalah karena diteror laser supporter lawan.

GM : Kabar gawang Markus disebari kuman sampai bengkak…? Cari alasan apa lagi! Biarkan yang capai bobo nyenyak, gantilah pemain. Asah mental juaranya… kalau tidak mau, ya sudah.

Aku : Jika Halid dan Besoes dikutuk, Garuda gagal?

GM : Dia harus minta ampun dulu pada bangsamu, lalu keduanya harus langsung turun tahta!!!

Aku : Itu malah pengecut Paman Gajah!

GM : Sudah diampuni beribu kali, kali ini masih ada ampun? Sekarang pilih Garuda di dadamu atau membela segelintir kurcaci?

Aku : Mereka bukan kurcaci, mereka momok!! Kalau Besoes itu unthul bawangnya Halid. Sedang Halid itu tukang cetak duit ndoronya. Imbalannya ketua PSSI. Nggak ada pejabat yang berani sama Halid.

GM : Wk wk wk… apa dia itu Gajahmada, sampai pada takut wk wk wk wk… Itu takut pada duitnya, bukan pada Halidnya!

Aku : Di jaman Majapahit, apakah sudah ada sepakbola?

GM : Ada, bolanya kelapa, dibakar dengan api besar. Namanya bal-balan api.

Aku : Lapangannya mana, kenapa Majapahit tidak ninggalin stadion, kayak Yunani ninggalin stadion Olimpyade?

GM : Dulu belum ada kompetisi, jadi belum kepikir bikin stadion. Wong FIFA aja dibentuknya baru abad 20. Nah kamu tahu Alun-alun? Di Alun-alun itulah semua kegiatan rakyat dilaksanakan!

Aku : Suporter sering bikin onar, ribut, rusuh, ngrusak dan mbakar-mbakar. Yang paling ganas Bonek! Apakah ini termasuk tinggalan Majapahit?

GM : Kurangajar, Bonek bukan warisan Majapahit. Bonek ini ‘koloni semut’. Semut itu jika sendiran, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi jika sekerumunan, mereka bisa kerja gotong royong, dengan tugas masing-masing, tanpa komando, tanpa manajemen, langsung tepuk dada, inilah bonek!

Aku : Jadi supporter Garuda itu samakah dengan Koloni Semut?

GM : Koloni semut pasti menang jika gotong royong menyerang kacoak. Moso kacoak satu saja selalu menang melawan koloni semut???

Aku : Qiqqiqiqi… Iya deh, biar koloni emut menyerang kacoak, tunggu Paman. Koloni semut sejumlah milyaran, tak akan kuat ngangkat Garuda! Itu artinya Paman Patih tidak mendukung Tim Garuda.

GM : Heh, sejelek apapun, itu milik kita, harus terus didukung! Apa kamu mau terus-terusan jadi juara bayangan? Itu artinya kamu nggak mau mendengar kritikan, kamu takut sama kacoak! Kamu bikin aku marah saja. Ya sudah aku pergi.

Aku : Tunggu Paman…. Jika aku ingin wakuncar dengan Paman Gajahmada, tanpa perlu mengajak Mbah Wiji, bagaimana caranya?

GM : Kamu harus mempertebal ibadahmu. Sana dzikir dulu. Sudah aku pergi!!!

Aku termangu. Kupangil Gajahmada, tetapi tak ada jawaban. Beliau sudah pulang lagi.



Solo, 27 Des 2010
noniruli

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar