Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 15 Februari 2009

SESAJI TEDHAK SITEN

Sesaji Tedhak Siten

Ini adalah upacara pitonan, ndhunan, tedhak siten, undhun-undhunan, merupakan upacara menyambut 7 lapan usia bayi. 7 lapan adalah 35 x 7 hari = 245 hari. Jadi bukan 7 bulan. Dalam kalender jawa selapan adalah 35 hari. Maksudnya jika si bayi lahir Sabtu Pahing, pada 35 hari lagi usianya 1 lapan. Jadi Tedhak Siten adalah selamatan usia bayi sekitar 8 bulan lebih 2-4 hari.

Tedhak Siten atau Pitonan berbeda dengan mitoni. Mitoni adalah peringatan usia bayi yang masih dalam kandungan ibunya selama 7 bulan. Tedhak Siten bisa disamakan usia bayi sudah boleh menginjak tanah. Saat itu mungkin bayi sudah bisa duduk, sudah bisa memainkan tangannya, sudah merangkak, berdiri, tertawa dan bersuara. Bayi sudah punya keinginan meraih barang-barang dengan tangannya. Maka sejak saat itu bayi sudah boleh diturunkan dari gendongan, duduk di lantai atau istilahnya mudhun.

Maka disebut udhunan atau udhun-udhun. Jika menurutan baiknya, semestinya bayi jangan dulu diturunkan ke tanah atau lantai sendirian sebelum usia tedhak siten. Pas tedhak sitennya, barulah anak diperkenalkan dengan tanah. Ini merupakan pengalaman pertama bayi menginjak tanah, maka perlu diadakan selamatan.

Sarana Tedhak Siten sbb:

- Jadah 7 warna (atau ketan 7 warna. Maksudnya lengket-lengket).
Warna: merah, hitam, biru, kuning, putih, ungu, dan jambon (warna pelangi)
Lambangnya agar selalu lengkep pada orang tua dan bersujud kepada Allah.

- Jenang Bluwok. Terbuat dari tepung beras agak kental sebagi lambing batu ujian mengatasi
berbagai kesulitan hidup.

- Andha (tangga) tebu arjuna, tebu wulung. Tebu ini berwarna ungu, tidak untuk bahan
pembuat gula. Tebu wulung bertiang 2, dibuat 7 anak tangga. Tangga tebu wulung ini
harus dibuat dari 3 buah batang tebu wulung. Tak boleh lebih atau kurang. 2 btang untuk
tiang, sebatang untuk anak tangga. Buat 7 pasang sujen, masing-masing untuk 7 di tiang
kiri dan 7 di tiang kanan tangga.
Ini melambangkan selangka-langkah memulai hiduphingga dewasa, si anak selalu dalam
keadaan ‘urip manis’, bahagia hidupnya, tulus, beretika dan bercita-cita.

- Kurungan (kranji). Maksudnya supaya besoknya bukan menjadi penghuni LP. Wujud
kurungan ini seperti kurungan ayam, terbuat dari bambu. Di dalam kurungan dimasuki
barang-barang apa saja atau mainan. Barang pertama yang diambil si bayi, itulah pertanda
besoknya si bayi akan mendapat karunia menjadi atau berkarier di bidang apa.

- Bokor. Bokor ini diberi air dan bunga setaman. Airnya berasal dari 7 sumber mata air yang
berbeda. Ini sebagai perlambang si bayi bisa terlepas dari berbagai marabahaya.

- Udhik-udhik,
beras kuning bercampur dengan berbagai jenis dan nilai mata uang logam.

- Dandanan.
Diberi perhiasan berupa rajabrana seperti gelang, kalung, cincin, dsb.

Sesaji Tedhak Siten

1. Nasi tumpeng 7 macam
2. Bubur 7 macam: misalnya: bubur mtiara (merah), bubur ketan hitam, bubur kacang delai
hijau, bubur beras putih, bubur beras gula jawa, bubur sumsum, bubur salak (pathi kanji
gula jawa) dan bubur ketela pohon.
setampah jajan pasar
Kuthuk hidup atau ayam kecil
Kembang talon
Padi dan kapas
beras kuning dan uang

Urutan upacara Tedhak Siten

1. Tetahan: bayi diturunkan dari gendongan, lalu ditetah 7 langka.
2. Ngidah Jadah: bayi ditetah menginjak 7 jadah warna-warni dan jenang bluwok
3. Bayi dibimbing naik tangga tebu 7 tingkat. Pada tingkat ke 7 ada pini seph yang bilang
“wis-wis wis, andhane nganti rusak’. Makna acara ini, setelah basi mengalami
proses kedewasaan dan sukses meraih cita-cita mengatasi kesulitan.
4. Kurungan. Bayi dimasukkan ke kurungan untuk bermain dengan benda-benda didalam
kurungan agar mengambil mainan.
5. Mandi Kembang Setaman. Setelah bebas dari batasan kurungan, ia dimandikan bunga
setaman sebagai perlambang siap untuk bergaul dengan lingkungan sosial. Disebut juga
‘adus banyu gege’, biar lekas besar dan mandiri.
6. Berdandan. Anak diberi baju baru dan boleh memakai perhiasan. Pini seph bilang “wah,
putuku wis ayu/bagus’. Perlambang bayi mulai siap dolan-dolan.
7. Gelaran. Bayi yang sudah cakep didudukkan di tikar atau babut dan disediakan mainan
berbagai macam. Sesaji udhik-udhik beras kuning campur uang logam disebar-sebarkan
si bayi dan orang tuanya.

Acara selesai setelah dimohonkan restu pada para pinisepuh, barulah makan-makan 7 tumpeng aneka warna, tetapi jangan lupa tumpeng gudangan dan jajan pasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar