Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 03 November 2010

Wawancara Imajiner dengan Gajah Mada

Wawancara Imajiner dengan Gajah Mada

Mbah Wiji adalah seorang ahli arwah yang mampu mengundang sukma para almarhum. Banyak orang yang datang untuk mohon pertolongannya. Saat aku datang kepada Mbah Wiji, ia sangat kaget. Tak dia nyana, aku minta si Embah menghadirkan tokoh kontroversial kuno, Gajah Mada. Ia memandangku dengan serius, seolah ingin mengkoyak isi hatiku, adakah aku bergurau ingin mewawancarai

Kami sepakat pergi ke sebuah candi kuno di Trowulan. Tempat ini sangat sepi, menjurus agak singup. Namun pemandangannya cukup asri. Aku duduk dengan debaran hati yang sulit dilukiskan dengan kata. Sesaat Si Embah memberi kode bahwa Sang Mahapatih Gajah Mada segera hadir dalam tubuhnya. Aku memandang Simbah penuh curiga ketika ia yang sedang membungkuk dalam doanya, tiba-tiba duduk bersila dengan dada tegak dan kepala mendongak. Begitu gagah sosok yang diperlihatkan. Apakah ini merupakan sosok Gajah Mada yang berwibawa???

Ketika tanpa terduga ia menatap diriku dengan tajam dan sinar mata yang marah, aku berusaha bersikap tenang. Apalagi dengan suara besahaja, ia bertanya, “Kau bangunkan Aku, apa maumu?!!” Aku tidak boleh ciut. Meski debaran hati semakin kencang, kucoba melawan ketakutan ini. Jiwaku lebih kutekan bahwa semua ini demi Indonesia, demi Indonesia, demi Indonesia.

Aku : Aku ini penerus anda, Mahapatih Gajahmada. Aku juga punya cita-cita bhineka tungal ika. Aku ingin menggali semua keajaiban, kecerdikan, kegagahan dan kedigdayaanmu. Janganlah kekuatan dan cita-citamu kau bawa serta dalam pergimu. Tingalkan cita-cita muliamu kepada kami anak bangsa Indonesia!!!

GM : Bangsa Indonesia... (Gajahmada dalam ujud Simbah ini geleng-geleng kepala).

Aku : Sejak kau tingalkan, negeri Majapahit sering dilanda perpecahan. Kami pun akhirnya dijajah Belanda. Namun kami telah merdeka dan sekarang sudah abad 21. Negerimu kini bernama Republik Indonesia. Kami bertanya kepadamu, Mahapatih, bagaimana caraya agar bangsa ini bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain, jadi bukan bangsa yang gampang dinista. Bagaimana caranya agar pemimpin kami tidak berjiwa koruptor, tetapi berjiwa seperti seorang Gajahmada!!

GM : (ia kini tak lagi menampakkan wajah marah. Ia memandang ke langit).
Heemmm.

Aku : Patih punya pengetahuan luar biasa luas, inteligensi level tinggi, sangat terperinci mengatur negara. Saya yakin, Patih memahami data dengan tepat, cermat dan berdasar. Saya juga yakin, anda punya daya ingat luar biasa hingga mampu menguasai ilmu baru dengan cepat dan mudah. Bolehkan saya bertanya, cara misterius apa yang anda capai untuk mendapatkan ilmu-ilmu itu?

GM : Tuhan yang beri. Tak pernah ada orang yang rinci yang mengajarinyaku. Aku hanya duduk bersila memohon pada Tuhanku tentang apa yang aku pikirkan. Lalu semuanya ada padaku!

Aku : Hanya begitu??? Pastinya tak akan bisa ditiru oleh orang generasi sekarang. Orang modern yang suka bertapa, mereka akan jadi dukun.

GM : Harusnya kamu bersyukur, kini jaman demokrasi, semua orang bisa berkreasi. Aku hidup di jaman kerajaan. Penguasanya adalah raja, absolud. Di otakku dulu sudah ada rumusan hukum, tehnologi, system ekonomi, peradaban dan pembangunan manusia berkwalitas. Aku buat proposalnya, bahkan rajapun tak paham isi otakku, rajanya mumet, apalagi rakyatnya.

Aku : Dimana berkas-berkas proposal itu sekarang? Saya sangat tertarik!!!

GM : Sekarang??? Bahkan carik-carik keraton pun langsung membakarnya, agar tak ketahuan bahwa mereka teman kebo-kebo di sawah (ia tersenyum).
(Maksud teman kebo-kebo : otak kebo --- bodoh)

Aku : Baiklah. Sebenarnya ilmu apa yang pernah anda pelajari?

GM : Ilmu kanuragan dari guruku, lalu jadi prajurit. Disela-selanya, aku berburu orang pintar dan orang yang mikir. Kucatat saja di otak. Orang China, India, Arab, Mesir dan Yunani pada datang ke Majapahit. Mereka bawa otak pintar seperti bikin kapal dan bawa buku-buku pintar. Aku pinjam yang boleh dipinjam, aku rampas jika menolak diminta. Aku juga punya ilmu sedot ngelmu. Ketika datang orang asing pinter, ada pertapa hebat, ada Einstenin di jamanku… mereka kuundang makan, tetapi diobati tidur, lalu kusedot ilmu pinternya. Jadi belajarku dari orang-orang pinter di seluruh dunia.

Aku : Wah tapi dapat ilmunya koq nggak jujur begitu, Patih?

GM : Aku kayak hidup sendiri di jamanku, yang lain adalah tanggunganku! Aku bekerja dengan otak, dengan keberanian dan kekuatanku. Yang terberat adalah berpikir. Berpikir itu pekerjaan berat, maka hanya sedikit orang yang mau menggunakan otaknya. Aku memang pencuri, tetapi aku mencuri ilmu. Ilmu curian itulah yang kupakai membangun Majapahit, membangun Nusantara!!! Sebelumnya, kita hanya bisa bikin perahu kecil di sungai. Padahal kita ingin melaut ke seberang! Paham???

Aku : Apakah Sang Ratu Tribuana Tunggadewi dan Hayam Wuruk secerdas anda?

GM : Saya tidak mengatakan beliau adalah kebo, tetapi terpaksa kubilang bahwa beliau harus diperlakukan seperti anak kecil, dan para menteri wajib diperlakukan seperti kebo. Yang diperlakukan seperti raja adalah rakyatku!!!

Aku : Anda merasa yang paling super?

GM : Harus kau tahu, sejak kecil sudah diajari ilmu moksa, itu rogoh sukma. Menginjak dewasa sudah fasih. Jadi terbang saja ke Tibet, India, bahkan ke planet. Well, kamu pasti nggak percaya… aku diusir oleh Fir’aun karena terlalu keras mengritik kekejamannya. Lalu mampir ke Pompey melihat kota hancur diterjang gunung Vesuvius. Itu seperti Mbah Marijan diangkut Merapi. Aku bercanda dengan Yulius Caesar, diadu lawan 10 banteng galak. Aku jadi matador, tak kurang dari 15 menit, 10 banteng sudah klenger di tanganku!

Aku : Apa buktinya?

GM : Tak semua kukunjungi. Aku hanya manusia, bukan malaikat. Jika aku sampai ke semenanjung Yucatan di Amerika Tengah, aku belajar ilmu perbintangan dari bangsa Maya, hasilnya adalah kejelian Sultan Agung membuat kalender Jawa berdasarkan putaran bulan. Ia belajar dari tulisan yang kutinggalkan!

Aku : Ok. Kata Patih tadi, rakyat harus diperlakukan seperti raja. Seperti idiom pembeli adalah raja. Darimana sumber idiom anda itu, bagaimana awalnya?

GM : Mental pegawai kita kan yesman. Aku tidak mau dikelilingi mereka. Aku selalu percaya pada otakku karena aku belajar. Para pemimpin kita (presiden, raja dan menteri atau politisi), mereka bicara karena ada kepentingan, tak peduli rakyat percaya atau tidak! Di jamanku, para raja sangat beruntung karena rakyatnya tidak bisa berpikir. Para abdi dalem juga tak perlu berpikir, karena ada raja! Tetapi aku bukan sekedar pagawai raja. Aku melindungi raja seperti melindungi anakku, aku cari uang untuk beaya makan rakyat. Aku cari emas demi beaya Negara, demi beaya kesenangan raja yang suka foya-foya. Tak selalu seorang raja membawa amanah bagi rakyatnya. Celakanya aku hidup di bawah ratu wanita dan raja yang masih anak-anak!!! (Tribuawa Tunggadewi dan Hayamwuruk yang masih belia)

Aku : Jika boleh memilih, anda ingin hidup di bawah raja siapa?

GM : Jika Aristotels bilang ada benua Lemuria dan Atlantis, ya, aku ingin merasakan hidup di dunia damai yang megah dan maju seperti disana. Tetapi mengapa kamu tidak nanya kenapa aku tidak diandaikan menjadi raja? (aku tersipu)

Aku : Jika Gajahmada menjadi raja, saya sudah tahu jawabannya!!! Tetapi mengapa seolah Majapahit tidak meninggalkan peradaban fisik apapun bagi bangsa ini?
Maaf Patih, dalam hati, saya ingin ada bangunan seperti Borobudur, Manchu Pichu, Tembok China atau Taj Mahal made by Gajahmada atau jamannya, mengingat anda belajar hingga ke Mesir, ke China, ke bangsa Maya, ke Astez….. Jadi, tinggalan Majapahit tak sekedar jebolan candi di Trowulan ini. Dan, eh itu tuhh… tuan Patih, itukah wajah anda…, seperti yang kami gambarkan selama ini???


GM : Hahahaha… kamu percaya wajah Yesus Kristus seperti itu? Majapahit meninggalkan adat dan budaya. Maka ada banyak kidung, banyak tarian, ada reog, ada gamelan, ada batik, kayu ukiran dll. Falsafahnya untuk hidup bersahaja, beragama dan berbakti pada orang tua.

Aku : Anda lebih banyak menekankan ilmu kanuraga, tidak membangun ekonomi atau ilmu dan tehnologi, sehingga bikin kapalpun harus nyontek kapal-kapal China.

GM : (wajahnya tampak marah). Sidharta Gautama itu benar. Ia pisahkan manusia menurut kastanya. Aku melihat, seperti itulah bangsa-bangsa diciptakan. Bule diciptakan sebagai manusia berotak super, bisa bikin satelit, diterbangkan dengan roket, bisa meneropong jagat semesta, membangun stasiun angkasa, lalu mengkloning makhluk hidup. Orang China diciptakan sebagai bangsa berbudaya tinggi yang punya otak kuat untuk berdagang. Bangsa Afrika lahir sebagai manusia bertenaga kuda, bangsa kuli. Kita ini bangsa yang hanya bisa jadi pemakai dengan cara menjual hasil bumi. Aku harus menerima kenyataan ini!

Aku : Lho, tiba-tiba anda meremehkan bangsa sendiri.

GM : Jika semua rakyat kita berotak super dan sekuat gajah seperti aku, kita bisa bersaing dengan Amerika! Celakanya, Gajahmada hanya aku dan hanya lahir di abad 14!!! Aku menanggung rakyat dengan tingkat kepuasan terpenuhinya kebutuhan paling minimal. Tidak banyak maunya, tidak banyak tanya, dan tidak ingin tahu banyak-banyak! Asal kumpul dan makan, itu cukup! Hampir semua falsafah Jawa sangat sepele, nrimo ing pandum, wani ngalah luhur wekasane, kakehan gludhug kurang udan. Tidak ada falsafah time is money. Majapahit memang negara besar, tetapi tidak kaya, bukan kerajaan super, tetapi sederhana saja. Kalau raja-raja Nusantara takut pada Majapahit, itu karena ada Gajahmada!!

Aku : Negara besar maksudnya diukur dari luasnya? Dari mana anda punya ide bersumah palapa itu, lalu dari mana anda punya uang untuk membangun kapal perang, membentuk prajurit dan bernafsu menaklukkan nusantara?

GM : Ini hubungannya dengan Indonesia. Kalau luas Indonesia dibentuk dari bekas jajahan Belanda, itu hampir sama dengan Majapahit. Awal Sumpah Palapa Gajahmada itu adalah ketika dengan pesawat moksa, aku terbang ke wilayah nusantara. Kulihat wilayah ini senasib secara budaya dan geografis, tetapi berdiri sendiri-sendiri, tidak ada yang memimpin. Ada puluhan ribu pulau, kaya sumber alam. Daratannya subur, penduduk banyak, areal hutan luas, tambangnya melimpah. Aku gusar dengan ramalan paman Raja Joyoboyo, negara ini akan dikuasai bangsa asing karena tetapi pendudukya pasif. Maunya, ramalan itu kulawan! Caranya nusantara harus disatukan, biar kuat nahan serangan asing. Maka gudang emas kerajaan diambil untuk membuat kapal perang, untuk beayai penyatuan wilayah. Kami cari sumber beaya seperti tambang emas untuk bikin alat transportasi dan persenjataan. Ilmu kanuragan diajarkan, teknologi dikembangkan. Gajahmada tidak mau tanah pusaka ini dijajah bangsa asing!

Aku : Sebenarnya wilayah mana saja yang anda taklukkan?
GM : Itu bukan penaklukan, itu penyatuan. Sekali lagi, itu penyatuan. Aku benci jika dibilang menaklukkan, ekspansionis, bahkan Machiavellis.
Aku : Maka jangan katakan Majapahit menjajah nusantara, begitu bukan? Saya setuju!

GM : Saya satukan Bedahulu/Bali, Lombok (1343), Nusa Tengara. Ke Sumatera ada Palembang, Swarnabhumi/Sriwijaya, Tamiang, Samudra Pasai, raja-raja kecil di Sumatera, Pulau Bintan, Tumasik (skr Singapura), Malaya. Di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.Lalu Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo. Jadi dari Sulewasi, Maluku dan Papua. Ada juga pulau-pulau yang sekarang masuk wilayah Philipina.

Aku : Jadi apa makna sebenarnya dari Sumpah Palapa itu?
GM : Aku tak akan bahagia bila nusantara belum kusatukan. Aku sangat takut, jika tidak bersatu, negara ini akan dijajah bangsa biru seperti diramalkan Joyoboyo!
Aku : Ternyata terbukti ya?? Kabarnya anda yang bikin kesatuan Bhayangkara??
GM : Aku menjadi prajurit Bhayangkara, sudah ada saat aku datang, tetapi aku yang mengembangkan secara rinci, istilah sekarang memanajemeninya, lalu menjadikannya sebagai lambang prajurit.
Aku : Majapahit tidak menaklukkan, tetapi menyatukan. Itukah Bhineka Tunggal Ika?

GM : Yang berbeda adalah kepentingan rajanya, pemimpinnya. Buku sejarah mana yang tidak mengandung kebohongan? Prapanca hidup di jamanku, tetapi apakah ia menulis tentang aku dengan benar? Bhineka Tunggal Ika sudah terkikis. Kata Bhineka sekarang menjadi ajang demo anarchis.

Aku : Politik memang mahal, tuan Patih
GM : Kalau sekarang, bahkan untuk kalahpun politikus harus keluar banyak uang.
Aku : Agar Sunda menyatu dengan Majapahit, anda perlu tipu muslihat dengan membuat perkawinan heroic Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka?

GM : Kamu mau bicara Bubat? Sekarang, pilih nusantara bersatu atau membela segelintir raja kecil dengan puteri cantik? Para empu tidak ikut perang di luar lingkungan kerajaan, tak pernah ikut ke medan laga di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali atau Lombok. Maka tak ada rekaman memilukan selain di Bubat. Celakanya, mereka hanya penulis infotainment, gossip belaka. Coba, berapa banyak catatan Pasundan, Pararaton, Negarakertagama atau kitap-kitap di Bali dan Lombok yang bisa kau temukan. Ceritanyapun beda. Ada yang bilang Diah Pitaloka bunuh diri, ada yang bilang ia melukai aku hingga ajalku… lelucon apa itu?

Aku : Jadi yang benar bagaimana tentang perang Bubat itu?

GM : Semua benar, asal bulan yang lelucon. Kami semua punya akar dan pribadi sendiri. Kami semua punya maksud. Andai aku tahu waktuku, kapan matiku, aku akan berlari menyatukan nusantara. Hanya gara-gara wanita, aku sedih ketika harus dipecat saat setumpuk cita-cita baru separuh jalan.

Aku : Anda tidak mau membeberkan rahasia sesungguhnya di balik perang Bubat?
GM : Garis besarnya seperti itu. Aku kan juga lupa, wong sudah 600 tahun….
Aku : Patih, sebenarnya anda itu dipecat gara-gara wanita? Mengapa anda tidak melanjut cita-cita yang baru separuh jalan itu tanpa menjadi seorang patih?

GM : Tanpa hegemoni, aku bisa apa? Paling jadi juru kunci desa, tukang pidato kalau ada orang mati, tukang ngusap rambut kalau ada yang menangis.

Aku : Kabarnya anda adalah anak lembu peteng seorang raja.

GM : Mbelgedes. Ada sejumlah dongeng yang ngawur-ngawur. Bahkan aku direbut banyak daerah berasal dari Sumatera kek, Kalimantan kek… Ada yang bilang kupingku gede kayak Gajah, maka dinamai Gajah.

Aku : Anda lahir di desa Mada? Benarkah isteri anda Nyi Bebed.

GM : Waktu lahir aku masih baby, nggak tahu ya. Tentang isteri, ah itu sih urusan pribadi.

Tiba-tiba guntur menggeledeg. Gajah Mada kaget, Mbah Wiji tersadar. Akupun terguncang. Tiba-tiba-tiba aku telah kehilangan Gajahmada.

Dibuat oleh NONIRuli.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar