Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 15 Desember 2010

Mimpi Besar Patih Gajahmada Wawancara Imajiner

Wawancara Imajiner dengan Gajahmada 2
Mimpi Besar Patih Gajahmada


Seminggu setelah wawancara imjiner dengan Gajahmada, aku mengajak si pemanggil arwah Mbah Wiji, untuk menemui Mahapatih Gajahmada lagi. Tidak begitu sulit untuk menghadirkan beliau kembali, apalagi beliau sudah mengenal aku dan bersedia melanjutkan wawancaranya.

Aku : Aku mohon maaf tuan jika mengganggu tidurmu kembali. Aku belum puas dengan wawancara yang pertama. Aku masih penasaran, karena sulit bagi kami untuk membuat sebuah batasan tentang nilai sebuah kesatuan.

GM : Sudah kubilang tho, rumusan peradaban dan pembangunan manusia berkwalitas ada di otakku.

Aku : Yang tersimpan itu, berikan pada kami. Aku ingin menyerap ilmu anda, tetapi aku tidak punya kemampuan sedot ilmu.

GM : Hayahhh… manusia sekarang bisa apa? Hanya orang kuno yang punya cipta karya klasik. Itu karena semua hidup hanya ditujukan untuk keagungan Yang Kuasa, tidak mata duitan dan egois seperti kamu! Kamu hanya bisa nguri-uri, itu jika kau hargai. Kalau tidak, ya udah, diambil bangsa lain!

Aku : Aduh patih, anda mengejek kami rasanya! Tetapi itu benar patih. Rasanya kami tidak terbiasa dengan hak paten atau dokumen penulisan sejarah. Kami kehilangan jejak sejarah, bahkan jejak sejarah anda.

GM : Walah-walah…, baru terasa setelah diklaim Malaysia? Tetapi apa kamu punya catatan sejarah bangsamu abad 1 SM, 1000 tahun atau jaman terciptanya Pawukon? Manusia Sangiran sudah lebih 200 ribu tahun lalu. Habis itu jogetnya mana kau tahu? Sadar-sadar, kamu sudah berada di bahwa Ken Arok, ya kan?

Aku : Kami belajar sejarah dari prasasti, catatan Ptolomeus, dari orang Mesir, pedagang dan prajurit kerajaan China, juga beberapa buku kuno. Kata Ptolomeus, kita orang sudah maju, bisa dagang sampai Afrika. Kami juga punya dongeng, kami sudah berbudaya sejak jaman Pithecanthropus Erectus, sejak terciptanya pawukon jaman raja Watugunung. Juga cerita arsitek huruf Jawa Ajisaka. Tetapi mengapa anda tidak menciptakan budaya penulisan sejarah bagi masa sebelum dan sesudah Majapahit? Rasanya, saya ingin menyalahkan anda, tidak meninggalkan catatan kuno minimal 1000 tahun sebelum jaman Majapahit.

GM : E e…, memang aku buta huruf apa…? Kau pikir Majapahit tidak punya pujangga? Banyak itu, penulisannya pun juga bejibun, hasilnya ada jutaan lontar.

Aku : Oh ya? Kalau begitu, Majapahit benar-benar kerajaan besar. Lalu dengan huruf apa lontar itu ditulis, huruf latin, huruf Jawa atau China? Bahan tulisannya apa?

GM : Kalau aku curi buku orang China, aku belajar huruf dan bahasa China, juga yang dari Mesir, India dan Romawi. Adityawarman dan Nala bisa mengikuti pintarku. Prapanca bisa menulis. Kamu tahu, Ajisaka itu hidup 5 abad sebelum kami. Tulisan jawa hanacaraka-nya sudah berkembang pesat. Para pujangga bisa nulis apa saja, tetapi nggak ada yang model Ziarahnya Iwan Simatupang.

Aku : Ihik. Tetapi, apa tinggalannya, apa hartanya, mana lontarnya? Mengapa kerajaan-kerajaan penerusnya miskin, tidak kaya seperti kerajaan Inggris atau Brunei. Keraton Solo malah disubsidi, keraton Yogya diobok-obok keistimewaannya. Dan mana itu catatan yang jutaan dari Majapahit?

GM : Kalau habis karena perebutan tahta kerajaan. Kalau hilang dirampok penjajah. Mereka memang biadab. Itu seperti orang Spanyol dan Portugal, setelah menjajah, merampas hartanya, lalu membumi-hanguskan budaya-budaya Maya, Astez dan Inca hingga bangsa itu kayak antah berantah. Belanda juga begitu.

Aku : Jadi orang bule bisa kaya, karena merampas harta kerajaan kita?
GM : Kaya dari hasil rampasan harta karun di negara-negara Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Harta ratusan kerajaan nusantara dirampas Belanda, termasuk emas-emas kerajaan Majapahit. Disimpan di Javache bank, lalu dirampas Jerman karena menang perang lawan Belanda. Pada Perang Dunia II, Jerman dikalahkan AS, kini harta nusantara terhimpun di bank sentral AS, Fed Bank.

Aku : Wah… benarkah, artinya kita bisa minta kembali harta kerajaan nusantara itu?

GM : Dulu Soekarno pernah dijanjikan Kennedy, tetapi keduanya mati tak wajar. Aku rasa Goerge Soros berperan disitu. Kamu mau ikut-ikutan cari harta kerajaan nusantara? Tunggu sampai Soros mati. Harta yang di Fed Bank, bisa buat mbangun seribu kota seperti New York. Majapahit di jamanku sangat kaya. Disuruh membangun seribu Taj Mahal, mampu itu!!!

Aku : Kenapa tidak membangun 3 Taj Mahal saja?
GM : Baru akan kubuat, eee, aku sudah terlanjur dipecat….
Aku : Bagaimana dengan budaya kita, juga dibakar Belanda?

GM : Kami punya jutaan buku-buku, baik ditulis para empu atau yang aku rampas dari filsuf-filsuf asing. Sedihnya, kita tidak punya budaya membaca, jadi ketika buku-buku dirampas dan dibakari, semua diam nggak ada yang teriak. Masih untung ada budaya tutur tinular, itu yang tidak bisa dipenggal. Tetapi bahasa tutur selalu berubah sesuai penuturnya.

Aku : Memang begitu patih, sejarah adalah milik penguasa yang menang.

GM : Suharto itu tentara, dia berjiwa ksatria, termasuk ksatria paling lihai nutupi boroknya. Masih untung dia tidak merajakan diri, meski merasa lebih tinggi dari raja-raja Solo atau Yogya. Sejak dulu para bangsawan dan pejabat setingkat lurah saja, mereka sudah merasa seolah manusia paling tinggi derajadnya. Maka aku menggugah rakyatku untuk menjadi manusia Gajah Kencana dengan 15 prinsip sikap hidup ksatria sejati.

Aku : Kenapa prinsip ksatria sejati tidak mengakar menjadi sikap hidup dan adat budaya? Benarkah kami jadi gagap karena negara kami adalah tempat persilangan budaya berbagai bangsa yang pada datang kesini?
GM : Gagap…? Apakah kamu sudah tahu, apa isi 15 prinsip hidup sejati itu?
Aku : Belum patih…, kalau tahu, pasti tidak tanya!

GM : 15 Prinsip sikap ksatria sejati itu tercermin pada para pejuang 45 bangsamu yang membuat negaramu merdeka dari cengkeraman Belanda dan Jepang, mereka rela mati tanpa pamrih! Sekarang, pribadi Gajah Kencana hilang lenyap dari kamu-kamu, makanya pada korupsi! Padahal sebenarnya gampang diajarkan. Dengan tehnologi informasi, satukan bangsamu. Kan ada televisi. Syaratnya satu… tv bukan sekedar alat bisnis! Salah meramu, itu jadi boomerang!

Aku : Tapi sekarang, semua dinilai dengan uang. Kalau lurahnya kaya punya helicopter, dia punya derajad tinggi! Kalau hanya bersepeda onthel, disuruh nyapu halaman pun, mau. Ini pasti tidak terjadi pada jaman anda.

GM : Aku beri tanah lungguh bagi abdi dalem negara. Rakyat diminta membuka lahan, hasilnya jadi milik rakyat. Negara belum tentukan pajak, rakyat tahu seberapa banyak memberi upeti. Lalu aku ciptakan strandart pajak untuk membangun negara. Lha, di jaman Suharto itulah awal berubahnya sikap dan adat budaya kamu! Semua berbisnis pakai duit orang lain! Itu jadikan kamu sebagai bangsa pencari duit yang egois, tak kenal ampun dan tak kenal kemanusiaan! Tetapi itu hanya sebagian kecilorang. Mengapa? Karena dikejar target jatuh tempo. Kamu jadi berangasan, nerjang kiri kanan, harga dirimu dijual dengan duit. Jadi terkenal lebih mahal daripada sekedar malu. Contohnya Gayus Tambunan. Kian terkenal, kian tertawa di balik penjara-penjaraannya.

Aku : Penjara-penjaraan?
GM : Kalau mobil, mobil-mobilan. Penjara Gayus kan penjara-penjaraan, itu penjara mainan!!! (aku tersenyum)
Aku : Patih ngikuti berita kami terus, ya…??? Jadi apa yang seharusnya dipelajari oleh bangsa ini?
GM : Satu yang harus diterapkan, ulet! Rumusnya itu. Ulet itu akan membawa kemana saja kamu mau! Dulu aku ulet, ulet, ulet, tekun kunnn…. Celakanya falsafah nrimo ing pandum hanya diartikan, seberapa dia terima rejeki, lalu pasrah! Itu salah besar!
Aku : Lho, kata patih dulu, nrimo ing pandum itu falsafah yang sepele!

GM : Karena bunyinya hanya begitu, orang ngartikannya ya hanya segitu. Tetapi bagi yang punya otak, paribasan itu sangat tajam! Nrimo ing pandum itu maksudnya perjuangkan sampai seulet-uletnya pandummu, nasibmu, bakatmu, hidupmu, sampai titik darah terakhir. Maka kamu akan dapat pahala yang sebesar-besarnya hingga sukses lahir bathin. Inilah yang tidak kamu ketahui.

Aku : Wah, berarti anda mengoreksi paribasan nrimo ing pandum ini bukan lagi sekedar falsafah yang sepele bukan??

GM : Ya bisa saja. Aku akan bilang salah kalau aku salah! Aku ini ksatria, setiap kesalahan adalah pelajaran berharga. Aku tak bisa sejauh ini tanpa kesalahan! Repotnya orang sekarang, kesalahan ditutup jangan sampai bau. Kalau dipeti-eskan, besok diulang lagi. Gajahmada tak pernah mengulang kesalahan! Gajahmada adalah manusia paling ulet. Aku tidak pernah berhenti berusaha dan belajar sampai semua berada di tanganku!

Aku : Bagaimana cara menjadi manusia ulet?
GM : Hawa di dalam jiwamu harus bergelora, merah menyala meraih mimpimu!
Aku : Apakah Sang Ratu Tribuana Tunggadewi dan Hayam Wuruk semenggelora itu?

GM : Sudah kubilang bahwa beliau harus diperlakukan seperti anak kecil. Jadi aku harus mendidik beliau meraih mimpinya!!! Sayangnya, tanpa mimpi sudah jadi raja. Hayam Wuruk dilahirkan untuk menjadi raja! Apalagi? Jangan heran jika beliau kurang bercita-cita! Beliau tak pernah bermimpi, tak punya cita-cita megah sebagaimana aku punya cita-cita nusantara bersatu!

Aku : Waduh, jka raja saja tak punya cita-cita, apalagi rakyatnya!
GM : Kamu….! Kamu punya mimpi apa? Bangsamu punya mimpi apa, presidenmu, DPRmu, TVmu, hakimmu, tentaramu, lurahmu, rakyatmu punya mimpi apa? (aku gelagapan).

Aku : Oh, banyak tuan…buaanyaaaakkk sekali! Mbah Surip saja bermimpi jadi insinyur pertambangan, bekerja di Amrik, meski sampai mati tetap sebagai gelandangan ngamen, kerjanya menggendong orang. Wafatnyapun sambil menggendong namanya yang menjulang tinggi.

GM : Soekarno bermimpi meneruskan kejuanganku dengan Pancasila, lalu dipolitisir Suharto dengan P4 apa itu…?
Aku : Ok Patih, jadi apa yang salah dari kami?

GM : Dulu raja berkuasa seumur hidup, kecuali dikudeta atau dibunuh. Negara kamu baru ngrasakan demokrasi sepuluh tahun saja, malah muncul wacana presiden 3 kali masa jabatan. Selalu ada yang mikir mundur… seperti itu mental yesmen, sering muntah tai….

Aku : Patih koq jorok begitu sih...? Apakah itu salah satu dari 15 prinsip ksatria sejati?

GM : Kamu jangan sok ngingatin Gajahmada. Kamu harus tahu, ini adalah sikap amarah besar yang tak terkendali karena aku malu dan kecewa pada sikap yang mundur. Para kurcaci jika bernyanyi persis kayak teman kebo-kebo di sawah. Wataknya Sengkuni. Selalu ada Sengkuni di tiap kekuasaan! Di jamanku, setiap kali ada pemberontakan, entah itu Daha, Kediri, Singosari hingga Majapahit, selalu dimulai dari orang dalam. Watak Sengkuni membawa kesialan, karena mereka adalah pembisik busuk yang dekat dengan kekuasaan. Inilah bahaya laten kekuasaan!!!

Aku : Patih, jangan marah melulu. Kalau patih ikut demo, jangan-jangan ikut bakar-bakaran. Negara ini tidak akan selesai dengan kemarahan. Kami mencari solusi.

GM : Kalau kamu mendidik anak, maka harus dilecut biar belajar. Kalau menteri salah, harus diapain sementara bapaknya bengong melulu? Itulah kalau jadi pemimpin tetapi tak punya mimpi. Tetapi ingat, mimpinya bukan model Mbah Surip. Mimpi seorang pemimpin adalah dimilikinya pikiran besar bagi membangun negara dan sanggup mewujudkannya! Soekarno punya mimpi besar memerdekakan negaranya, itu tercapai. Ia sukses membuat rakyat mencintai negaranya, berani mati demi bangsamu. Tetapi ia tak punya mimpi membangun negaramu menjadi seperti apa?

Aku : Kami punya UUD 45 dan Pancasila!

GM : Apa sesederhana itu? Masih ada jutaan konsep yang harus cepat jadi Undang-undang. UU itu bukan sekedar haluan, bukan sekedar batasan, tetapi sebuah system yang terus diperbaharui sesuai dengan perkembangan jaman. Aku bilang kamu ini bangsa pemakai, apa kamu mau dibilang begitu terus??? Nyatanya kitap KUHPmu juga masih tinggalan londo? Kamu punya Habibie, malah disuruh jadi wapres, bikin pesawatnya bubar. Kamu punya siswa yang cerdas, juara olimpiade, juara bikin robot sedunia. Tetapi apakah bapakmu mikir mau makai potensinya, bikin pabrik besar untuk ekspor?

Aku : Kata Dennis Lombard, bangsa kami menjadi tempat persilangan budaya. Kulturnya jadi beragam dan terlalu mudah menerima pengaruh asing. Jadi, dimulai darimana membangun negara ini, Patih?

GM : Kamu punya modal besar, tetapi jangan sibuk membangun imperium pribadi. Aku lihat itu anak-anak SD, mereka merasa tidak cinta pada negaranya, lebih suka jadi orang Amerika! Apa alasannya? Karena di TV mereka merasa jijik, menilai negative setiap hari direcoki berita demo-demo anarchis, tawuran, penggusuran PKL, bentrok dengan polisi, pembunuhan mutilasi dan sejuta kebobrokan pejabat. Orang TV kayak nggak ngerti ya, itu berita…bikin anak-anak jadi benci pada negaranya sendiri, karena ternyata bangsanya suka berantem, berangasan!!!


Aku : TV punya andil besar merusak mental bangsa?

GM : TV swasta hidup subur dengan mengutamakan segi hiburan. Sampai-sampai kemiskinan dan tangis dieksploitasi jadi media hiburan. Anak-anak SMP pada kepingin jadi artis karena duitnya banyak! Rasa cinta kepada negara jadi luntur. Siswa tidak saling bergaul selain di sekolah. Mereka asyik di internet karena melihat dunia lain yang lebih indah dan mengagumkan daripada negara sendiri.
Aku : Patih…
GM : Kalau kamu mau jadi presiden, kamu mau kampanye apa? Anti korupsi, pejuang rakyat bawah… dan tetek bengek lainnya…??? Wkkk… (GM tertawa terbahak). Rakyatmu lebih doyan duit daripada keteguhan keyakinan. Mengapa? Karena mau makan saja sulit apalagi mau hidup? Nggak beda nyoblos Si A atau B, mereka tetap terpinggirkan. Lebih baik terima duit langsung sekarang.

Aku : Patih, anda hidup di jaman yang sama sekali berbeda dengan jaman sekarang!
GM : Jangan dikira aku tidak mengikuti bangsa ini sampai kapanpun.
Aku : Kalau begitu siapa presiden Indonesia 2014?
GM : Kenapa kamu tidak bertanya kepada paman raja Joyoboyo? (aku tersipu)
Aku : Ok. Apa hubungan antara anak-anak yang tidak mencintai negaranya dengan kampanye menjadi presiden? Lalu bagaimana cinta tanah air anak-anak di jaman anda?

GM : Apa akibatnya jika siswa nggak cinta negaranya? Kamu bisa njawab sendiri! Bangsamu ini sebenarnya mudah diatur, mudah diajak kerja. Presiden bilang, rakyat siap! Jika kamu punya system rambu-rambunya, nyawa bangsamu berharga mahal di dunia dan di akhirat. Bukan mati konyol model bom bunuh diri, atau mati ngenes jadi TKI.
Aku : Kita harus menyiapkan kader sejak bayi lahir?

GM : Waktu kecil, setiap hari aku dihajar dengan ilmu-ilmu kanuragan tingkat tinggi. Kalau anak sekarang digituin, pasti sudah klenger gak sempat teriak! Aku punya pengalaman masa kecil, bermain mencari kodok, angon kebo… Jangan dikira masa kecil tidak punya pengaruh pada dewasanya! Saat angon kebo itulah, aku punya mimpi besar. Kulihat arak-arakan kereta raja ditarik 6 kuda, diiringi ratusan prajurit. Tetapi itu hanya sekejap, aku kecewa, koq hanya segitu, maunya sampai capek dan ngantuk, arak-arakan itu belum selesai. Lalu aku bermimpi menjadi kepala prajurit, pasukannya jutaan. Jadi kalau pawai bisa seharian!

Aku : (Aku tertawa terbahak. Gajahmada tersenyum)
Jadi untuk membangun negara harus dimulai dari pemimpinnya dulu, tuan?
GM : Seorang pemimpin yang punya mimpi besar, pasti sudah tahu, apa yang harus diperbuat untuk negaranya! Rakyatmu sudah sangat memprihatinkan, jangan tunggu datangnya Satrio Paningit. Allah pasti menciptakan pemimpin di era millennium ini. Maka, carilah pemimpinmu! Seorang pemimpin yang tegas dan tidak peragu, cepat, lugas, tangkas, cerdas, disiplin, punya konsep dan punya mimpi besar menjadikan bangsamu sebagai bangsa yang besar!

Aku : Rasanya sudah tidak sabar lagi, tuan. Kami cukup lama menunggu seorang pemimpin! Hinga kini belum ada pemimpin yang lahir dari bawah. Semuanya diusung partai. Padahal tidak ada sekolah partai. Partai punya nama buruk, tendesinya cari kuasa, membagi kuasa, lalu jika sudah duduk lupa berdiri, tak bisa mimpin, lupa sama rakyat, malahan salaman sampai lupa, wanita bukan mukhrimnya dicaplok, akibatnya jadi guyonan gayeng di Amrik sana.

GM : Hahaha…baru secuil bisa bicara di tv, jadi ketua partai itu gampang banget jadi menteri, itu namanya ‘pemimpin guyon’ hasil karya mimpi jejadian.

Aku : Patih, mengapa anda seolah mengelak kata ‘kita’ yang selalu kupakai? Anda selalu bilang ‘kamu’ untuk bangsa Indonesia? Apakah anda menolak nama Indonesia?

GM : Karena aku menamakan negara ini Nuswantara. Itu nama berasal dari muzijat Allah. Aku selalu yakin pada mukzijat Allah. Aku selalu mengawali hari-hari hidupku dengan doa. Allah yang menentukan. Kalau aku hanya diizinkan berjuang bagi negara selama masa jabatananku sebagai patih, Allah juga yang menentukan, bukan karena Diah Pitaloka! Sekarang sudah waktu azan magrib, marilah kita shalat dulu! Besok disambung lagi.

Aku kaget! Sungguh sebuah pernyataan yang sama sekali tak terduga. Gajahmada mau shalat? Aku termangu, apalagi Mbah Wiji sudah terbangun dan kini minum teh manisnya. Mahapatih sudah hilang lagi di hadapanku. Sayup terdengar azan magrib dari kejauhan. Aku bergegas mengambil air wudlu. Tetapi pikiranku dibayangi pernyataan, Gajahmada mau shalat! Apakah ia seorang muslim??? (besok disambung lagi? OK atih, aku siap wakuncar dneganmu lagi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar